Oleh: Ummu Layana

Kebebasan manusia saat ini semakin menjadi. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana manusia saat melakukan apa yang dikehendakinya sesuka hati. Namun kebebasan ini mungkin hanya kebebasan yang mengandung tanda kutip, buktinya untuk kebebasan menyuarakan kebenaran masih sangat terbatas dan hampir tidak ada. Terbukti dengan banyaknya kriminalisasi terhadap ajaran dakwah Islam yang terjadi sampai saat ini.

Seperti saat ini, ditengah kriminalisasi ajaran islam dan pengemban dakwahnya muncul beragam permasalahan ummat yang semakin naik tingkatnya dan semakin berat. Kebebasan semakin merajalela.

Salah satunya adalah adanya tren baru yaitu kasus poliandri yang melibatkan ASN di negeri ini. Kebebasan seperti ini tidak akan terjadi tanpa sebab. Selain karena kehidupan saat ini yang semakin sekuler, ada berbagai faktor yang melatarbelakangi kasus tersebut yaitu sulitnya mewujudkan ketahanan keluarga serta lemahnya iman dan minimnya pemahaman tentang agama merupakan sebagian dari penyebab masalah tersebut terjadi. Selain itu kondisi ekonomi dan pola hubungan antara suami-istri yang bermasalah misalnya hubungan jarak jauh yang dapat membuat kurangnya komunikasi, kurang harmonisnya hubungan keluarga juga bisa menjadi alasan pembenaran yang diberikan untuk kasus ini.

Kehidupan yang sekuler membuat manusia semakin bebas dan jauh dari agama sehingga mudah saja manusia akan tergelincir pada hal-hal yang nista. Karena paham sekulerisme yang memisahkan agama dan kehidupan akan dapat menjadikan lemahnya keimanan, sehingga pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat menjadi hal yang lumrah terjadi.

Termasuk kasus poliandri yang jelas-jelas dilarang oleh hukum agama maupun hukum negara. Poliandri sendiri merupakan pernikahan yang dilakukan seorang wanita dengan lebih dari satu orang laki-laki. Tindakan ini sudah jelas melanggar hukum Allah yaitu terdapat dalam QS: An Nisa ayat 24.

Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian,(yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu unuk dikawini,bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka,berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) sebagai suatu kewajiban, dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.( QS An-Nisa:24)

Selain itu, kaum muslim hendaknya mengutamakan penjagaan terhadap nasab. Karena apabila seseorang melakukan poliandri maka dapat dipastikan akan terjadi kekacauan pada nasabnya. Minimnya pemahaman agama juga menjadi penyebab tindakan seperti ini terjadi. Karena sesungguhnya manusia itu bertindak sesuai dengan isi kepalanya,mereka berperilaku sesuai pemikirannya jadi sebuah tindakan itu sudah pasti menunjukkan pemahaman yang ada pada dirinya. Dengan pengetahuan yang kurang maka tindakan pelanggaran terhadap norma agama maupun norma hukum pun bisa saja terjadi.

Namun bagaimana pemahaman agama tentang syariat yang benar bisa menyebar dan berkembang dengan baik jika ajarannya di kriminalisasi bahkan pengambilan hukum syariatnya dilakukan secara tebang pilih seperti sekarang ini? tentu itu hal yang mustahil untuk dapat mewujudkan kesejahteraan ummat dan menumbuh suburkan ilmu agama yang benar.

Kasus ini juga menunjukkan betapa lemahnya negara dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Poliandri menimbulkan jalur keturunan (nasab) menjadi tidak jelas dan menimbulkan kegagalan dalam rumah tangga karena pelaku poliandri akan rentan teradap perceraian atau bahkan perselingkuhan. Segala faktor-faktor penyebab terjadinya poliandri tidak lepas dari penerapan sistem sekarang ini yaitu sekuler demokrasi yang memisahkan agama dari kehidupan sehingga menjadikan manusia bertindak ataupun bertingkah laku sesuai dengan keinginannya saja. Mereka bebas mengatur kehidupannya sendiri tanpa merasa di awasi oleh Alah SWT dengan standard kepuasan yang mereka ciptakan sendiri. Karena merasa tidak terikat pada aturan Allah Swt maka wajar apabila mereka menikmati kehidupan bebas dengan meraih kepuasan materi sebanyak-banyaknya.

Sehingga pandangan terhadap hubungan suami istri pun hanya mengarah pada hubungan seksual saja bukan dalam rangka beribadah, tolong menolong maupun untuk melestarikan keturunan. Dalam sistem ini kepuasan materi adalah menjadi tolak ukurnya sehingga apapun yang dilakukan untuk dapat mendapatkan kepuasannya sehingga apabila tidak mendapat kepuasan yang diharapkan maka akan mencari pemuasan dari jalan yang lain. Hal itu juga nampaknya terjadi pada kehidupaan berumah tangga. Banyaknya perselingkuhan,perceraian, perzinahan serta adanya kasus poliandri merupakan sebagian kecil dampak diterapkannya sistem sekuler demokrasi ini.

Padahal sebuah keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi peradaban. Mereka memiliki peran sosial politis dan strategis yang besar. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak dengan ayah dan ibu sebagai guru,contoh pengajaran yang yang baik dan utama. Selain itu keluarga merupakan tempat berinteraksi dengn harmonis untuk meraih ketentraman hidup.

Dalam sistem Islam peran vital ini dipahami dengan sangat baik. Dalam Islam negara memiliki peran mengurus kebutuhan rakyatnya termasuk dalam hal menjamin ketahanan keluarga. Negara harus memastikan keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Sehingga akan melahirkan generasi yang berkualitas.

Negara akan mengatur dengan menggunakan hukum syariat yang ditetapkan oleh Allah Swt. Sehingga kebijakan yang diambil tidak hanya mampu menjadi solusi dari berbagai permasalahan namun juga akan bernilai ibadah.

Maka dalam sistem Islam tindakan poliandri akan sangat dilarang karena haram menurut hukum syariat dan juga akan menimbulkan kemudharatan bagi kualitas generasi. Kekacauan nasab akan menjadi pemicu hancurnya keturunan karena ketidaktahuan siapa ayahnya sehingga terjadi keamburadulan dalam hukum turunannya,seperti waris.
Berbeda dengan poliandri,poligami yaitu seorang laki-laki memiliki istri lebh dari satu dalam waktu yang bersamaan dalam islam diperbolehkan. Hal ini dapat dilakukan tanpa syarat apapun namun apabila merasa tidak mampu berlaku adil maka tidak melakukan pun tidak menjadi masalah. Sebagaimana dalam QS An-Nisa ayat 3 yang artinya:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi;dua,tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil,maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
(QS. An-Nisa:3)

Poligami juga dapat menjadi solusi dari sebagian permasalahan yang terjadi dimasyarakat yaitu antara lain tabiat laki-laki yang tidak cukup dengan seorang wanita, juga adakalanya terdapat istri yang mandul sehingga untuk dapat melanjutkan keturunan perlu ada wanita lain. Sehingga dengan adanya hukum bolehnya poligami maka akan menghindarkan manusia dari perilaku buruk seperti perselingkuhan,perzinahan dan kekacauan nasab. Hukum islam adalah hukum yang datangnya dari Sang Pencipta sebagai solusi dari setiap permasalahan manusia. Sehingga seharusnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melaksanakannya.
Wallahu a’lam bishshawab.