Oleh: Maman El Hakiem

Raflesia Arnoldi itu bukan kutukan dewa. Namanya tetap bunga, meskipun tidak harum seperti Melati. Bau menyengat saat mekar tidak perlu dicibir. Karena setiap makhluk yang diciptakan Allah SWT kehadirannya memberikan pelajaran. Namun, tidak seperti nama Virona, yang memang tidak termasuk jenis bunga, meskipun kedengarannya seindah Dahlia atau Mawar.


“Namaku sangat menjijikan, apakah aku lahir sebagai anak haram?” Pertanyaan itu yang selalu ingin mendapat jawaban dari orangtua Virona.
Meskipun usianya telah menginjak gadis remaja, Virona belum mengenal siapa ayahnya. Seorang ibu yang selama ini tinggal bersamanya positif terkena covid-19. Ibunya seorang pegawai di instansi swasta. Secara materi, Virona tercukupi kebutuhannya. Tetapi, kehidupan sosialnya merasa tidak nyaman karena dirinya seolah dianggap anak dari hubungan gelap ibunya.

Terlebih sekarang, ibunya harus menjalani karantina. Meskipun, hasil test dirinya negatif, namun teman-temannya selalu menjauh.
“Orang dalam pengawasan, istilah yang memenjara kehidupanku.Anak haram yang dikutuk Tuhan” Cibiran teman-temannya sering membuat dirinya menangis. Mengurung sendiri di dalam kamar.
Di pintu gerbang rumahnya, ditempeli tulisan “Rumah Dalam Pengawasan Covid-19” oleh aparat setempat. Sepertinya rumah besar itu semakin angker karena bergentayangan makhluk-makhluk mematikan yang kasat mata.


Virona terkurung dalam sepi, penjara kehidupan tanpa tahu dosa apa yang telah dilakukan dirinya. Setiap kali buka laptop, ia mencoba berselancar mencari pertemanan dalam dunia maya. Namun, tidak ada seorang pun yang merespon dengannya, teman lama pun bahkan meng-unfriend-nya.
Sampai suatu link mengajaknya ngobrol secara online. “Entah salah kirim atau belum tahu keadaan dirinya.” Pikirnya. Virona segera mengikuti tautan link tersebut.


“Hai…Virona, bagaimana kabarmu?” Seorang suara pria terdengar setelah masuk link tersebut. Sosok pria yang tidak kelihatan wajahnya, karena videonya di matikan. Hanya saja ada tulisan “Raflesia Arnoldi”.
“Kenalkan namaku, Raflesia Arnoldi, bunga bangkai, manusia harus pakai masker kalau tidak mau mencium aromanya. “ Ucapnya meskipun sapaannya belum dijawab.


Virona hanya tertegun, dalam hatinya ia menyadari masih ada pertemanan dalam hidupnya, meskipun tidak saling mengenal. Dunia ini terlalu sesak jika terus membayangkan betapa jahatnya virus kecil yang kasat mata. Yang paling berbahaya sesungguhnya sikap manusia yang tidak lagi manusiawi terhadap sesamanya. Begitu apa yang dipikiran Virona yang membuatnya merasa masih ada secercah harapan akan indahnya dunia.***