Oleh: Nurmawilis Nasution, S.Pi


Istilah Good Looking sedang naik daun di khalayak, bahkan viral di sosial media. Penyebabnya tidak lain ialah pernyataan Mentri Agama Fachrul Razi dalam sebuah webinar bertema “Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara”, yang disiarkan melalui channel Youtube Kemenpan/RB (2/09/2020)
Berikut sebagian pernyataan Menag yang diberitakan islamtoday.id:
“Dengan penampilan good looking, mereka mampu menarik simpati dari para jamaah serta pengurus masjid, sehingga dipercaya sebagai imam serta menjadi bagian dari pengurus masjid. Lanjut Fachrul, para penghafal qur’an tersebut akan merekrut rekan-rekannya yang juga berfaham radikal untuk masuk menjadi pengurus masjid. Lalu masuk teman-temannya. Dan masuk ide-idenya yang kita takutkan.”
Sungguh miris mendengar pernyataan Menteri agama ini. Apa alasan menuduh pemuda penghafal Alquran sebagai agen radikal?
Maka ada dua kemungkinan dari suatu perbuatan jika dipermasalahkan: Perbuatan tersebut memang salah, atau orang yang menilainya yang memiliki pandangan yang salah.
Penampilan dan perilaku seorang muslim tidak boleh lepas dari keimanan yang diyakininya. Dan tidak bisa kosong dari keterikatannya dengan syariat Islam. Dorongannya semata berharap pahala ibadah di sisi Allah, bukan hanya meraih keuntungan materi. Ketaatannya pada hukum syariat akan membuatnya berpenampilan khas dan istimewa. Begitulah gambaran penampakan seorang yang memiliki kepribadian Islam“Syakhshiyyah Islamiyah”.
Allah SWT mengingatkan kita dalam Alquran,
أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَىٰ ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (QS al-Ra’d[13]:19)
Terkait ayat ini Imam Ibnu Katsîr menyatakan,
“Maka tidaklah sama orang yang meyakini kebenaran yang engkau bawa –wahai Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam – dengan orang yang buta, yang tidak mengetahui dan memahami kebaikan. Seandainya memahami, dia tidak mematuhinya, tidak memercayainya, dan tidak mengikutinya.” (Tafsir al-Qur’ânil ‘Azhîm, surah Ar-Ra’du[13]: 19).
Kejelasan objek yang dipandang, dipengaruhi kacamata yang digunakan. Jika memakai kacamata kapitalis-liberalis-sekuler, maka akan menganggap buruk orang-orang yang menyerukan kebenaran Islam, dan akan memandang sebagai ancaman siapa pun yang mengajak untuk menerapkan syariat kafah karena tegaknya Islam di muka bumi akan menggantikan hegemoni mereka. (www.muslimahnews.com/2020/09/10)
Karenanya, dengan berbagai macam cara mereka akan menjegal dan menghentikan perjuangan Islam.
Sebaliknya, orang-orang yang meyakini kewajiban menerapkan Islam secara sempurna dalam institusi Khilafah, akan menilai baik para pejuang ikhlas ini, akan memberikan dukungan, membelanya, bahkan ada juga yang ikut serta memperkuat barisannya.
Jadi, tidak ada yang salah dengan good looking. Tinggal mengganti kacamata untuk melihatnya. Jangan menggunakan kacamata para pembenci Islam. Tetapi gunakanlah kacamata orang-orang yang menyakini kebenaran Islam dan merindukannya kembali jaya memimpin dunia.