Oleh Gazalah Haruriah (Lingkar Study perempuan dan Peradaban Islam)

Sudah mendengar kabar kasus covid-19 yang meningkat kembali? Kasus positif Covid-19 di Indonesia mencatatkan rekor baru yakni menembus angka 3.000 kasus pada Jumat (28/8) dan Sabtu (29/8).

Melonjaknya kasus positif Covid-19 di Indonesia hingga menembus angka 3.000 selama dua hari terturut-turut disebut pakar epidemiologi dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunjukkan penularan virus ‘sangat tinggi dan telah menyasar kluster rumah tangga’.

Sementara itu, analis data dari Pandemictalks menyebut tingkat hunian pasien Covid-19 di rumah sakit di 14 provinsi sudah berada ‘di atas rata-rata’.

Jika kondisi tersebut dibiarkan maka dalam dua bulan ke depan rumah sakit di Indonesia tak lagi bisa menampung pasien Covid-19 dan tingkat kematian diprediksi bisa mencapai 100 perhari.

Berdasarkan naiknya jumlah pasien positif covid-19, pihak pemerintah mengumumkan untuk diberlakukan PSBB kembali.

Banyak sekali pro dan kontra terhadap penerapan PSBB kembali, pak Anies mengumumkan PSBB ketat akan berdampak negatif pada pasar modal dan pasar uang, laju IHSG sempat turun.

Selain itu, orang terkaya di Indonesia, Budi Hartono menyatakan keputusan untuk memberlakukan PSBB kembali itu tidak tepat. Dia memberikan catatan bahwa tidak efektif dalam menurunkan tingkat pertumbuhan infeksi di Jakarta. Hal itu dibuktikan dengan lampiran chart suatu negara yang berhasil dalam menurunkan tingkat infeksi melalui measure circuit breaker.

Beliau juga menyampaikan Our world in Data, salah satu organisasi terkemuka dalam hal Global Covid Reasearch, menujukkan Indonesia, bersama Korea Selatan, Taiwan, Lithuania adalah nengara-negara yang disebut berhasil meredam virus corona. Meskipun, Our world in Data menyampaikan Indonesia termaksud yang berhasil merendam virus Corona namun faktanya malah meningkat serta di lockdwon oleh negara lainnya.

Lantas, bagaimana seharusnya?

Coba bandingkan dengan Islam, ketika sama-sama lockdwon. Perbedaannya dimana? Perbedaannya adalah ketika masa khilafah, khilafah menjamin atas kebutuhan rakyat selama lockdwon, mengunci masyarakat agar tidak keluar dari wilayahnya, serta memberikan obat sebagai proses penyembuhan wabah.

Di zaman Rasululullah SAW pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan sebelum diketahui obatnya. Kala itu, Rasulullah SAW memerintahkan untuk tidak dekat-dekat atau melihat orang yang mengalami kusta atau lepra.

Dalam sebuah hadist, Rasullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‏ لاَ تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

Artinya: “Jangan kamu terus menerus melihat orang yang menghidap penyakit kusta.” (HR Bukhari)

Nabi Muhammad SAW juga pernah memperingatkan umatnya untuk tidak dekat dengan wilayah yang sedang terkena wabah. Dan sebaliknya jika berada di dalam tempat yang terkena wabah dilarang untuk keluar.

Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari)

Dikutip dalam buku berjudul ‘Rahasia Sehat Ala Rasulullah SAW: Belajar Hidup Melalui Hadith-hadith Nabi’ oleh Nabil Thawil, di zaman Rasulullah SAW jikalau ada sebuah daerah atau komunitas terjangkit penyakit Tha’un, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk mengisolasi atau mengkarantina para penderitanya di tempat isolasi khusus, jauh dari pemukiman penduduk.

Tha’un sebagaimana disabdakan Rasulullah saw adalah wabah penyakit menular yang mematikan, penyebabnya berasal dari bakteri Pasterella Pestis yang menyerang tubuh manusia.

Sudah terbukti bahwa dengan cara yang dicontohkan Rasulullah SAW mampu menyelesaikan problematika wabah, maka butuh ada ketegasan pemerintah dalam menjalankannya