Oleh : Ummul Asminingrum
Aktivis Muslimah

May you never experience the agony of having your country stolen; may you never feel the pain of living in captivity under occupation; may you never witness the demolition of your home or murder of your loved ones. May you never be sold out by your “friends.”

“Semoga anda tidak pernah mengalami penderitaan karena negara Anda dicuri. Semoga anda tidak pernah merasakan sakitnya hidup dijajah. Semoga anda tidak pernah menyaksikan pembongkaran rumah anda atau pembunuhan orang yang anda cintai. Semoga anda tidak pernah dijual oleh “teman” anda.”

Begitulah isi cuitan Anggota Komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO, Hanan Ashrawi. Ia menuliskan kalimat puitis tersebut sebagai gambaran betapa sakitnya menjadi warga Palestina yang dikhianati oleh teman sendiri ( Uni Emirat Arab atau UEA) di akun Twitter miliknya.

Seperti yang diketahui oleh dunia, pada Kamis 13 Agustus 2020 Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan bahwa Israel dan Uni Emirat Arab telah mencapai kesepakatan damai. Pernyataan itu disampaikan Trump dari Gedung Putih, Washingtton DC. Bahkan, Trump melukiskan kesepakatan damai itu sebagai kesepakatan Abraham. (Kompas.id, 13/8/2020)

Menanggapi hal tersebut, jubir otoritas Palestina Nabil Abu Ruedineh mengatakan bahwa otoritas Palestina mengecam perjanjian damai dan normalisasi hubungan yang disepakati oleh Uni Emirat Arab dan Israel. Tindakan ini adalah sebuah penghianatan terhadap rakyat Palestina, Yerusalem dan Al Aqsha.

Awal Mula Sejarah Kelam Itu

Memang pasca kekalahan Daulah Khilafah Utsmaniyah dalam perang dunia pertama. Yang mengakibatkan Daulah Khilafah terjebak dalam perjanjian Sykes-Picot membuat wilayah daulah disekitar jazirah Arab atau Timur Tengah termasuk kota suci umat Islam yaitu Palestina berada dalam kondisi yang sangat memilukan.

Negara’ Eropa khususnya Inggris dan Perancis secara licik menjadi dalang atas perjanjian tersebut. Mereka telah memotong-motong wilayah Timur Tengah menjadi beberapa negara bagian kecil tak berdaya. Bagaikan kue yang menjadi hidangan lezat dan siap dibagi-bagi oleh kedua negara tersebut dan para sekutunya.

Palestina ditetapkan sebagai wilayah perbatasan kedua negara tersebut sekaligus menjadi wilayah internasional. Dari sinilah awal mula nestapa umat muslim khususnya di Palestina.

Sejak berubah menjadi wilayah internasional melalui perjanjian Balfour pada tanggal 2 November 1917 yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris. Telah disepakati bahwa penyerahan wilayah Palestina ke komunitas Yahudi. Yang melahirkan “Negara” bernama Israel.

Inilah awal penjajahan di atas bumi Palestina. Keadaan kaum muslim ini semakin memburuk akibat runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah pada 3 Maret 1924. Akibat rencana busuk dan licik agen Inggris yang bernama Mustafa Kamal Attaturk laknatullah.

Sejak saat itulah kaum muslim di seluruh dunia tak lagi memiliki sayap pelindung. Kini umat muslim tak lagi mempunyai perisai yang melindungi diri dan negeri mereka dari para penjajah seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia dan Israel dan lain-lain.

Kini Negeri kaum muslim tengah terjebak dalam perjuangan rendahan seperti nation state. Mereka berperang hanya untuk membela negara mereka masing-masing. Akibat sekat nation state ini pula negeri-negeri Islam yang lain tidak bisa menolong secara langsung negeri Islam yang terjajah seperti Palestina.

Saat ini pula, negeri-negeri Islam telah berubah menjadi negara pengekor. Sebagai negara pengekor, banyak dari kebijakan dalam dan luar negerinya tidak mandiri. Melainkan didekte oleh tuan besarnya yaitu AS dan Inggris.

Pemimpinnya menjadi pemimpin boneka. Mereka tidak peduli lagi terhadap kebijakan yang dibuat walau itu menyengsarakan rakyatnya. Maka wajar saja apabila muncul kebijakan yang dinilai sebagai pengkhianatan terhadap warga Palestina yang dilakukan oleh Uni Emirat Arab.

Wajar pula, bila kini tak ada penguasa negeri muslim yang mau menyelamatkan Palestina dari resolusi yang dikeluarkan oleh majelis umum PBB pada 29 Oktober 1947.

Sejak saat itu Israel terus memperluas wilayahnya dengan cara-cara ilegal dan licik. Padahal tanah Palestina adalah tanah waqaf untuk kaum muslim yang sampai kapanpun kesuciannya akan tetap terjaga.

Sekarang tanah ini menjadi jajahan kaum imperialis yang melahirkan pengusa-penguasa boneka. Dan mereka pula yang menjaga dan merawat entitas Yahudi di Palestina. Sehingga kepentingan ideologi dan ekonomi mereka di daerah Timur Tengah tetap terjaga.

Dengan demikian apa yang dilakukan Penguasa UEA, Qatar dan Arab Saudi yang masih berkolaborasi dalam normalisasi secara rahasia dan dibawah justifikasi formalitas. Semakin menegaskan kedudukan mereka sebagai penguasa boneka.

The Real Solution

Tidak ada cara lain untuk menyelamatkan kenistaan umat muslim di Palestina dan negeri muslim yang lain kecuali dengan mengembalikan perisai dan pelindung umat hakiki yaitu Daulah Khilafah Islamiyah ala minhajinubuwah.

Sebab hanya dengan naungan khilafah saja umat Islam dan negeri kaum muslim akan terjaga kehormatannya dari para kafir penjajah laknatullah. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid II yang menolak total segala bentuk penyerahan tanah Palestina kepada kaum kafir meskipun hanya sejengkal.

Pasukan jihad kaum muslim dari seluruh dunia akan bersatu membela dan siap berperang mengusir Yahudi laknatullah dan negara Israel dari bumi Palestina.

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya. (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Wallahu’alam bish-shawab.