Oleh : Umi Rizkyi Anggota Komunitas Setajam Pena

Dalam beberapa pekan terakhir ini publik dikejutkan lembali oleh kebijakan pemerintah. Lagi, lagi, lagi dan lagi. Rakyat selalu dibikin bingung, was-was, tidak aman, tidak tenang dan tidak nyaman. Betapa tidak, pemerintah mengambil kebijakan memperbudayakan tanaman ganja sebagai salah satu komoditas binaan pertanian.

Dilansir dari cnnindonesia_ Kementerian pertanian ( Kementan ) mencabut sementara keputusan Menteri Pertanian ( Kementan ) No. 104/2020. Ada kontroversi dalam Belrid tersebut, yaitu masuknya ganja ( Cannabis Sativa ) sebagai salah satu komunitas binaan pertanian.

Padahal sebagai santapan sehari-hari, bahwa ganja adalah barang terlarang menurut hukum di Indonesia. Baik pengedar ganja, penanam / produksi ganja, penimbun ataupun pemakai ganja merupakan tindak kriminal. Akan tetapi, hal ini merupakan komoditi yang menjanjikan keuntungan. Sehingga tidak jarang bahwa, ganja pun dijadikan barang ekspor-impor.

Meskipun demikian, ganja merupakan barang legal, asal ada tujuan tertentu. Sebagai buktinya adalah Badan Pusat Statistik ( BPS ) memiliki catatan ekspor-impor barang tersebut. Adapun jenis ganja yang di ekspor-impor di Indonesia ada dua jenis. Data per Januari-Juni 2020. Jenis A, ekspor 1.848 kg, impor 12.936 kg. Sedangkan jenis B, ekspor 67.925 kg dan impor sebesar 34.174 kg. Dilansir dari cnbc (30/8/2020).

Tommy Nugraha selaku Detektor Sayuran dan Tanaman Obat mengatakan, ” Saat ini belum dijumpai satupun petani ganja yang menjadi petani legal dan menjadi binaan Kementan. Pada dasarnya Kementan memberikan ijin usaha budidaya pada tanaman sebagaimana yang dimaksud pada Kepmentan 104/2020. Namun dengan tetap memperhatikan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan “.

Begitu juga langkah yang diambil oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Lippo memutuskan mencabut sementara Kepmentan No 104/2020 dan segera melakukan koordinasi dengan lembaga terkait. Kementan akan secara aktif melakukan edukasi bersama Badan Narkotika ( BNN ) terkait pengalihan kepertanian tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan di daerah-daerah yang selama ini menjadi wilayah penanaman ganja secara ilegal. Ternyata hanya ada dua negara yang melegalkan ganja, baik menanam, menjual belikan, ataupun mengonsumsi yaitu Kanada dan uruquay.

Dari fakta dan data di atas, menunjukkan bahwa sesungguhnya sistem sekuler tidak mampu menghasilkan kebijakan yang menjamin terwujudnya rasa aman, nyaman sekaligus kemaslahatan fisik.

Hal ini tentu saja sangat jauh berbeda dengan sistem Islam, bagaimana menghadapi hal yang semacam ini. Di dalam Islam telah jelas, bahwa benda yang diharamkan tidak boleh ditetapkannya sebagai komoditas yang diambil keuntungannya. Bahkan hasilnyapun haram pula.

Di dalam Islam telah jelas, bagaimana cara kedudukan ganja. Dalam bentuk apapun. Baik yang membudidayakan, yang menjualbelikan, atau yang mengonsumsinya yaitu haram. Ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw yang artinya, ” Rosullah Saw bersabda dari segala yang memabukkan dan mufattir ( yang membuat lemah ). HR Abu Dawud dan Ahmad.

Dengan demikian maka, negara Islam yaitu Khilafah hanya akan memproduksi barang yang halal saja. Tanpa menghiraukan lagi, sebesar dan sebanyak apapun keuntungan yang diperolehnya.

Begitu pula, Khilafah hanya akan mendistribusikan barang yang halal saja. Inilah bukti, bahwa sistem Islam yaitu khilafah mampu memberikan penjagaan individu dan masyarakat. Hal ini dilakukan hanya untuk menciptakan individu dan masyarakat yang sehat, tentunya sesuai syariat.

Dengan demikian maka, akan lahirlah kebijakan-kebijakan yang mampu memberikan rasa aman, tentram dan terlebih lagi yaitu kemaslahatan fisik. Karena semua itu merupakan kewajiban bagi negara Khilafah. Hukum atas keharaman ganja juga tertulis di dalam kitab Al-Syaksiyah Al-Islamiyah karya Taqiyuddin An Nabani 3/456. Yang berbunyi, ” Hukum asal benda yang berbahaya ( mudarat ) adalah haram. Allahuaklam bishowab.