Oleh: Lim Kamilah, Wado, Sumedang

Setengah tahun lebih kita dihadapkan dengan wabah Covid-19 yang sejauh ini belum terlihat titik terang ,meski presiden Joko Widodo telah menerapkan New Normal sejak Juni lalu,  namun sebetulnya kita belum terbebas  dari bahaya virus tersebut, hingga kini kasus yang terpapar virus Covid-19 mengalami peningkatan yang cukup tinggi di berbagai wilayah.

Di Sumedang ,Pemkab sumedang mengambil langkah tegas dengan kembali melarang panggung hiburan dalam resepsi pernikahan atau lainnya yang dapat mengundang keramaian. Mengingat kasus covid-19 yang kembali naik .

Meski pemerintah menerapkan New Normal, karna jumlah kasus positif (covid-19 di sumedang ) meningkat, sehingga gugus tugas harus mengambil kebijakan,”kata Dony di gedung Negara, kabupaten Sumedang ,Jawa barat ,Jumat (21/8/2020), (detik News)

Di Serang, pemerintah provinsi Banten memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di seluruh wilayahnya ,kebijakan ini di ambil seiring terus meningkatnya potensi penularan virus korona di delapan kabupaten dan kota minggu (6/9/2020), (CNN Indonesia)

Selain itu, pemerintah melalui Satuan Tugas Penanggulangan covid-19 menjelaskan  bahwa jumlah kasus covid-19 di Indonesia terus bertambah, bahkan penambahan dalam sehari ini tercatat dalam jumlah tinggi ,Data pemerintah pada Senin (7/9/2020) pukul :12.00 WIB memperlihatkan asa 2.880 kasus baru covid-19 dalam 24 jam terakhir

Kondisi kembali meningkatnya kasus korona khususnya di sumedang  merupakan buah hasil dari pengabaian  pemerintah dalam menanggulangi wabah, Kebijakan pemerintah menerapkan New Normal memang di nilai tidak dapat dibenarkan sejak awal, kebijakan tersebut terkesan di paksakan dan mengenyampingkan kesehatan masyarakat, hal ini menunjukkan kegagalan otoritas pemerintah dalam menangani pandemi ,kebijakan pemerintah terlihat ceroboh dan tidak dapat di maafkan atas pengabaian terhadap intervensi pertama dan utama berupa lockdown, sosial distancing dan Isolasi juga penguatan Imunitas pelaksanaan  protokol kesehatan dan pengobatan hingga sembu.

Kondisi seperti ini mendunia, Negara adidaya AS dan China pun masih tak berdaya menyudahi pandemi, sama halnya dengan kondisi di negeri ini,  di Amerika serikat dan negara lainnya pun saat ini masih mengalami peningkatan dalam kasus covid-19 ,ini menunjukkan kegagalan sistem kapitalisme menemukan solusi menyudahi pandemi, kepentingan ekonomi di atas segalanya menjadi bumerang dan aksi bunuh diri

Langkah-langkah praktis yang di terapkan pemerintah  kini memperlihatkan kecacatan akibat sistem yang merujuk pada akal manusia yang lebih condong pada asas manfaat ,hanya mementingkan materi,  dan  hanya menduga-duga, sehingga keselamatan masyarakat terabaikan.

Saat ini dunia membutuhkan otoritas baru yang menggantikan kapitalisme untuk menyudahi pandemi. Sistem hidup yang menjadikan wahyu sebagai pedoman , meletakan qimah-qimah sesuai petunjuk sang pencipta , yakni dengan diterapkannya  Islam secara kaffah di muka bumi dan instituai penerapannya adalah khilafah.

  Islam memiliki seperangkat aturan untuk memelihara kemaslahatan umat manusia termasuk  dalam hal kesehatan ,dari mulai pencegahan ,penanganan yang tepat hingga pengobatan yang serius.

