oleh : Nailah Al-Farizi
Pengenalan Kehidupan Kampus bagi para Mahasiswa Baru atau yang biasa kita kenal dengan PKKMB bagi masyarakat Unesa merupakan suatu hal yang sudah menjadi tradisi pada setiap tahunnya, pun dengan euforia keseruannya ketika yel-yel atau berjargon, mendapat teman baru yang tidak sejurusan, hingga pada ketegangan ketika ada komisi disiplin (komdis) datang ditengah-tengah forum. dan memang itu suatu hal yang wajar terjadi, dimana PKKMB ini telah terencana, sebagaimana tujuan awalnya yaitu untuk memperkenalkan kehidupan dunia kampus, beserta berbagai cerminan suasana kampus termasuk didalamnya ada interaksi kakak tingkat (kating) dengan adek tingkatnya (ating).


lantas, tahun ini ditengah pandemi covid-19 ini merupakan suasana yang istimewa bagi dunia Pendidikan, dimana segala aktivitasnya dilakukan secara daring. termasuk kegiatan PKKMB ini, merupakan suatu kondisi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya ketika offline. sebut saja perbedaan tersebut terletak pada pengorbanan yang diberikan cukup ekstra ketika PKKMB online, seperti persediaan kuota dan sinyal yang cukup ekstra sangat dibutuhkan. beserta duduk berjam-jam memandang layar laptop atau hp secara monoton.


lalu, yang terjadi pada PKKMB istimewa tahun ini, yang terjadi jatuh jauh dari harapan tujuan dari PKKMB sendiri. sebut saja, hal tersebut terjadi pada salah satu fakultas dalam kampus pendidikan di Jawa timur, fakultas tersebut yang biasa dikenal dengan kampus ungu. dimana, jatuh di hadapan kaum netizen sosial media yaitu dalam unggahannya, akun @skipberat menuliskan caption ‘postingan yg tadi diapus’. Akun @skiberat juga membuat utas bertuliskan Sori banget nih ya menurut gue udahin ajalah tensi2 ospek kyk begini apalagi ospek nya juga virtual. emg dengan mental marah2 lo pada ini bakal bentuk karakter org jd lebih baik? kyk koneksi bagus terus aja, klo udh marah2 terus delay maba jg ketawa liat lo. catet nih panitia, tulisnya seperti yang dilihat (detikcom,15/9/2020).


video yang telah beredar, dimana ketika komdis berada ditengah-tengah maba, dan memeriksa para mabanya dengan nada yang cukup keras dan dapat dikatakan lumayan membentak,, telah menuai respon komentar warganet, dari yang menyikapi pro, kontra, hingga membuatnya sebagai lelucon. tercatat video yang diunggah di akun twitter @skipberat hingga Selasa (15/9) pukul 00.00 WIB itu sudah ditonton oleh 1,6 juta pengguna twitter. Sudah ada 4.213 pengguna twitter yang meretweet, 8.275 mereply (membalas) dan 13 ribu akun yang menyukai video tersebut. (detikcom,15/9/2020).


sebagaimana, sebab viralnya video ini, dan menuai akibat berbagai komentar dari warganet merupakan reaksi yang merupakan suatu kewajaran. dimana dalam hal ini, apabila kita telisik lebih dalam merupakan kesalahan teknis maupun pengaturan yang tak mempertimbangkan dengan matang, dari sebab akibat yang akan terjadi pasca agenda yang telah dilaksanakan. sebut saja :
yang pertama, aturan PKKMB yang telah beredar pada maba, yang terdapat suatu kelonggaran dan multitafsir yang merupakan suatu celah pilihan dapat dipakai atau tidak, contonya penggunaan ikat pinggang. karena jelas dalam aturan yang telah beredar dan disebarkan komdis mengatakan bebas memakai/tidak memakai ikat pinggang
yang kedua, pengaturan satuan komdis yang tak mempedulikan satuan aturan protokol kesehatan yang ada
yang ketiga, pertimbangan yang cukup belum matang terkait konsep managemen konflik yang tercipta di sisi komdis ditengah suasana daring. dimana mungkin ketika offline mungkin tidak menuai permasalahan, karena memang hal tersebut merupakan turun temurun dari kating. namun disini, secara daring yang suasananya pun jauh sangat berbeda dari keadaan offline. dan sekali lagi, dalam keadaan daring ini pun kendalanya multidimensi dan bisa saja masalah tersebut datang dengan tanpa diduga. sehingga dengan adanya pertimbangan yang sangat matag dengan mempertimbangkan akibat yang akan dituai sangat penting dilakukan.
suasana daring, menyibak segala informasi begitu cepat melesat tersebar bagaikan kilat yang menyambar, termasuk sama halnya dengan viralnya video yang tengah terjadi pada kampus ungu menuai berbagai macam komentar dari warganet. lantas dalam hal ini, apabila kita lebih dalam mendetailkan akar masalahnya, dan standar salah benarnya pasti akan selalu menuai suatu pro kontra yang tidak ada ujungnya, karena sekali lagi segalanya bersumber pada sisi kesubjektifan tiap masing-masing orang yang berbeda-beda alias dapat dikatakan hal tersebut merupakan pembenaran belaka.


pembenaran tersebut ada ketika membuat rencana kegiatan, melaksanakan di pekan pelaksanaan, maupun evaluasi setelah pelaksanaan yang dilakukan dengan standar baik dan buruk maupun manfaat dan mudhorot yang diterima disisi manusia. sebut saja dengan masih mengadakannya komdis dengan konsep managemen konflik yang 11-12 hampir sama ketika offline (yaitu dilakukan dengan bentak2 maba, karena tidak menggunakan atribut yang merupakan syarat mengikuti pkkmb dari kakak panitia). dimana hanya tempatnya saja yang menyesuaikan keadaan pandemi (dilakukan via daring), hal tersebutlah yang merupakan salah satu contoh tidak adanya pertimbangan pada standar baku, yang harusna diikuti.
berbeda halnya, bila asal mula segalanya distandarkan pada suatu standar baku yang ketetapannya mampu benar-benar mengatur manusia yang pada hakikatnya manusia lah yang serba kurang, membutuhkan yang lain, dan dialah (manusia) yang membutuhkan aturan baku ini. aturan baku apakah itu? yaitu aturan yag berasal dari sang Khaliq (sang pencipta) seluruh alam dan segala seisinya. aturan tersebut merupakan syariat Islam, yang dengannya mampu mengatur segala segi permasalahan termasuk permaslahan cabang seperti halnya dalam mengatur agenda Perkenalan Kampus bagi Mahasiswa ini, pada saat kondisi pandemi covid-19 ini.
dalam hal ini, syariat Islam hadir dengan memberikan suatu standar yang akan memanusiakan manusia. dimana, masalah akan terselesaikan secara tuntas dan tidak hanya parsial atau sekedar subjektif pendapat masing-masing individu saja. karena sekali lagi syariat Islam sumbernya berasal dari sang Maha pemilik kebenaran. dan penerapannya tidak akan lepas dari suatu sistem darul Islam yang menerapkan aturan Allah secara keseluruhan pada seluruh segi kehidupan.
Wallahu alam bishowab.[]