Oleh: Rahmawati (Mahasiswa Perikanan UHO)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA  Menteri Agama Fachrul Razi mengapresiasi tindakan Banser yang melakukan tabayun atau klarifikasi atas dugaan penghinaan terhadap tokoh NU Habib Luthfi oleh akun media sosial salah seorang Guru di sebuah Yayasan Lembaga Pendidikan Keagamaan di Rembang.


Sebagaimana terlihat dalam video yang beredar, upaya tabayun itu dipimpin Ketua PC Ansor Bangil Saad Muafi beserta 150 anggota Banser. Mereka menemui Abdul Halim dan Zainulloh, yang disebut sebagai pimpinan Madrasah dengan nama Yayasan Al Hamidy Al Islamiyah. Meski terjadi perdebatan panas antara ketua PC GP Ansor Bangil dengan Ustadz Zainulloh, tetapi tidak terjadi aksi kekerasan fisik.


Pernyataan Menag Fachrul Razi ini mendapat perhatian dari berbagai kalangan, salah satunya Rektor Universitas Ibnu Chaldun, Sosiolog Prof Musni Umar. Sebab, beliau melihat proses tabayun oleh Banser dilakukan dengan cara membentak dan mengintimidasi.Kalau pernyataan Menag ini benar, amat disayangkan, karena Islam tidak mengajarkan untuk membuat kekerasan, membentak, dan melakukan intimidasi kepada ulama atau kepada siapa pun, ucap Prof Musni sebagaimana dikutip pada akunnya di Twitter, Minggu (23/8).


Bentuk tabayun seperti apa yang dimaksud oleh Menag atas apa yang telah dilakukan Banser tersebut?. Menag semestinya punya kemampuan membedakan tabayun dan persekusi. Sehingga mampu menempatkan diri sebagai penengah dalam permasalahan tersebut. Bukan menjadi pendukung dan pembenar dari salah satu pihak yang belum terbukti benar dalam bertindak.


Dalam KBBI arti dari tabayun adalah pemahaman, penjelasan, sebelum mengkritik. Tabayun berasal dari kata tabayyana, yatabayyanu, tabayyunan yang artinya tampak, jelas atau terang. Maka dari sini, sudah tampak bahwa tidak ada aktivitas tabayun yang benar dalam menvalidasi suatu berita atau informasi, apalagi dengan sengaja menyudutkan orang tertentu.


Tindakan persekusi mulai muncul lagi dan mengkhawatirkan masyarakat. Persekusi sudah mencapai tahap mengancam kebebasan berpendapat dan berkumpul. Persekusi dapat mengancam kehidupan masyarakat karena sekelompok orang bisa menetapkan siapapun dinyatakan bersalah dan menghukum tanpa melalui proses hukum. Sehingga akan lebih berbahaya jika kedepannya Tabayun seperti ini dijadikan standar didalam kehidupan bermasyarakat.


Dalam menjalankan fungsinya, semestinya Menteri agama mampu membedakan persekusi dan tabayun. Apalagi hal yang demikian sangat berkaitan dengan urusan keagamaan yang merupakan bidangnya sendiri.


Gambaran dari kepemimpinan islam yaitu memposisikan dirinya sebagai Junnah perisai untuk umat (menjaga, melayani, dan menyelesaikan) segala problematika yang dihadapi. Oleh karena itu, kepemiminan ini tidak akan mungkin bertahan kecuali adanya Umat islam yang selalu membela dan menyokong begitupun juga dengan kepemimpinan islam yang senantiasa menjalankan fungsinya untuk mengurusi rakyatnya sehingga kemaslahatan tetap terjaga dalam naungan sistem pemerintahan islam.
Wallahualam bis shawab