Oleh : Fatmawaty, S. Si (Pemerhati Sosial)


Menteri Agama Fachrul Razi kembali mengeluarkan pernyataan yang kontroversi lantaran membuat statemen negatif mengenai paham radikalisme yang masuk melalui anak good looking, memiliki penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran ) melalui salah satu kegiatan di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9/2020).

Tentunya hal tersebut menuai amarah dan kritikan dari masyarakat termasuk MUI yang beranggapan bahwa lahirnya pernyataan tersebut bukanlah tanpa alasan namun ada agenda terselubung yang masih dipertanyakan.
Propaganda di Balik Isu Radikalisme
Jika kita merujuk pada arti radikalisme, maka biasa diartikan dalam arti yang negatif dan juga positif. Radikalisme berasal dari kata radix yang berarti akar, dalam artian negatif radikalisme berarti sebuah paham yang menginginkan perubahan mendasar lewat jalur yang ekstrim. Namun juga bias berarti positif yakni menginginkan perubahan mendasar menuju kebaikan dengan jalan yang baik tanpa kekerasan.


Namun saat ini pemahaman terhadap radikalisme mengalami pelencengan tidak pada arti yang sebenarnya. Pasalnya rezim saat ini hanya menyoroti radikalisme sebagai citra yang buruk yang jauh dari artian yang positif. Padahal faktanya orang-orang yang dituduh bahkan didiskriminasi dianggap memiliki paham radikal tersebut hanya menyampaikan aspirasinya tanpa pernah melakukan aktivitas fisik/kekerasan. Padahal aspirasi ataupun kritikan yang ada tujuannya untuk membangun dan membawa kepada perubahan menuju perbaikan di negeri ini.


Barat dan para antek-anteknya telah menabur benih-benih kebencian kepada Islam melalui istilah Islam Radikal yang terus digembar gemborkan untuk menjauhkan kaum muslim dari agamanya sendiri dan untuk mengadu domba sesama kaum muslimin istilah Islam Radikal dibenturkan dengan paham Islam Moderat yang sebenarnya merupakan tameng untuk menutupi kebusukan Ideologi Barat dan sebagai senjata untuk menyerang Islam.


Menurut Ahmad Sastra (2018), ada empat karakteristik dan tujuan Barat melancarkan imperialisme epistemologi sebagai propaganda Barat menyerang Islam. Pertama; Harakah at-Tasykîk, yakni menumbuhkan keraguan (skeptis) pada umat Islam akan kebenaran Islam. Kedua; Harakah at-Tasywîh, yaitu menghilangkan rasa kebanggaan terhadap ajaran Islam dengan cara memberikan stigma buruk terhadap Islam. Ketiga; Harakah at-Tadzwîb, yakni gerakan pelarutan (akulturasi) peradaban dan pemikiran. Keempat; Hakarah at-Taghrîb, yakni gerakan westernisasi segala aspek kehidupan kaum Muslim.


Walhasil istilah radikalisme adalah istilah yang sengaja di hembuskan untuk menghalangi penerapan syariat Allah SWT dengan mengeluarkan tuduhan-tuduhan yang menyudutkan orang-orang yang ingin memperjuangkan Islam.


Good Looking Bukan Parameter Radikal
Pada dasarnya Allah SWT sangat mencintai keindahan dan sebagai seorang Muslim tentu menjadi good looking terutama dihadapan Allah SWT adalah sebagai bentuk ketaatan. Good looking bukanlah sebatas konsep keindahan fisik semata namun yang lebih utama adalah good looking dalam kepribadian. Kepribadian Islam mencakup pola pikir dan pola sikap. Ketika seorang muslim menjadikan Islam sebagai landasan dalam berpikir dan bersikap berarti ia telah memiliki kepribadian yang Islami. Sehingga dengan kepribadian yang islami. Kepribadian Islami itulah yang akan memancarakan good looking pada dirinya.


Keindahan fisik yang Allah SWT karuniakan kepada kita adalah anugrah yang harus kita syukuri dengan menjadi hamba yang taat dan menjauhi kemaksiatan, karena setiapnya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Karena kesadaran tersebut Muslim yang good looking akan selalu berusaha untuk menebarkan kebaikan semata-mata untuk meraih ridho Allah SWT. Maka akan mengherankan jika Muslim yang good looking tersebut justru dimata-matai dan dihujat dengan tuduhan-tuduhan radikal yang tidak jelas. Padahal masih banyak permasalahan khususnya di Indonesia ini yang semakin meradang tiap waktunya seperti pergaulan bebas, LGBT, pandemi Covid-19 dan kesenjangan ekonomi masyarakat. Dalam Islam seharusnya Negara mengayomi masyarakat bukannya memata-matai.

Berusaha mewujudkan tatanan kehidupan dengan semakin menumbuh suburkan generasi-generasi muslim yang good looking. Namun semua hanya angin lalu dalam sistem sekuler saat ini yang sibuk bermesraan dengan Barat Sang Imperialis. Semoga pertolongan Allah SWT segera hadir melalui lisan para pengemban dakwah yang good looking yaitu dengan tegaknya system Islam yang good looking Khilafah Ala Min haj Nubuwwah. Aamiin Yaa Robbal Aalaamiin. Wallahu alam.