Oleh: Maman El Hakiem

Apa yang terjadi di hari esok. Tak seorang pun tahu. Seperti hari ini, tak terbayangkan sebelumnya. Manusia sekedar menjalani apa yang telah terbiasa. Padahal, hidup ini harus siap menemukan suatu hal yang baru.

PakSalim seorang petani yang sehari-harinya di kebun dan sawah. Dalam doanya berharap agar anak-anaknya tidak seperti dirinya. Seolah apa yang selama ini dikerjakannya rendah dan hina.
“Semoga anak-anakku kelak menjadi orang sukses, tidak seperti Ayah ini yang hanya petani kasar.” Gerutunya. Menjadi petani seakan pekerjaan yang terpaksa dilakukan, terlebih tinggal di desa. Saat musim kemarau, sawah tadah hujan sering terlantar, banyak petani menjual tanahnya. Tidak mengherankan, jika Pak Salim pun banyak mengeluh.


“Bagaimana Pak, sawahnya dijual saja ya?” Tanya seseorang yang semakin membuat hati Pak Salim kian gusar. Hari itu Pak Salim kedatangan tamu yang tidak lain cukong tanah untuk lahan kepentingan para pengusaha di kota.
“Sebenarnya berat menjual sawah warisan ini, Pak. Tapi apa boleh buat, perlu juga buat biaya anak kuliah.” Jawabnya. Pak Salim memiliki dua anak, yang sulung tahun ini keluar SLTA.
“Syukur kalau begitu Pak, per bata saya beli dua juta ya? Ini sudah harga tinggi lho.” Jawab cukong tanah itu meyakinkan. Pak Salim berpikir sebentar, memang harga segitu sudah wajar, tetapi yang masih mengganjal biasanya cukong selalu curang.


Seperti sawah tetangganya, dibeli per bata, tetapi oleh cukong dijual per meter persegi kepada majikannya. Banyak pabrik di daerah asalnya adalah lahan sawah yang sebenarnya masih subur.
Seketika pikiran Pak Salim berubah, memang saat ini lagi butuh uang banyak untuk kuliah anaknya. Tetapi, seseorang hadir dalam bayangannya. Anak yang jauh-jauh belajar mencari ilmu, namun pulang hanya sekedar menjadi buruh pabrik. Ia berharap anaknya sukses tetapi bukan menjadi buruh di kampung halamannya.


“Bagaimana Pak Salim, jadi ya dijual?” Cukong tanah itu kembali menegaskan.
“Gak jadi Pak, karena kami lebih baik bercocok tanam dan menikmati hijaunya sawah daripada gemuruh suara mesin dan debu polusi.” Pak Salim seperti memiliki kekuatan batin untuk tegas mengambil sikap.


Cukong tanah itu merasa kesal karena misinya tidak berhasil, “Kriinggg…” Ponselnya berbunyi. Cukong tanah itu segera menerima panggilan dari ponselnya. Tidak tahu apa yang dibicarakannya, namun setelah menutup ponselnya. Ia pamit kepada Pak Salim, kali ini kelihatan tergesa-gesa.
Pak Salim hanya terheran. Setelah cukong tanah itu pulang. Pak Salim melihat secarik kertas yang terjatuh, rupanya surat sita tanah. Banyak pabrik yang gulung tikar di tengah pandemi, lahan pabriknya disita karena utang yang tak terbayar.***