Oleh: Maman El Hakiem

Hidup di tengah umat dan bersabar atas segala masalahnya, lebih utama daripada mengasingkan diri karena tidak peduli dengan urusan umat. Begitulah sejatinya dakwah yang telah dicontohkan baginda Rasulullah saw. Rela menahan cacian dan makian, dicibir, diludahi bahkan sampai dilempari batu ketika diusir dari Thaif.

Berdakwah itu menyampaikan kebenaran tanpa harus terbawa perasaan. Maka, darah yang mengucur dari wajah yang mulia dan kata-kata kotor yang dilontarkan para penguasa Quraisy tidak membuatnya bergeming dari tugas dakwah. Jika ada perasaan lelah dan mengeluh, hal yang manusiawi secara fisik ada batasnya.

Namun, perjalanan dakwah adalah seruan dari Allah SWT yang diwajibkan bagi setiap orang yang beriman. Menyeru untuk melaksanakan yang makruf dan mencegah yang mungkar, tidak mungkin berjalan sendirian. Harus berani berinteraksi di tengah umat, sehingga dakwah bukan hanya menjadikan keshalihan secara pribadi, melainkan keshalihan masyarakat.

Dakwah bukan sekedar baik tapi juga memperbaiki. Membuat pengembannya menjadi shalih, juga muslih, menularkan kebaikannya bagi masyarakat. Itulah pentingnya interaksi di tengah umat, agar segala pemikiran dan perasaan umat dapat dipahami, sehingga indahnya ajaran Islam dapat diterima dengan penuh kesadaran. Di sinilah urgensitas dakwah yang sifatnya pemikiran, agar masyarakat tersadarkan, tercerahkan dan akhirnya menyerahkan kepemimpinan berpikirnya secara totalitas kepada syariat Islam, untuk dijadikan aturan yang diterapkan secara utuh dan menyeluruh di tengah masyarakat.


Dakwah yang membuahkan kesadaran, tidaklah mudah dan melalui tahapan dengan tingkat kesabaran yang sangat tinggi. Tetapi, tentu tinggi pula nilai pahalanya di hadapan Allah SWT.

“Jika seorang Muslim berinteraksi dengan masyarakat, lalu ia bersabar dari perlakuan buruk masyarakat terhadap dirinya (dalam dakwah), hal itu adalah lebih baik daripada seorang Muslim yang tidak mau berinteraksi dan tidak bersabar dari perlakuan buruk masyarakat.” (HR al-Tirmidzi).


Imam al-Shan’ani menjelaskan, “Hadis tersebut menjelaskan keutamaan bagi orang yang berinteraksi, menyeru masyarakat pada kemakrufan, mencegah kemungkaran dan memperbaiki tatanan sosial mereka. Hal demikian lebih baik ketimbang orang yang menyendiri dan tidak mau bersabar dalam berinteraksi.” (As-Shan’ani, Subul as-Salâm, V/245).

Al-Hafizh al-Munawi berkata, “Kesabaran yang paling besar adalah, sabar berinteraksi dengan masyarakat dan menahan semua perlakuan buruk mereka.” (Al-Munawi, Faydh al-Qadîr, VI/332).
Bahkan Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata,
“Orang sabar mendapat pahala lebih besar dari orang yang suka berinfak karena kebaikan orang sabar dilipat gandakan menjadi 700 kebaikan.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâri, XVII /274).
WalLâhu a’lam Bish Shawwab.***