Penguasa dalam Islam disebut khalifah atau imamah, ketika wabah menimpa suatu daerah maka khalifah akan sigap bertindak dengan cepat dan tepat, tanpa pertimbangan yang berasas materi ,merujuk pada anjuran Nabi saw. dengan menerapkan kebijakan yang kita kenal sekarang dengan istilah  lockdown  , sebagaimana sabda Nabi saw. “ Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut , sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, jangan kalian meninggalkan tempat itu “ (HR. Al-Bukhari )

 Merujuk pada Hadist di atas  maka khalifah akan konsisten dan sabar dari untuk tetap melakukan lockdown sebelum wabah benar-benar dipastikan sudah tiada, hal ini menjadi langkah pencegahan agar wabah tidak meluas ke daerah yang lain, sehingga wilayah lain masih bisa beraktivitas seperti biasa ,hanya membatasi diri pada wilayah yang terpapar wabah, perputaran ekonomi pun masih bisa berjalan normal di luar wilayah yang tidak terpapar,

Lalu Bagaimana jika wabah sudah meluas ?

 Maka khalifah akan mencari cara lain yang sesuai dengan petunjuk Allah swt. Mulai dari mengisolasi pasien yang terpapar ke tempat yang dari pemukiman penduduk dan mengobati pasien  dengan tingkat keamanan yang tinggi bagi pasien dan perawat, juga ketersediaan fasilitas yang memadai dalam rangka pengobatan hingga sembuh, lalu menerapkan kebijakan sosial distance terhadap masyarakat  dengan cara menjauhi kerumunan ,jaga jarak dan dirumah saja,  sebab tidak terlihat adanya gejala pada penderita awal ,sehingga kita tidak bisa membedakan mana yang sehat dan mana yang terpapar virus, kebijakan ini telah di anjurkan oleh Nabi SAW. 1400 tahun yang lalu Beliau bersabda “janganlah yang sakit di campurkan dengan yang sehat “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah )

Pada kondisi ini sudah pasti berpengaruh pada perekonomian masyarakat dan negara  meski begitu kebutuhan masyarakat terhadap pangan tidak bisa ikut jaga jarak ,sebab perut tidak bisa berhenti untuk mendapatkan asupan makanan ,jika demikian yang terjadi maka yang tidak terpapar penyakit pun akan sakit bahkan mati mendadak , seperti  kasus-kasus yang terjadi di negeri ini saat diberlakukannya PSBB tempo lalu.

Sedangkan Islam mewajibkan seorang pemimpin untuk meriayyah umatnya  dalam menjamin kebutuhan hidup masyarakat ,berdasarkan ketakwaannya terhadap aturan Allah maka seorang khalifah akan siap dalam menghadapi situasi semacam ini ,menjadikan kemaslahatan masyarakat  sebagai prioritas yang pertama dan utama ,mengenyampingkan kepentingan dan keuntungan pribadi,  karna Rasulullah SAW. Menegaskan bahwa  tugas seorang pemimpin adalah mengurus umatnya , dan dia akan di tanya atas kepengurusannya , pemimpin yang berpegang teguh pada tali Agama Allah tidak akan menyibukkan dirinya untuk mengejar nilai duniawi , sebab ia meyakini hisaban yang berat telah menantinya di akhirat, maka ia jadikan pengabdiannya untuk menjaga nilai-nilai Islam dan menjadikannya wasilah untuk mendekat pada sang pencipta dan sang pengatur sehingga terciptalah Islam membawa rahmat bagi seluruh alam

Namun Dalam hal ini, ketakwaan individu pun perlu ditanamkan agar taat pada aturan yang di anjurkan oleh syariat, mulai dari gaya hidup sehat, dan senantiasa menjaga diri dari berpotensinya terpapar penyakit, hal ini di isyaratkan oleh nabi melalui sabdanya ,”Barang siapa tertidur dan ditangannya terdapat lemak (kotoran bekas makanan) dan dia belum mencucinya ,dan dia tertimpa oleh sesuatu maka janganlah ia mencela melainkan dirinya (HR. Daud ) , dan jika seseorang berada di wilayah yang terpapar maka janganlah ia keluar dari tempat tersebut sebab hal ini merupakan perintah dari Allah swt. Petunjuk yang melalui lisan Nabi saw.” Thaun merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki ,kemudian dia jadikan rahmat bagi kaum muslimin ,tidaklah bagi seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan sabar ,meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid “(HR. Bukhari).

Wallahu’alam.

