Oleh : Susanti Pratiwi
Mahasiswa Uinsu

Seorang anak bernama Imam Syahputra berusia 14 tahun sedang duduk dibangku kelas VIII SMP memiliki mimpi ingin menjadi seorang TNI. Keluarga Imam hidup di bawah himpitan ekonomi, ia pun terbentuk jadi mandiri. Imam turun tangan membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tukang semir sepatu disaat hari libur maupun biasa. Imam pun berjalan kaki dari rumahnya sampai ke Lapangan Merdeka, Kantor Gubernur dan Pengadilan Negeri Medan. Hasil menjadi tukang semir sepatu ia bagi menjadi tiga, diberikan ke orang tua, jajan dan ditabung untuk mewujudkan mimpinya tersebut.


Ironis, melihat seorang anak yang memiliki sifat yang mandiri bukan karena usia dan didikan melainkan disebabkan oleh realitas kehidupan yang menuntutnya. Bekerja di usia yang terbilang seharusnya fokus pada pelajaran dan prestasi malah mengahantarkannya ke pintu gerbang pemimpin kotanya, bukan untuk mengemis tapi menyemir sepatu para pemimpin yang harusnya memperhatikannya. Juga bukan hanya mimpi yang membuat kakinya mampu terus berjalan di tengah kesulitan hidup tapi sistem hiduplah faktor pendorongnya. Mendorong agar terus lebih keras mencari nilai materi yang tak pernah bisa terpenuhi walau hanya sekedar kebutuhannya apalagi untuk mewujudkan mimpi. Masyarakat pun harus tetap realistis di sistem ini.
Demikian realitas kehidupan di dalam sistem kapitalis-sekuler, idealisme para pemangku jabatan terpaksa digadai demi kekuasaan, sehingga kualitas rakyat tak jadi prioritas bahkan rakyatnya sendiri diminta berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup termasuk kebutuhan pokok, masalah kemiskinan, pengangguran, dan ongkos pendidikan yang mahal ditanggapi dengan mengelus dada oleh rakyat. Sistem kapitalis menciptakan realitas buruk bagi generasi penerus, karena bagi kapitalis masa depan cerah hanya untuk mereka yang bertahta dan berharta. Sehingga semua orang berlomba menjadi kaya agar tergolong sebagai orang sukses yang seluruh mimpinya menjadi nyata.


Jauh berbanding terbalik dengan kondisi didalam islam, Negara bak orang tua yang mengayomi anak-anaknya dan memenuhi segala kebutuhannya. Pendidikan, kesehatan, dan keamanan dipenuhi secara loyalitas tinggi. Ekonomi, peradilan, politik luar negeri dijalankan berdasarkan halal dan haram sebagaimana yang tertera didalam syariat islam. Harta Negara adalah harta rakyat di jaga serta disaluran merata tanpa pandang tahta. Serta seluruh SDA dan SDM yang ada disokong untuk kepentingan dakwah islam kepenjuru dunia. Alhasil, di dunia mereka hidup mulia dengan kegemilangan peradabannya dan di akhirat termasuk orang yang menang dan beruntung. Begitulah seharusnya kehidupan indah dan nyata. Wallahu’alam bishowab.