Oleh: Lestari (Mahasiswa Matematika UHO)

TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah DKI Jakarta akan meniadakan isolasi mandiri khusus bagi pasien positif Covid-19 bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pihaknya tengah menggodok aturan untuk mengisolasi orang di tempat milik pemerintah. "Sedang disiapkan regulasinya bahwa isolasi mandiri itu dikelola oleh pemerintah sehingga lebih efektif dalam memutus mata rantai Covid-19," kata Anies dalam rekaman suara yang diberikan Humas DKI, Selasa 1, September 2020.

(Fokus.tempo.co/05/09/20) Tingkat kematian nakes tertinggi ini tidak lain dengan sebab tidak fokusnya kebijakan penguasa dalam mengatasi wabah. Padahal sejak awal para ahli kesehatan telah menyarankan lockdown dan karantina wilayah. Namun wejangan ini diabaikan karena pemerintah seolah tak serius dan menganggap remeh. Walhasil buah dari kebijakan mereka yang mencla mencle membuahkan hasil buruk dengan terkonfirmasinya jumlah kasus yang meningkat dan jumlah kematian yang mencapai delapan ribu lebih. Barulah sekarang opsi karantina akan diterapkan oleh pemerintah namun sayang, rasanya mustahil mengambil kebijakan ini karena:

pertama, karantina wabah yang sekarang menjadi program pemerintah berdampak besar terhadap ekonomi sedang ekonomi indonesia sekarang tak bisa menjadi tumpuan beban bahkan economy collapse.

Kedua, sedari dulu rezim ini selalu memprioritaskan ekonomi dan mengesampingkan nyawa rakyat. Penguasa lebih mempertimbangkan ekonomi daripada keselamatan rakyat dan tenaga medis yang menjadi taruhannya. Padahal faktanya pemulihan ekonomi yang digencarkan pemerintah tidak berhasil justru memberikan efek buruk yang tumpang tindih. Sementara ribuan korban terus berjatuhan.

Begitulah sikap penguasa di sistem ini justru menggelar karpet merah bagi para konglomerat sedang rakyat dibiarkan menjerit jerit sekarat. Maka mustahil adanya penyelesaian tuntas dalam mengatasi wabah ini selama sistem kapitalis-sekuler masih diterapkan. Karena kebijakan kebijakan yang diambil tidak mampu menuntaskan masalah secara keseluruhan melainkan penerapan parsial saja.

Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan dan bertanggugjawab penuh terhadap kehidupan rakyat seharusnya hadir untuk menyelesaikan segala permasalahan dan melakukan counter terhadap semua informasi tentang pengendalian pandemi Covid-19 ini, tapi malahan yang kita lihat mereka hanya memberikan solusi yang tidak tepat seperti PSBB dan lockdown bagi yang tidak berkepentingan. Apabila yang memiliki keperluan atau pekerjaan penting di luar rumah mereka memperbolehkan untuk keluar padahal dalam hal ini negara harus bertanggung jawab mengurus dan membiayai serta memberikan semua keperluan rakyatnya.

Mengingat pemimpin seperti Umar Bin Khattab pada saat menjadi seorang Khalifah. Ia rela menahan lapar sebelum semua rakyatnya pada saat itu tidak dalam keadaan kelaparan. Tercermin Umar Bin Khattab merupakan Sosok Pemimpin yang bertanggung jawab dan bijaksana. Fenomena ini mengindikasikan bahwa pemerintah tidak mampu meyakinkan masyarakat akan terkendalinya wabah corona dan seyogianya masyarakat tidak lagi mengandalkan pemerintah dalam menyelesaikan kasus Covid-19. Karena semua kebijakan pemerintah terbukti nihil dan nol. Apalagi Peristiwa munculnya Pakar hoax ini membuka lebar mata kita bahwa negara yang menganut sistem kapitalis-demokrasi telah gagal dalam mengurusi rakyatnya bahkan justru menambah benih-benih penderitaan yang tumpang tindih.

Terbukti negera dalam sistem kufur ini tidak mampu memberikan solusi hakiki bahkan solusi yang ditawarkan pemerintah saat ini justru menambah jumlah penderita covid-19. Dalam naungan kapitalisme, masalah terus bertambah. Sikap manusia yang serakah merusak keseimbangan alam. Lambatnya penangan pemerintah terhadap covid-19 membuat masyarakat sudah tidak peduli dan percaya ditambah dengan hadirnya Pakar palsu ditengah badai pandemi. Hingga kasus-kasus yang meremehkan pandangan terhadap virus corona beredar di masyarakat. Demokrasi Sistem Kapitalisme gagal berikan solusi, Islam solusi Tuntas dan Islam Solusi Tuntas Atasi Covid-19.

Lain halnya dengan sistem Islam. Jika terjadi wabah di wilayah Islam, Khilafah akan memprioritaskan keselamatan nyawa manusia. Penanganan wabah akan menjadi hal yang terpenting. Khilafah akan menerapkan lockdown dan social distancing untuk menghentikan penularan. Khilafah juga akan menggunakan anggaran dari baitul mal untuk membiayai pengobatan bagi seluruh rakyat yang terkena wabah. Khilafah akan mendorong dan membiayai para ahli kesehatan untuk menemukan obat dan vaksin bagi wabah. Keputusan lockdown pasti berdampak pada ekonomi. Namun khilafah adalah negara yang luas. Saat wabah terjadi di satu wilayah, wilayah yang lain akan member dukungan logistik, kesehatan dan dana.

Inilah wujud ukhuwah Islamiyah dalam masyarakat Islam. Individu, masyarakat dan negara bersatu-padu dalam menyelesaikan wabah. Akhirnya wabah bisa terselesaikan dan kehidupan kembali normal. Demikian bagusnya penanganan wabah di dalam Khilafah. Wabah akan cepat selesai, nyawa manusia terselamatkan dan ekonomi bisa dikejar setelah kondisi normal.

Inilah contoh gambaran bagaimana Islam memberikan solusi. Namun Islam sebagai solusi ini hanya akan terjadi ketika Islam diterapkan sebagai sebuah sistem yang utuh dan menyeluruh, bukan dengan penerapan parsial. Sistem ini butuh institusi yang akan menerapkan, yaitu Khilafah Islamiyah. Khilafah membangun rumah sakit dengan fasilitas lengkap yang diperlukan untuk memberikan pelayanan kesehatan paripurna kepada setiap warga negara. Khilafah juga memberikan dukungan penuh lembaga-lembaga pendidikan yang akan mencetak sumber daya manusia di bidang kesehatan seperti para dokter, perawat, bidan, laboran medis dan lain-lain, untuk nantinya berkiprah di sektor kesehatan.

Wallahualam bis shawab