Kasus Covid-19 Meningkat, Saatnya Kembali Pada Syariat

Oleh: Lim Kamilah

 Wado, Sumedang

Setengah tahun lebih kita dihadapkan dengan wabah Covid-19 yang sejauh ini belum terlihat titik terang ,meski presiden Joko Widodo telah menerapkan New Normal sejak Juni lalu,  namun sebetulnya kita belum terbebas  dari bahaya virus tersebut, hingga kini kasus yang terpapar virus Covid-19 mengalami peningkatan yang cukup tinggi di berbagai wilayah.

Di Sumedang ,Pemkab sumedang mengambil langkah tegas dengan kembali melarang panggung hiburan dalam resepsi pernikahan atau lainnya yang dapat mengundang keramaian. Mengingat kasus covid-19 yang kembali naik .

Meski pemerintah menerapkan New Normal, karna jumlah kasus positif (covid-19 di sumedang ) meningkat, sehingga gugus tugas harus mengambil kebijakan,”kata Dony di gedung Negara, kabupaten Sumedang ,Jawa barat ,Jumat (21/8/2020), (detik News)

Di Serang, pemerintah provinsi Banten memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di seluruh wilayahnya ,kebijakan ini di ambil seiring terus meningkatnya potensi penularan virus korona di delapan kabupaten dan kota minggu (6/9/2020), (CNN Indonesia)

Selain itu, pemerintah melalui Satuan Tugas Penanggulangan covid-19 menjelaskan  bahwa jumlah kasus covid-19 di Indonesia terus bertambah, bahkan penambahan dalam sehari ini tercatat dalam jumlah tinggi ,Data pemerintah pada Senin (7/9/2020) pukul :12.00 WIB memperlihatkan asa 2.880 kasus baru covid-19 dalam 24 jam terakhir

Kondisi kembali meningkatnya kasus korona khususnya di sumedang  merupakan buah hasil dari pengabaian  pemerintah dalam menanggulangi wabah, Kebijakan pemerintah menerapkan New Normal memang di nilai tidak dapat dibenarkan sejak awal, kebijakan tersebut terkesan di paksakan dan mengenyampingkan kesehatan masyarakat, hal ini menunjukkan kegagalan otoritas pemerintah dalam menangani pandemi ,kebijakan pemerintah terlihat ceroboh dan tidak dapat di maafkan atas pengabaian terhadap intervensi pertama dan utama berupa lockdown, sosial distancing dan Isolasi juga penguatan Imunitas pelaksanaan  protokol kesehatan dan pengobatan hingga sembu.

Kondisi seperti ini mendunia, Negara adidaya AS dan China pun masih tak berdaya menyudahi pandemi, sama halnya dengan kondisi di negeri ini,  di Amerika serikat dan negara lainnya pun saat ini masih mengalami peningkatan dalam kasus covid-19 ,ini menunjukkan kegagalan sistem kapitalisme menemukan solusi menyudahi pandemi, kepentingan ekonomi di atas segalanya menjadi bumerang dan aksi bunuh diri

Langkah-langkah praktis yang di terapkan pemerintah  kini memperlihatkan kecacatan akibat sistem yang merujuk pada akal manusia yang lebih condong pada asas manfaat ,hanya mementingkan materi,  dan  hanya menduga-duga, sehingga keselamatan masyarakat terabaikan.

Saat ini dunia membutuhkan otoritas baru yang menggantikan kapitalisme untuk menyudahi pandemi. Sistem hidup yang menjadikan wahyu sebagai pedoman , meletakan qimah-qimah sesuai petunjuk sang pencipta , yakni dengan diterapkannya  Islam secara kaffah di muka bumi dan instituai penerapannya adalah khilafah.

  Islam memiliki seperangkat aturan untuk memelihara kemaslahatan umat manusia termasuk  dalam hal kesehatan ,dari mulai pencegahan ,penanganan yang tepat hingga pengobatan yang serius.

