Oleh: Maman El Hakiem

“Selamat malam. Benar dengan Pak Kuwu Joko?” Sapanya.
“Benar, ada keperluan apa ya?” Tanya Kuwu Joko. Agak mengerutkan kening menduga-duga siapa yang menelponnya malam-malam. Karena nomor telponnya belum tersimpan.


“Maaf mengganggu istirahat, perkara profosal proyek bagaimana?” Tanyanya lagi.
“Proyek apa ya? Harus prosedural, sudah datang ke kantor saya? Tanya Kuwu Joko lagi.
“Biasanya lewat telepon cukup, masih ingat dengan dana kampanye waktu pilkades?”
“Oh Bos Andri, kan sifatnya sukarela sebagai bentuk dukungan bukan?” Jawabnya.
“Pak Joko ini kura-kura dalam perahu,sudah lupa atau memang dungu?” Bos Andri dengan nada agak marah. Bos Andri yang menghubungi Kuwu Joko adalah kontraktor pengaspalan jalan yang telah lama sepi proyek.


“Saya ini orang nomor satu yang dipilih rakyat secara demokratis,masalah proyek harus tahu sama tahu. Paham kan maksudku?” Jawab Kuwu Joko menunjukkan wibawanya. Kuwu itu sering merasa sebagai raja kecil yang lebih berkuasa.


‘Beres pak, itu sudah diatur dan disiapkan. Kita sudah sama-sama mengerti karena aturan di negeri ini dipesan untuk lancarnya urusan kita-kita?” Pungkasnya, Kuwu Joko akhirnya menutup telponnya. Namun, tidak lama berdering kembali. Segera Kuwu Joko mengangkatnya.


“Ada apa Mang Dino, malam-malam telpon saya?” Kuwu Joko mengenal Mang Dino sebagai marbot masjid di desanya,
“Begini Pak Kuwu, masjid di kampung kita genteng-gentengnya sudah pada bocor, apa akan segera diperbaiki?” Kata Mang Dino melaporkan keluhannya.
“Oh masalah itu harus prosedural Mang, nanti kita rapatkan di desa. Kita harus belajar berdemokrasi, segalanya harus di musyawarahkan.” Kuwu Joko menjelaskan.


“Iya Pak, tapi kemarin saya dengar bapak baru saja membeli lahan di pinggir jalan besar, buat apa? Mang Dino memberanikan bertanya.
“Mang Dino urus saja masjid, ini urusan pemerintah.” Ketus Kuwu Joko segera menutup telponnya untuk kedua kali.
“Ya sudah Pak, selamat istirahat semoga tenang untuk selamanya.” Ucap Mang Dino dalam hatinya.***