Oleh: Nurhidayat S., S.T.P (Relawan Media dan Opini)

Kepolisian Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menerangkan, dari 31 warga dinyatakan meninggal dunia usai menenggak minuman keras oplosan, 7 warga bekasi dinyatakan meninggal dunia di tiga tempat kejadian perkara (TRIBUNJOGJA.COM) Kamis, 05 April 2018 19:26.

Tewasnya warga juga didapatkan oleh pihak kepolisian pada Jumat, 06 April 2018 20:09 (Merdeka.com) (TRIBUNJOGJA.COM) dari tempat yang berbeda tewas setelah menenggak miras oplosan.

Kembali Indonesia mencatat korban yang tewas setelah menenggak miras oplosan, upaya pihak kepolisian dalam memberantas kasus miras oplosan dengan menangkap pengoplos dan menyelidiki penyebaran miras oplosan dari beberapa lokasi penjualan. Namun upaya ini tidak cukup untuk menghentikan akses terstruktur dari pengoplos dan pihak terkait lain yang telah menyebarkan miras oplosan ini.Mengapa tidak? Hanya dalam waktu 3 hari berturut-turut telah menjatuhkan korban yang meninggal dunia ditempat kejadian.

Berulangnya kasus miras oplosan ini menunjukkan ketidakseriusan negara dalam menuntaskan kasus miras yang mengakibatkan rusaknya moral generasi. Sebagaimana yang kita saksikan bahwa negara hanya sampai pada penanganan setelah kejadian, pelaku atau pengoplos akan di proses hukum dan selanjutnya akan ada pelaku lainnya. Ini indikasi bahwa hukum yang diterapkan negara tidak memberikan efek jera bagi pelaku melainkan teguran semata. Dan tidak menutup kemungkinan kembalinya tindakan kriminal lainnya. Negara harus melakukan upaya pencegahan dan proses hukum yang adil dan menjerakan.

Sebagaimana sabda Rasulullah saw. telah melaknat dalam hal sepuluh pihak yang terkait dalam kasus miras: pemerasnya, yang minta diperaskan, peminumnya, pembawanya, yang minta dibawakan, penuangnya, penjualnya, pemakan harganya, pembelinya dan yang minta dibelikan (HR.at-Thirmidzi dan Ibnu Majah). Kasus miras oplosan adalah bukti krisis dan terkikisnya moral generasi serta yang lebih utama adalah abainya pemerintah terhadap urusan moral yang dianggap sebagai urusan individu semata, bukan urusan negara. Bagi negara yang menganut demokrasi sekuler neolib memberikan kebebasan atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) serta pencapaian kebahagiaan berdasarkan materi semata tanpa memperdulikan efek dari lalai dan tidak tegasnya penanganan kasus miras oplosan yang kian merambah keseluruh pelosok negeri. Miras oplosan untuk menenggaknya bukan lagi terkhusus pada kalangan tertentu saja. Semua kalangan yang menganut demokrasi sekuler memiliki potensi dan peluang besar dalam pencapaian oleh standar kebahagiaan berdasarkan peraihan materi sebanyak-banyaknya tanpa melihat efek setelahnya. Ini adalah prinsip yang kebebasan yang melekat ditubuh sistem demokrasi ini. Islam memandang kehidupan adalah roda perputaran yang didalamnya tidak boleh lepas dari aturan sang Pencipta. Islam adalah agama yang mengatur urusan moral sebagimana mengatur urusan lainnya. Penerapan islam secara kaffah menjamin terjaganya masyarakat dari kerusakan moral, termasuk tersebarluasnya sesuatu yang membahayakan umat.

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: Khamar itu adalah induk dari segala keburukan. Siapa saja yang meminum khamar, Allah tidak menerima shalatnya selama 40 hari. Jika peminum khamar mati dan khamar itu ada di dalam perutnya maka ia mati dengan kematian jahiliyah (HR. Ath-Thabrani, ad-Daraquthni dan al-Qudhai).

Begitu juga dengan pelaksanaan hukum dalam islam yang adil. Pihak yang terlibat dalam tindak kriminal layak dijatuhi saknsi sesuai ketentuan syariah.

Sebagaimana Rasulullah saw. pernah mencambuk peminum khamar dengan pelepah kurma dan terompah sebanyak 40 kali (HR. Al-Bukhari, Muslim, at-Thirmidzi dan Abu Dawud).

Ali bin Abi Thalib ra. juga menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah mencambuk (peminum khamar) 40 kali, Abu Bakar mencambuk 40 kali, Umar mencambuk 80 kali. Masing-masing adalah sunnah. Ini adalah lebih aku sukai (HR. Muslim).

Adapun saknsi selain daripada pihak peminum khamar dikenal dengan sanksi tazir, yaitu hukuman yang bentuk dan kadarnya diserahkan pada Pemimpin atau qadhi, sesuai ketentuan syariah. Saksi yang diberikan tentu memberikan efek jera.

Wallahualam bisshawab.