Oleh: Linda Khadeeja

Kajian Siroh Bersama Ust. Budi Ashari, Lc

Al-Quran adalah mukjizat dalam setiap hurufnya dan memiliki makna yang sangat luar biasa dan besar.

Sepertiga isi Al-Qur’an isinya sejarah. Tapi Al-Qur’an bukan buku sejarah. Sehingga cara Allah bertuturnya juga sangat istimewa dan cara yang unik.

Al-Qur;’an adalah panduan dan petunjuk bagi orang yang beriman. Yang akan memandu dalam setiap perjalanan hidup di sepanjang zaman.

Kisah terbaik pilihan dan ibroh teragung yang dipotret oleh Allah dalam Al-Qur’an adalah kisah Yusuf. Yang di kumpulkan dalam satu surat tersendiri yaitu surat Yusuf. Yang terdiri 111 ayat.

Ulama, sahabat juga Rasulullah dibeberapa peristiwa mengambil keputusan berdasarkan kisah Yusuf ini.

Hingga istri beliau Aisyah RA, ketika beliau difitnah dan atas tuduhan dusta pada peristiwa Haditsul Ifki.

Maka, dalam Qiyamul Lail beliau membaca satu ayat dalam surat Yusuf ini diulang-ulang dan kemudian beliau menangis di sepanjang beliau mengulang ayat itu.

Selain itu ketika Rasululah di Mekkah berda’wah dan diganggu oleh kaum Quraisy, lalu Rasulullah berdoa dengan kisah Yusuf ini:

“Ya Allah, bantu aku mengalahkan orang-orang Quraisy itu dengan 7 tahun yang sulit di masa Yusuf”

Sehingga orang Quraisy juga merasakan masa sulit itu, tapi mereka juga tidak kunjung beriman.

Selain itu pada peritiwa penting lainnyayaitu saat Rasulullah mulai berhadapan dengan pembesar-pembesar Quraisy yang sudah gemetaran dan ketakutan.

Dimana mereka sudah tahu pernah berbuat kriminal pada Nabi. Nabi kemudian hanya bertanya:

”Menurut kalian, mau saya apakan kalian ini?”.

Nabi juga sudah mengumumkan sebagian besar mereka yang akan dihukum mati dimanapun mereka berada.

Hingga kemudian mereka dinafas terakhirnya menjawab dan memelas iba kepada Rasulullah berkata:

“Kami kan saudaramu, engkau adalah saudara kami yang baik”.

Dahulu mereka menghina, mencaci maki dan bahkan membuat makar. Inilah sejarah perjalanan Nabi kisah Yusuf. Di ujungnya mereka minta maaf.

Oleh karena itu, maka berhati-hatilah membuat makar, membuat sesuatu yang membuat saudara kita sakit. Jangan-jangan suatu hari nanti kita harus minta maaf pada saudara.

Maka, tahanlah lisanmu dari menyakiti saudara. Tahan tangan kita untuk membuat coretan yang tidak baik.

Hati-hatilah. Jangan-jangan suatu saat nanti kita harus minta maaf. Di saat itu coba kita bayangkan, kita akan berhadapan dengan siapa?

Apakah kita akan berhadapan dengan orang yang mulia sebagaimana Yusuf dan Rasulullah orang mulia yang mampu memaafkan.

Ketika Rasulullah melihat para pembesar Quraisy itu telah gemetaran, maka beliaupun mulai berkata:

“Hari ini aku akan berkata sebagaimana dulu Yusuf pernah berkata kepada saudara-saudaranya”.

Sebagaimana yang tertuang di dalam QS. Yusuf ayat 92.

“Dia (Yusuf) berkata: “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang diantara para penyayang”.

Nabi menukil perkataan Nabi Yusuf ini untuk sebuah momentum yang sangat dahsyat ketika saat itu beliau mampu untuk membalas dendam atas semua hinaan, cacian dan makar yang telah dilakukan oleh pembesar-pembesar Quraisy.

Tapi beliau lebih memilih untuk memaafkan mereka semua. Inilah akhlaq yang sangat istimewa bagi seorang Rasul dan pemimpin.

Lebih memilih memaafkan semua kesalahan yang telah dilakukan, meski ada kesempatan untuk melakukan pembalasan.

Sungguh dalam kisah Yusuf terdapat ibroh dan pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.

Artinya kisah ini akan bermanfaat untuk orang-orang yang mau menggunakan akalnya. Yang mau membaca, mempelajari, meneliti dan bahkan menganalisa sehingga ia bisa menjadi jembatan untuk menerjemahkan masa lalu untuk ditarik ke masa sekarang ini.

Karena di dalam sejarah ada solusi permasalahan umat di setiap zaman. Begitulah kisah Yusuf dipersembahkan oleh Allah untuk kita umat Muhammad. Hari ini.,esok dan yang akan datang.

🖋️Linda_Khadeeja