Oleh: Messy Ikhsan

Kesal, geram, kecewa, semua bercampur menjadi satu padu. Tatkala mendapat kabar terjadi penusukan pada Syekh Ali Jaber.

Peristiwa tersebut terjadi saat beliau mengisi acara Wisuda Al-Qur’an di Masjid Falahuddin Jalan Tamin Tanjungkarang Barat, Kota Bandar Lampung, Ahad (13/9) petang.

Syekh Ali Jaber ditusuk lelaki tak dikenal dengan pisau di bahu kanannya. Jemaah yang menangkap peristiwa itu. Langsung membawa beliau ke Puskesmas Gedong Air untuk mendapatkan perawatan. Sementara, pelaku penusuk diamankan ke Mapolsek terdekat. (m.republika.co.id)

Peristiwa tersebut dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad saat dihubungi, Minggu, (13/09/2020)

“Jadi benar, ada kejadian penusukan dari seorang pelaku di tengah kegiatan masyarakat yang bersifat keagamaan dan mengundang Syekh.”

/Pelaku Penusukan Diduga ‘Orang Gila’/

Bukan hal baru terjadi penusukan atau penyerangan terhadap ulama, syekh, dan tokoh agama di Indonesia. Namun, tetap menggunakan framing yang sama. Bahwa pelaku adalah orang gila.

Informasi itu didapatkan dari ayah pelaku yang mengaku sang anak kurang waras selama empat tahun kebelakangan. (harian.momentum)

Lucunya, warga sekitar yang mengenal pelaku mengatakan bahwa selama ini pelaku normal-normal saja.

Apalagi dua tahun lalu, pelaku sempat aktif di media sosial seperti Instagram dan Facebook. Akun atas nama Alfin Andian itu banyak memposting kegiatannya sehari-hari.

Namun, yang sulit dicerna oleh akal. Masa orang gila bisa memilih target penusukan. Antara tokoh agama atau orang biasa saja?

Bukti ini makin menunjukkan bahwa pelaku penusukan bukanlah orang gila. Lantas siapa otak di balik peristiwa ini?

/Sistem Kapitalisme Biang Keladi/

Sistem Kapitalisme yang lahir dari rahim sekularisme, pemisahan agama dari kehidupan. Kian menunjukkan detik-detik kematian.

Sebab, tak becus memberikan jaminan nyawa dan keamaan bagi rakyat. Termasuk pada tokoh agama yang menginginkan kebaikan untuk negeri ini.

Lucunya, untuk menutupi ketidakbecusan itu. Para pengagung Kapitalisme selalu menggunakan framing bahwa pelaku ‘orang gila.’ Agar terbebas dari kecaman dan jeratan hukum.

Kalaupun benar orang gila, kenapa pelaku dibiarkan bebas sebelumnya. Kenapa tak mendapat pengawasan ketat dari keluaraga? Kenapa tak dirawat di rumah sakit jiwa?

Sementara sebaliknya, jika korban bukan tokoh agama dan kebetulan pelaku mengenakan identitas Islam. Sering kali diframing ‘Teroris, Isis, Radikal.’ Padahal belum tentu fakta berkata demikian.

Fakta tersebut makin menunjukkan bahwa sistem Kapitalisme tak berpihak pada Islam umat muslim. Malah, hal yang berkaitan dengan identitas Islam. Selalu diframing negatif.

Maka benarlah firman Allah dalam QS Al-Maidah : 51

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”

Lantas, masihkah berharap pada sistem yang jelas bobrok?

/Kembali pada Islam/

Sesungguhnya, setiap permasalahan negeri ini bersumber karena tidak diterapkan Islam dalam kehidupan. Sebab, Allah yang menciptakan manusia. Tentu, Allah yang paling mengetahui baik-buruk ciptaannya.

Maka para Khalifah sangat memahami esensi penerapan aturan Islam. Memberikan jaminan pada setiap individu. Baik dari segi kenyamanan dan keamanan.

Terutama pendakwah yang notebenenya menyampaikan Islam. Risalah agung untuk seluruh alam. Tentu juga dijamin hak keamanannya.

Selain itu, Islam memelihara akal manusia. Dengan penanaman akidah dan tsaqafah Islam. Sehingga meminimalisir keberadaan orang gila.

Khalifah akan memberikan perawatan dan segala fasilitas yang menunjang proses penyembuhan. Orang gila tak dibiarkan berkeliaran bebas. Sehingga minim peluang terjadi peristiwa seperti penusukan, dan lain-lain.

Masya Allah, begitu keren Islam dan penjagaannya terhadap nyawa manusia. Sehingga hanya rahmat yang terlimpahkan. Ketika Islam memimpin semesta. Allahu akbar!

Allah berfirman :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-Araf : 96)

Tapan, 14 September 2020