Penguasa dalam Islam disebut khalifah atau imamah, ketika wabah menimpa suatu daerah maka khalifah akan sigap bertindak dengan cepat dan tepat, tanpa pertimbangan yang berasas materi ,merujuk pada anjuran Nabi saw. dengan menerapkan kebijakan yang kita kenal sekarang dengan istilah  lockdown  , sebagaimana sabda Nabi saw. “ Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah janganlah kalian memasuki wilayah tersebut , sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, jangan kalian meninggalkan tempat itu “ (HR. Al-Bukhari )

 Merujuk pada Hadist di atas  maka khalifah akan konsisten dan sabar dari untuk tetap melakukan lockdown sebelum wabah benar-benar dipastikan sudah tiada, hal ini menjadi langkah pencegahan agar wabah tidak meluas ke daerah yang lain, sehingga wilayah lain masih bisa beraktivitas seperti biasa ,hanya membatasi diri pada wilayah yang terpapar wabah, perputaran ekonomi pun masih bisa berjalan normal di luar wilayah yang tidak terpapar,

Lalu Bagaimana jika wabah sudah meluas ?

 Maka khalifah akan mencari cara lain yang sesuai dengan petunjuk Allah swt. Mulai dari mengisolasi pasien yang terpapar ke tempat yang dari pemukiman penduduk dan mengobati pasien  dengan tingkat keamanan yang tinggi bagi pasien dan perawat, juga ketersediaan fasilitas yang memadai dalam rangka pengobatan hingga sembuh, lalu menerapkan kebijakan sosial distance terhadap masyarakat  dengan cara menjauhi kerumunan ,jaga jarak dan dirumah saja,  sebab tidak terlihat adanya gejala pada penderita awal ,sehingga kita tidak bisa membedakan mana yang sehat dan mana yang terpapar virus, kebijakan ini telah di anjurkan oleh Nabi SAW. 1400 tahun yang lalu Beliau bersabda “janganlah yang sakit di campurkan dengan yang sehat “ (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah )

Pada kondisi ini sudah pasti berpengaruh pada perekonomian masyarakat dan negara  meski begitu kebutuhan masyarakat terhadap pangan tidak bisa ikut jaga jarak ,sebab perut tidak bisa berhenti untuk mendapatkan asupan makanan ,jika demikian yang terjadi maka yang tidak terpapar penyakit pun akan sakit bahkan mati mendadak , seperti  kasus-kasus yang terjadi di negeri ini saat diberlakukannya PSBB tempo lalu.

Sedangkan Islam mewajibkan seorang pemimpin untuk meriayyah umatnya  dalam menjamin kebutuhan hidup masyarakat ,berdasarkan ketakwaannya terhadap aturan Allah maka seorang khalifah akan siap dalam menghadapi situasi semacam ini ,menjadikan kemaslahatan masyarakat  sebagai prioritas yang pertama dan utama ,mengenyampingkan kepentingan dan keuntungan pribadi,  karna Rasulullah SAW. Menegaskan bahwa  tugas seorang pemimpin adalah mengurus umatnya , dan dia akan di tanya atas kepengurusannya , pemimpin yang berpegang teguh pada tali Agama Allah tidak akan menyibukkan dirinya untuk mengejar nilai duniawi , sebab ia meyakini hisaban yang berat telah menantinya di akhirat, maka ia jadikan pengabdiannya untuk menjaga nilai-nilai Islam dan menjadikannya wasilah untuk mendekat pada sang pencipta dan sang pengatur sehingga terciptalah Islam membawa rahmat bagi seluruh alam

Namun Dalam hal ini, ketakwaan individu pun perlu ditanamkan agar taat pada aturan yang di anjurkan oleh syariat, mulai dari gaya hidup sehat, dan senantiasa menjaga diri dari berpotensinya terpapar penyakit, hal ini di isyaratkan oleh nabi melalui sabdanya ,”Barang siapa tertidur dan ditangannya terdapat lemak (kotoran bekas makanan) dan dia belum mencucinya ,dan dia tertimpa oleh sesuatu maka janganlah ia mencela melainkan dirinya (HR. Daud ) , dan jika seseorang berada di wilayah yang terpapar maka janganlah ia keluar dari tempat tersebut sebab hal ini merupakan perintah dari Allah swt. Petunjuk yang melalui lisan Nabi saw.” Thaun merupakan azab yang ditimpakan kepada siapa saja yang Allah kehendaki ,kemudian dia jadikan rahmat bagi kaum muslimin ,tidaklah bagi seorang hamba yang di situ terdapat wabah penyakit, tetap berada di daerah tersebut dalam keadaan sabar ,meyakini bahwa tidak ada musibah kecuali atas takdir yang Allah tetapkan kecuali ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid “(HR. Bukhari).

Wallahu’alam.