Oleh : NS. Rahayu (Pengamat Sosial)

Dalam sebuah acara webinar di lingkungan lembaga ASN dan masyarakat yang bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, yang disiarkan di YouTube Kemen PAN-RB, Rabu (2/9/2020). Fachrul Razi (Menag) menyampaikan bahwa cara paling mudah agen radikalisme masuk ke sebuah lembaga, atau rumah ibadah salah satunya memiliki wajah yang menarik atau menawan (good looking). Zonajakarta.com (5/9/20)
Sontak hal itu membuat masyarakat terusik dan marah. Karena radikalisme disematkan pada generasi yang penampilannya menarik, agamanya bagus bahkan hafidz dan mereka dianggap menjadi biang cikal bakal tumbuh kembang radikalisme.

Sangat keterlaluan apabila itu diucapkan oleh seorang muslim terlebih sekelas Menag. Ucapan ngawurnya telah menyakiti umat terlebih kalangan pondok pesantren. Karena untuk menjadi hafidz perlu gemblengan khusus.

Sementara radikalisme adalah sematan yang biasa digunakan untuk menstigmasi negatip Islam. Jika dihubungkan dengan dengan good looking tentu dapat memunculkan sterotip baru gambaran radikal. Padahal tidak ada hubungannya sama sekali.

Sebagaimana dilansir dari tribunnes.com (8/9/20), pengamat Terorisme, Irfan Amalee mengaku bahwa dirinya sama sekali belum menemukan korelasi atau fakta perihal penampilan dengan atribut tertentu dengan aksi radikalisme. Justru pernyataan Fachrul Razi akan melahirkan stereotype dan adjusmen bagi orang-orang yang good looking.

Hal ini membuat masyarakat kecewa dan ngelus dada. Bagaimana mungkin sekelas menteri mengarahkan tuduhan bahwa agen radikalisme tumbuh dari mereka yang good looking.

Tak heran sebagian masyarakat mempertanyakan posisinya karena tuduhan itu langsung mengena pada Islam itu sendiri. Sementara agamanya sendiri adalah Islam.

Apa salahnya dengan penampilan dan sifat-sifat yang baik? Semua dalam rangka menjalankan kewajiban pada Allah SWT.

Radikalisme yang menerus di goreng oleh rezim merupakan agenda asing (Amerika) sebagai pengembang mabda kapitalis sekuler. Melalui WOT menggunakan negara-negara yang ada dibawahnya untuk tunduk mengikuti arahannya.

Segala senjata dan amunisi di tembakkan ke segala arah untuk menghambat kebangkitan Islam. Karena musuh Islam paham mereka akan mati, tidak punya kekuatan ataupun kekuasaan di bawah kepemimpinan Islam.
Amunisi radikalisme pun menyasar dan mengarah pada para generasi yang menjadi ujung tombak peradaban, pemuda-pemuda good looking. Sesuatu hal yang tidak bisa di terima akal sehat.

Namun ada yang menarik lainnya atas tuduhan radikalisme pada good looking ini. Kemarahan umat atas pernyataan Menag ini ditanggapi dengan lunak dan optimisme.

Sehingga hal ini membuat permedsosan bertebaran dengan opini dan wacana radikalisme dan gook looking yang segar dan optimis. Ibarat gayung bersambut.

Sematan good loking memberi arti sendiri bahwa orang-orang yang paham Islam akan selalu menjaga penampilan baik secara fisik, bersih dan rapi pakaian, baik prilaku, wawasan luas dan cara pandang yang mumpuni. Menampilkan sosok yang punya ilmu. Itu adalah ajaran Islam yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Merekapun tak sungkan-sungkan menyatakan dirinya sebagai sosok yang radikal dengan makna positip. Karena radikal juga sudah membooming sebagai singkatan ramah, terdidik dan berakal. Di sistem sekuler yang penuh pragmatis dan segala diperhitungkan secara materi (kapital), maka lahirlah generasi-generasi radikal (ramah, terdidik, berakal) yang siap menjadi ujung tombak peradapan.

Mereka tidak mau menjadi individu dengan panggilan dan pemikiran ugly looking (penampilan dan pemikiran jelek).

Mereka punya cita-cita mulia untuk menjadikan agen perubahan dari kacaunya sistem kapitalis sekuler saat ini. Hingga Islam bisa kembali menjadi mercusuar peradaban di dunia. Wallahu’alam bi shawab.