Oleh : Widya Fauzi

Tak dipungkiri bahwa sejak institusi Khilafah tegak menaungi kehidupan umat Islam di dunia dan tampil sebagai negara adidaya, negara-negara Barat memang terus berusaha mencari berbagai cara untuk melemahkan bahkan menghancurkannya. Karena sepanjang sejarah pula, Khilafah telah menjadi penghalang terbesar bagi agenda penjajahan mereka atas dunia.


Dan dengan kajian panjang, mereka akhirnya menemukan rahasia kekuatan umat Islam, yang tidak lain ada pada ajaran Islam sebagai ideologi beserta institusi politik penerapanya yakni khilafah Islamiyah. Itulah mengapa mereka tak lagi mengambil cara fisik untuk memerangi umat Islam. Tapi mereka kemudian berusaha meracuni umat dengan gagasan-gagasan yang bisa mengebiri pemahaman Islam ideologis ini dan mengebiri ukhuwah hakiki seluruh umat Islam di bawah institusi politik Khilafah yang mendunia, seperti dengan menebar ide sekularisasi dan nasionalisme di tengah-tengah kaum Muslimin, dan ide-ide turunannya yang lain seperti liberalisme, demokrasi, pluralisme, permisivisme, dan lain-lain.


Mereka terus berusaha menjauhkan Islam dari politik dan mengiris-ngiris tubuh umat dengan aktivitas penjajahan, sambil masif menebar racun sekularisme dan ashabiyah tadi di negeri-negeri jajahan dengan memanfaatkan agen-agen mereka di kalangan umat Islam. Dan perjuangan panjang mereka akhirnya menuai hasil tatkala Mustafa Kemal, agen Inggris di pusat Khilafah Turki Utsmani berhasil menghasut sebagian umat dan merebut kekuasaan Khilafah serta menggantikan sistem Khilafah ini menjadi negara sekuler di tahun 1924.


Inilah momen paling menyedihkan dalam sejarah peradaban umat Islam yang sudah tegak selama belasan abad. Mustafa Kemal atas arahan Inggris, berhasil merealisasikan cita-cita terbesar bangsa Barat untuk merenggut kemuliaan umat Islam, merobek persatuan mereka, dan mencampakkannya ke lubang lumpur kehinaan.


Dan hal ini, secara jelas tersurat dalam perkataan Lord Curzon, Menlu Inggris kala itu, beberapa saat setelah Khilafah runtuh, “Kita telah menghancurkan Turki dan Turki tidak mungkin akan kembali bangkit. Sebab kita telah menghancurkan dua kekuatannya; yakni Islam dan Khilafah.” Dan senyatanyalah, sejak momen itu umat Islam hidup dalam keadaan tercerai berai, terhina, terjajah dan terjauhkan dari predikat aslinya sebagai Khairu Ummah (umat terbaik).


Namun saat ini, setelah nyaris satu abad yang memilukan berlalu, kesadaran atas realitas ini mulai bangkit. Melalui aktivitas dakwah kelompok-kelompok Islam ideologis yang muncul di pertengahan abad 20-an, sedikit demi sedikit umat mulai sadar bahwa kondisi buruk yang mereka alami tidak lain adalah akibat mereka jauh dari syariat Islam dan institusi penegaknya, yakni Daulah Islam.

Dalam hal ini, umat mulai mampu merasakan, bahwa tanpa institusi Khilafah, hukum syari’ah benar-benar hilang penerapannya satu persatu. Dan sebagai gantinya berkembanglah berbagai kemaksiatan dan kesempitan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu, setiap kali satu ikatan terburai orang-orang bergantungan pada ikatan selanjutnya. Yang pertama kali terburai adalah masalah hukum (pemerintahan) dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad dari Abu Ya’la, dengan sanad shahih)
Hanya saja, saat ini kesadaran tersebut memang belum begitu mengental dalam bentuk yang mampu menggerakan mereka untuk bersegera mewujudkannya dalam realitas kehidupan. Dan ini adalah PR besar bagi aktivis kelompok-kelompok dakwah yang berkehendak mengembalikan kemuliaan umat dengan Islam. Yakni, bagaimana menggambarkan konstruksi penerapan Islam dan Khilafah dalam detil-detil persoalan hidup mereka. Hingga tergambar jelas betapa Islam dan penerapan Daulah Islam adalah solusi praktis atas persoalan hidup mereka, satu-satunya pilihan jalan bagi mereka, sekaligus kewajiban yang tak bisa mereka elakkan.


Tentu saja, mengembalikan Syrian Islam ke pangkuan umat memang bukan hal mudah. Rintangannya begitu besar karena praktik kekufuran dan penjajahan atas umat Islam di-back up oleh negara-negara adidaya, dengan berbagai strategi jitu dan didukung oleh berbagai sarana dan prasarana yang mereka miliki. Dan di saat sama, mereka pun dibantu oleh anak-anak kaum Muslimin yang rela menjadi umala alias agen penjajah, yang siap mempertahankan sistem sekuler dengan segenap kemampuan mereka demi keuntungan yang mereka dapatkan dari penjajah.


Sementara itu, perjuangan umat mengembalikan kejayaan Islam hari ini hanya bertumpu pada kelompok-kelompok dakwah saja. Namun kelompok ini diisi oleh individu-individu ikhlas yang memiliki semangat juang tinggi dan kekuatan keyakinan serta harapan besar akan pertolongan Allah SWT.


Modal inilah yang justru akan menghantarkan mereka pada keberhasilan meraih dukungan umat. Hingga suatu saat mereka akan mampu memimpin umat melakukan perubahan ke arah yang hakiki yakni dengan tegaknya hukum Islam secara kaffah dalam naungan Daulah Islam sebagaimana yang dijanjikan. Dan saat itulah umat akan kembali meraih kemuliaan hakiki, dan menjadi umat terbaik yang akan menebar rahmat bagi semesta alam.


Firman Allah SWT :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada al khair (Islam), menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung“. (QS. Ali Imran : 104)
Wallahu’alam bish Shawab.