Oleh: Pipin Latifah, S.E.I (Anggota Ibu Profesional Bogor)

Pernikahan adalah syariat Islam yang istimewa. Tujuannya mulia tak sekadar untuk menyalurkan rasa cinta semata. Alquran menuturkan bahwa pernikahan adalah tanda kekuasaanNya. Lalu, ketika masa kini terjadi fenomena pernikahan di usia muda dengan segala alasannya, maupun karena seorang anak meminta untuk segera dinikahkan, bagaimana seyogianya orangtua menghadapinya?
Rambu – rambu apa saja yang semestinya dipersiapkan orangtua? Bagaimanakah Islam menakar kesiapan anak menikah muda?

Seperti dilansir dari laman BBC, ada ratusan kasus perkawinan anak yang dilaporkan terjadi selama pandemi covid-19 di Indonesia. Alasan beragam. Selain dengan alasan menghindari zina, pernikahan anak juga didorong faktor kesulitan ekonomi (25/8/2020).

Pandemi menyebabkan berbagai sektor terguncang. Ekonomi terpuruk, kesehatan terperosok, pendidikan semrawut, kriminalitas melesat, perceraian menanjak, hingga pengajuan dispensasi nikah meroket tajam.

Situasi pandemi ini, ekonomi terpuruk adalah satu diantara alasan orang tua menikahkan anak gadisnya di usia muda. Melepas anaknya menikah sama halnya melepas beban mereka untuk menanggung kehidupan anaknya.

Selain faktor ekonomi, pernikahan di usia muda pun terjadi karena kebosanan sekolah di masa pandemi. Kebosanan itu dirasakan setidaknya tujuh pasangan pelajar tingkat sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Satu diantaranya adalah pasangan pelajar S dan SN, warga Kecamatan Aikmel, Lombok Timur. S merupakan pria pelajar kelas 2 salah satu madrasah di daerah itu dan pasangannya juga merupakan siswa madrasah atas. (kabarnews. 28/8/2020).

Hal yang lebih memilukan, alasan terjadi pernikahan usia muda karena melonjaknya permohonan dispensasi nikah. Di Kabupaten Jepara, Jawa Timur misalnya, 240 pelajar SMA telah hamil di luar nikah (Radar indonesianews.com, 2-8-2020).

Kondisi ini sungguh memprihatinkan. Bagaimanapun, pernikahan adalah perkara agung yang Alquran sebut sebagai ikatan yang sangat kuat (mitsaqan ghaliza) karena Allah yang menjadi saksi. Melangkah ke ruang pernikahan tidaklah cukup jika hanya bermodalkan cinta semata. Apalagi, menikah dengan alasan terpaksa seperti himpitan ekonomi maupun keadaan yang telah hamil di luar nikah.

Pernikahan dalam Islam sangat luhur kedudukannya. Karenanya, dalam Alquran, Allah ‘menitipkan’ visi kepada setiap keluarga muslim agar mereka membangun keluarga sesuai dengan kehendakNya. Visi keluarga apakah yang dimaksud?

  1. Melahirkan generasi yang qurrata a’yun dan menjadi pemimpin bagi masyarakat yang bertakwa sebagaimana dalam Surah Al-Furqon ayat 74.

وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Artinya :
“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

  1. Terhindar dari api neraka sebagaimana dalam Surah At-Tahrim ayat 6.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

  1. Agar keluarga muslim tidak hanya bersama di dunia namun kebersamaannya abadi hingga ke Surga sebagaimana Surah Ath-Thur ayat 21.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Artinya:
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.

Begitu mulianya ikatan pernikahan sehingga Allah memberikan rambu-rambu kepada hambaNya bagaimana membangun keluarga agar dapat bersama hingga ke Surga. Lantas, jika hari ini terjadi pernikahan oleh pasangan belia yang hanya bermodal cinta, cukupkah? Tentu tidak. Cinta yang tidak berdasarkan karena Allah akan mudah terkoyak seiring gelombang masalah yang kerap menghantam rumah tangga. Orang tua sebagai walinya berhak untuk tidak menikahkan anaknya andai mereka memaksa untuk dinikahkan sedangkan bekal untuk menghadapi kehidupan rumah tangga minim mereka persiapkan bahkan tidak tahu sedikitpun ilmunya. Bosan dengan sekolah daring lantas memilih untuk menikah saja adalah alasan yang sangat lucu. Apakah dengan menikah, mereka tidak akan pernah bosan dan angan mereka akan terwujud bahwa menikah akan selalu menuai bahagia selamanya bak dongeng Cinderella?

Adapun ketika orang tua hendak menikahkan anaknya dengan alasan mengurangi beban karena didekap himpitan ekonomi, maka, cara terbaik untuk menghadapinya dengan takwa padaNya. Percayalah, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan setiap iman hambaNya. Dengan bekal takwa, janjiNya akan memberikan jalan keluar padanya dan mendatangkan rizki dari arah yang tidak disangka olehnya. Jika seorang hamba benar-benar bertakwa padanya, niscaya Allah akan memberikan rizki padanya seperti pemberian rizkiNya pada burung. Burung pergi pagi hari dalam keadaan perut lapar dan ia kembali dalam keadaan kenyang.

Al-ustadz Budi Ashari, Lc pernah menyampaikan bahwa pada burung telah Allah letakan ‘GPS’ di kepalanya hingga ia tahu dimana letak rizkinya hari itu. Untuk manusia, ‘GPS rizkinya’ diaktifkan dengan tawakkal.

Lain halnya dengan pernikahan yang terjadi karena hamil di luar nikah, ini adalah sebuah alarm keras akan kurangnya pengawasan dan pendidikan yang diberikan orang tua pada anaknya. Khususnya untuk seorang anak perempuan, ketika ia dipenuhi kebutuhan kasihnya dan dibangun egonya oleh ayahnya, niscaya ia tidak akan mudah menyerahkan mahkotanya kepada lelaki yang bukan suaminya.

Kewajiban pendidikan anak ada di pundak orang tua karena Allah secara langsung menitahkannya. Adapun sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya adalah partner untuk mendidik anak-anak mereka. Melepaskan tanggung jawab sepenuhnya kepada pihak sekolah adalah sebuah tanda kemunduran generasi karena justru di rumahlah seorang anak dapat melihat dan mempelajari atmosfer kebaikan dari orang tuanya yang sangat efektif hasilnya dibandingkan hanya mengandalkan sekolah.

Islam tidak menghalangi setiap muslim yang hendak menikah muda. Bahkan, Rasulullah Saw. menganjurkan ummatnya untuk bersegera menikah bagi yang mampu.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda, barangsiapa yang sudah sanggup menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu obat pengekang nafsunya” (HR. Bukhari no. 5056, Muslim no. 1400).

Tentu, menuju gerbang pernikahan diperlukan ilmu dan skill untuk mengarungi bahtera rumah tangga agar tercapai visi membangun keluarga sesuai yang Allah kehendaki. Orang tua pun seyogianya memaksimalkan perannya dalam mendidik anak-anaknya agar siap menikah dengan membekalinya ilmu dan skill rumah tangga. Jangan sampai, bangunan rumah tangga sebuah keluarga muslim begitu rapuh karena tidak adanya pemahaman serta skill yang tak terasah.

Bagaimanapun, keluarga adalah institusi terkecil sebuah peradaban. Ketika saat ini kaum muslim berjuang untuk membangun kembali peradaban Islam, maka, mari perbaiki juga dari keluarganya agar tidak lagi terjadi fenomena pernikahan yang minim misi dan jalan menuju pernikahan pun dilakukan secara benar dan sesuai syara.

Wallahu a’lam.