Oleh: Nadia Fransiska L. (Pemalang, Jawa Tengah)

Pandemi tidak kunjung berakhir, justru menunjukkan titik krisisnya. Peningkatan kasus positif baru semakin tajam bahkan banyak pejuang garda terdepan berguguran.
Terhitung sudah enam bulan sejak awal kasus Covid-19 di Indonesia, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat lebih dari seratus dokter gugur dalam medan juang (kompas.com 31/08/2020).

Menteri Kesehatan Terawan berpendapat, hal tersebut terjadi karena adanya celah tidak displin dengan aturan yang sudah diberlakukan, padahal pemerintah telah mencanangkan upaya gerakan nasional massal penggunaan masker. Sungguh penyikapan yang disayangkan, dengan hanya menilai salah pihak lain.

Jika diamati berbagai sisi, maka bukan sikap ketidakdisiplinan penyebabnya. Namun lebih dari itu, yaitu tidak merata dan tidak memadainya alat kesehatan seperti APD yang memenuhi standar, masih minimnya edukasi, pelayanan kesehatan belum memadai, bahkan tidak ada solusi serius sejak munculnya kasus tersebut. Inilah buah sistem kapitalis demokrasi yang diterapkan dengan konsep untung ruginya.

Sejatinya, yang dibutuhkan adalah kebijakan yang mengatur dan melayani sepenuh hati, pemimpin yang loyal dan melindungi rakyat. Karena ini bukan hanya kesalahan personal ataupun teknis. Namun aturan sistem yang harusnya saling bersinergi. Solusi tuntasnya, terapkan sistem yang sahih yakni sistem Islam kafah yang berasal dari Sang Maha Pencipta.