Oleh: Ersinta (Founder MillennialsVoice)

Beberapa hari ini media masa ramai memperbincangkan pernyataan Menag Fachrul Razi yang menuai banyak kontroversi. Bagaimana tidak, secara terang-terangan Ia menyatakan bahwa paham radikal masuk melalui orang berpenampilan menarik atau good looking dan memiliki kemampuan agama yang baik.
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS, Jazuli Juwaini memprotes keras pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi yang menyebut strategi radikalisme masuk melalui orang yang berpenampilan menarik atau good looking dengan fasih berbahasa arab, hafiz, dan memiliki pemahaman agama yang baik
MUI menilai pernyataan fachrul Razi sangat menyakitkan. “MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata,” kata Wakil Ketua MUI, Muhyiddin Junaidi, kepada wartawan. detikNews Jumat (4/9/2020)

Propaganda Anti Islam
Secara etimologis, kata radikal sesungguhnya netral. Radikalis, kata sifat ini berasal dari bahasa Latin, radix atau radici. Menurut The Concise Oxford Dictionary (1987), istilah radikal berarti ‘akar’, ‘sumber’, atau ‘asal-mula’. Dimaknai lebih luas, istilah radikal mengacu pada hal-hal mendasar, prinsip-prinsip fundamental, pokok soal, dan esensial atas bermacam gejala, atau juga bisa bermakna “tidak biasanya” (unconventional). Jika dipadankan dengan kata Islam, Islam radikal bermakna Islam yang kuat , mengakar dan prinsipil terhadap hal-hal yang bersifat fundamental.
Namun seiring perkembangan, kata radikal mengalami penyempitan makna. Radikal dimaknai sebagai paham anti toleransi, anti pluralisme dan mengendapkan cara-cara fisik untuk meraih tujuan dan perubahan sosial. Jika radikal yang dimaksud Menag adalah demikian, maka mengkaitkannya dengan GoodLooking (hafiz , paham agama, gemar berjamaah, piawai bahasa Arab dll) adalah logika ngawur dan berbahaya.
Pasalnya, ini sama dengan Menag sengaja membangun stereotype negatif (tuduhan buruk) yang jelas-jelas disematkan kepada umat Islam yang paham agama, bahkan hafiz dan berpenampilan menarik atau good looking. Hal ini bisa menimbulkan prasangka dan kegaduhan di masyarakat terhadap ghirah umat yang sedang giat belajar agama. Logika ini juga seolah menuduh ajaran Islam sebagai sumber radikalisme sumber kekerasan dan perpecahan. Padahal jelas Islam tidak mengajarkan cara-cara demikain dalam meraih tujuan.
Di tengah darurat moral dan problem generasi yang karut marut, seharusnya Menag mempromosikan agar semua kembali belajar agama yang baik, memakmurkan masjid, dan menghafal alquran. Namun yang terjadi, Menag memilih menebar ketakutan dengan menuduh orang belajar agama, punya pemahaman agama yang baik, bahkan menyasar hafiz sebagai pintu masuk radikalisme. “Ini menunjukkan menteri agama tidak paham peta masalah kebangsaan dan denyut nadi keberagamaan khususnya umat Islam. Akibatnya salah dalam mengambil kesimpulan sehingga keluar pernyataan yang kontraproduktif dan menyakitkan umat. Dan ini berbahaya karena kebijakan negara bisa salah kaprah,” tegas Jazuli, seperti dikutipPikiranRakyat-Cirebon.com dari RRI.

.Good Looking dalam Percaturan Sejarah
Sejarah mencatat para pemuda Good Looking memiliki peran besar dalam perkembangan penyebaran Islam. Sebut saja mushab bin Umair sahabat Good Looking buah bibir wanita Makkah kala itu menjadi duta pertama Islam yang dikirim Rosullullah ke Madinah.
Berkat strategi dakwahnya yang cerdas nan cadas, ditambah kepiawaian beretorika dalam waktu singkat para pemuka Madinah tunduk dan berucap syahadat. Tidak kita temui satupun riwayat yang menjelaskan dakwah mus’ab bin Umair menggunakan aktivis kekerasan.
Abu Ubaidah bin Jarrah juga merupakan salah seorang shahabat yang Good Looking. Ia begitu teguh keimanannya. Beliau pantas menduduki jabatan Khalifah, sehingga Abu Bakar sendiri pernah mencalonkannya sebagai Khalifah dan menunjuknya ketika terjadi musyawarah di Tsaqifah Bani Sa’idah. Hal ini mengingat keahlian dan keamanahannya. Abu Ubaidah termasuk salah seorang shahabat yang menguasai dan hafal seluruhnya Al-Quran. Beliau mempunyai sifat amanah sehingga Rasulullah SAW memujinya.“Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang yang terpercaya dan orang yang terpercaya dalam ummatku adalah Abu Ubaidah” (HR. Bukhari). Selain itu Beliau memiliki sifat terpuji, lapang dada dan tawadlu’. Sangat tepatlah apabila Khalifah Abu Bakar mengangkatnya sebagai pengelola Baitul Maal dan pada saat yang lain beliau dipercaya sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam.
Masih banyak lagi pemuda Good Looking lainnya dalam Islam . Semoga kita mampu meneladani kiprah beliau di masa kini. Tanpa harus takut terhadap berbagai streotype negatif. Wallahu a’alam bishowab

.