Oleh: Aulia Rahmah
Kelompok Penulis Peduli Umat

Di tengah pandemi Covid 19, seorang ibu dituntut kuat dalam segala hal, terutama untuk mempertahankan keutuhan keluarga yang menjadi tempat terindah bagi anak-anak dan pasangan hidupnya. Entah kekuatan itu diperoleh dari mana, sebab di era modern ini, ketika sekularisme dipilih menjadi pijakan dalam peri kehidupan, seorang ibu kerap dipaksa untuk menyandarkan kekuatan dari banyaknya uang dan jabatan. Amat sedikit yang menyadari bahwa haruslah menggantungkan kekuatan pada iman, tawakkal, dan pertolongan Allah SWT, Sang pemilik jagat raya. Banyaknya pengeluaran yang diikuti dengan menurunnya pendapatan, membuat seorang ibu pusing tujuh keliling. Mendapat nafkah seratus ribu perhari dirasa kurang memadai. Untuk membayar sekolah, membeli susu si adik, dan seabrek kebutuhan utama lainnya yang tak dapat ditunda. Disinilah kesetiaan istri diuji, ketangguhan ibu diperlukan. Memandang kebahagiaan sebatas materi justru menjadi biang keretakan keluarga, ditambah kurangnya rasa syukur dengan rizki yang didapat, seorang istri mudah sekali menggugat suaminya. Tentu dengan alasan sepele, karena suami kurang memenuhi kebutuhan materi. Si istri dengan mudahnya menghakimi suami, ujung-ujungnya si istri menuntut cerai dari suami. Naudzubillah. Tak sepenuhnya salah ibu, sebab mendidik seorang istri adalah tanggung jawab suami dan negara. Jika suami dan institusi yang ada mengabaikan pendidikan bagi ibu-ibu, terutama mendidik untuk meneladani kehidupan ummul mukminin (istri-istri nabi) yang qonaah, suka berderma, dan menyayangi sesama, maka fenomena istri menggugat cerai suami akan melanda negeri bak air bah. Meluluhlantakan semua bangunan rumah tangga yang sudah berdiri kokoh. Itulah gambaran ibu-ibu modern yang dangkal pola berfikirnya, terseret arus liberalisasi oleh negara yg orientasinya jauh dari Islam. Memandang kemaslahatan hanya untuk diri sendiri dan terbatas pada kehidupan dunia semata. Berbeda dengan sosok ibu yang pola berfikirnya cemerlang. Himpitan ekonomi di tengah pandemi akan menyadarkan mereka bahwa Allah sedang menguji, dan ujian itu tidaklah lama, sebab dunia adalah fana. Disamping itu Allah menjanjikan bahwa dibalik kesusahan ada kemudahan. Keyakinannya ini membawa harapan pada keluarga dan kaum muslimin seluruhnya. Harapan kelak akan dikumpulkan bersama-sama di surga. Mereka senantiasa berkhidmat untuk keluarga, menghormati suami, keluarga besar, dan anak-anaknya. Senantiasa sabar di kala rizki berkurang, dan bersyukur di kala lapang dengan banyak bersedekah dan membantu sesama. Ibu-ibu tangguh juga ikut dalam aktivitas dakwah untuk mengingatkan siapa saja yang saat ini terlupa. Mengingatkan teman, saudara, lingkungan sekitar, bahkan negara. Sebab berbagai kerusakan yang terjadi hingga rusaknya benteng keluarga, kontributor terbesarnya adalah negara. Karena mengikuti politik asing, negara kehilangan kekuasaan atas Sumber Daya Alam yang ada sehingga gagal melindungi keluarga karena himpitan ekonomi dan resesi saat pandemi. Negara sekuler memicu terjadinya kedzaliman, termasuk ramainya seorang istri menggugat cerai suaminya. Padahal jauh 1400 tahun yang silam Rasulullah Muhammad Saw mengingatkan;

“Siapa pun wanita yang meminta talak pada suaminya tanpa alasan yang syar’i maka baunya surga haram baginya” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, Ibmu Majah, dan Ahmad)
Baunya saja tidak dapat apalagi surganya, padahal dalam riwayat yang lain Rasulullah menceritakan bahwa bau surga dapat tercium dalam 500 tahun perjalanan


Ujian itu pasti, jangankan manusia biasa, seorang nabi saja yang dijamin masuk surga tidak luput dari ujian. Nabi Ayyub as. diuji Allah dengan sakit dan kemiskinan sehingga keluarganya meninggalkan beliau. Atas kesabaran dan tawakkalnya, ujian itu dapat dilalui dan Allah mengembalikan kesehatan, kekayaan, dan keluarganya seperti semula.


Kekayaan materi bukanlah sumber bahagia, apalagi uang kertas yang saat ini kita pegang, tanpa basik logam mulia, membuat kita tertipu berlipat-lipat. Kerja keras demi uang kertas yang nilainya semakin hari semakin merosot. Kemuliaan wanita terwujud jika wanita mampu menjalankan perannya sebagai anak bagi ibu dan mertuanya, sebagai istri dan teman bagi suminya, sebagai ibu bagi anak-anaknya, dan sebagai wanita teladan bagi lingkungan masyarakatnya.
Wanita semacam ini tidaklah hadir begitu saja. Ibarat mutiara, sebelum menjadi mutiara yang indah tentu mengalami tempaan keadaan yang sangat menyulitkan. Tetapi keadaan itu haruslah tetap dilalui. Allah tidak akan membiarkan hambaNya yang beriman binasa. Seperti firmanNya; “Benar-benar wajib bagiKu untuk menolong orang-orang beriman” (Qs. Arrum: 47).
Bagi ibu-ibu tangguh, iman adalah wasilah untuk mendapat pertolongan dari Allah. Iman haruslah dipertahankan dengan tetap berbaik sangka kepada Allah, menjaga lisan dan perbuatan dari dosa maksiat, dan terus berharap kebahagiaan dunia dan akhirat. Berharap akan dikumpulkan dengan seluruh keluarga dan pasangan hidup kita, sesuai janji Allah; “Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu karena perbuatan yang telah kamu kerjakan” (Qs. Azzukhruf: 70,71,72).
Ibu akhir zaman, akan tangguh dan kuat menghadapi segala himpitan dan tekanan di masa pandemi dengan bekal iman dan kerjasama yang baik dengan pasangan untuk mempertahankan keluarga agar berjalan lurus di atas Syariat Allah yang mulia. Wallahu a’lam bi ash-showab.