Oleh : Dewi Humairah (Aktivis Millenial)

Virus corona tak terelakkan sudah menyerang hampir seluruh dunia. Para ahli sebelumnya mengingatkan bahwa solusi agar virus tidak tersebar ke mana-mana terutama ke Indonesia adalah dengan lockdown. Tapi nyatanya tidak di gubris akhirnya virus masuk ke Indonesia dan menyebar ke mana-mana. Dan banyak para tenaga medis yang sudah berguguran.

Terbaru Pemerintah DKI akan meniadakan isolasi mandiri khusus bagi pasien positif Covid-19 bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG). Gubernur DKI Jakarta Anise Baswedan mengatakan, pihaknya tengah menggodok aturan untuk mengisolasi orang di tempat milik pemerintah. “Sedang di siapkan regulasinya bahwa solusi mandiri itu di kelola pemerintah sehingga akan lebih efektif dalam memutus rantai Covid-19,” kata Anies dalam rekaman suara yang di berikan Humas DKI, Selasa, 1 September 2020. Menurutnya, tidak semua orang yang terinfeksi virus dapat mengisolasi diri dengan baik di rumah. Anies ragu pasien bisa disiplin dan memiliki pengetahuan cukup tentang protokol kesehatan selama masa isolasi. (TEMPO.CO, Jakarta)

Mereka yang di anjurkan isolasi mandiri fasilitas milik pemerintah hanya penduduk di pemukiman padat. Sementara warga yang rumahnya cukup memadai bisa isolasi mandiri di tempat masing-masing. Jajaran pemerintah DKI di tingkat kota pun tengah menyiapkan balai isoasi komunal untuk pasien bergejala ringan atau OTG. Sejak bulan lalu, DKI sudah menyediakan ruang isolasi di 110 titik. Sayangnya, pasien lebih memilih isolasi di rumah atau Wisma Atlet Kemayoran. Tempat karantina komunal juga ada di Gelanggang Olahraga Tambora, Jakarta Barat. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Kristy Wathini menuturkan, tempat itu di peruntukkan pasien Covid-19 yang rumah nya tak memadai untuk isolasi mandiri.

Dua epidemiolog dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono dan Pandu Riono, pernah melontarkan kritikan soal isolasi mandiri. Tri mengingatkan jumlah pasien positif Covid-19, tak terkecuali di Jakarta, bisa membeludak jika masih di terapkan isolasi mandiri. Rencana pemerintah untuk mengarantina semua warga positif adalah bukti kegagalan pemerintah dalam menyiapkan tenaga medis, anggaran dan fasilitas kesehatan.Padahal secara logis inilah pilihan terbaik yang seharus nya di ambil sejak awal untuk menghentikan sebaran virus.

Kapitalisme jelas gagal dalam memberikan solusi atas permasalah virus ini. Virus yang terus menyebar ke mana-mana akibat penguasa meremehkan virus yang sangat mematikan. Sistem ini menjadi bukti bahwa tidak bisa memberikan solusi sampai ke akar nya. Solusi yang malah menambah masalah demi masalah.

Karantina pembawa virus dan area tertentu yang menjadi sumber sebaran inilah yang di rekomendasikan Islam, bukan lockdown total Dalam khilafah jika ada suatu daerah terkena virus maka daerah itu yang di lockdown bukan malah di biarkan keluar masuk secara bebas.

Khilafah akan memberikan pelayanan terbaik terhadap daerah yang terdampak wabah. Semua kebutuhan akan di penuhi. Jadi rakyat tak di buat pusing karna masih harus memikirkan bagaimana nasib hidup nya dan keluarga nya. Jadi rakyat yang sehat dan di luar di pastikan aman tetep bisa beraktifitas seperti biasa tanpa perlu was-was karna daerah yang terkena wabah sudah di lockdown. Begitu peduli nya Islam terhadap nasib umat. Karna itu juga tanggung jawab seorang khalifah terhadap umat nya. Khalifah akan lebih mementingkan urusan umat ketimbang urusan pribadi. Wallahu A’lam Bishowab