Oleh: Yeni Marlina A.Ma
(Pemerhati Kebijakan Publik dan Aktivis Muslimah)

Ada persoalan penting yang menjadi fokus pemerintah saat ini. Pandemi yang berkepanjangan sudah mencapai korban 229.000 jiwa (17/09/20), bahkan kembali di gencarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terutama bagi wilayah yang terkategori zona merah. Wajar dan logis konsentrasi mengatasi persoalan kesehatan untuk menyelamatkan jiwa rakyat diatas segala-galanya.

Namun ironis, pemerintah sepertinya selalu ingin mengalihkan persoalan kepada isu yang tidak ada kaitannya dengan masalah darurat yang dihadapi negeri ini. Bahkan sama sekali tidak ada kepentingannya, jika negara benar-benar memfungsikan diri sebagai pelayan dan pengurus rakyat.
Alih-alih mau mengurus rakyat, saat ini rakyat sepertinya disuasanakan sebagai pihak yang selalu tertuduh. Negeri ini adalah negeri muslim dengan penduduk mayoritas muslim. Nyatanya panah tuduhan selalu dibidikan ke arah Islam.

Isu radikalisme kembali diangkat dalam narasi-narasi miring para penjabat. Setelah beberapa waktu dijadikan sebagai tanggapan serius dalam materi pembelajaran. Sangat jelas semuanya mengarah hanya pada umat Islam. Istilah-istilah yang berbau mengacaukan dan tendensius dialamatkan pada Islam. Seperti fundamentalis, ekstrimis, aktifis teroris hinga radikalis.

Tak tanggung-tanggung kejelasan alamat panah kebencian pada Islam sangat nyata. Nilai-nilai Islam yang dengannya agama ini jadi agung di opinikan sekian rupa agar bermakna sebaliknya. Seperti ide khilafah dikatakan berbahaya padahal jelas-jelas khilafah bagian dari ajaran Islam. Bahkan sejarah mencatat berjaya dalam waktu yang cukup panjang lebih kurang 13 abad lamanya. Menebar rahmat dan menyelamatkan manusia dari pemujaan dunia.

Perhatikan kasus terbaru pernyataan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan untuk tak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai aparatur sipil negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). (cnnindonesia.com, 2/9/2020)

Pernyataan yang sarat rekayasa, sekalipun Menag menyatakan khilafah bukan ide yang dilarang, namun jelas dalam pernyataannya bahwa pelakunya dilarang menjadi ASN dan dicap radikal. Ini apa maksudnya??, nalar sederhanapun bisa menyimpulkan ketetapan dan pernyataan sama-sama bermakna larangan.

Disisi lain pernyataan kontroversial Menag bahwa para agen radikalisme adalah mereka yang good looking, pandai berbahasa arab, imam masjid dan hafizh Qur’an. Kemudian muncul ide untuk melakukan sertifikasi kepada para da’i yang menyampaikan ceramah di masjid-masjid. Hal tersebut dilakukan tidak lain sebagai upaya untuk mencegah penyebaran paham yang dianggap radikal. Sangat jelas kemana panah radikal di arahkan??..Islam, umatnya dan para pendakwahnya menjadi sasaran bidikan.

Deradikalisasi terus dilakukan untuk menangkal radikalisme. Seolah masalah besar bangsa ini adalah radikalisme.
Jika mau berpikir dengan jernih dan jujur. Apakah krisis ekonomi berkepanjangan dan menuju resesi saat ini karena radikalisme? Apakah para koruptor yang menghisab kekayaan rakyat karena radikalisme? Apakah mereka yang berpesta seks karena radikalisme? Remaja tawuran dan bunuh-bunuhan karena radikalisme? Angka bunuh diri sebab kesempitan hidup karena radikalisme? Bahkan pandemi belum usai hingga penolakan 59 negara terhadap WNI akibat penanganan covid-19 yang sangat kacau juga karena radikalisme?. Dan banyak lagi problem multidimensi negeri ini. Apakah semua kerena radikal yang dimaksud??….jujur saja harus di akui semua ini menjadi fitnah yang sangat keji. Tuduhan yang tidak dibenarkan. Bahkan bagian dari tipu daya untuk membodohi rakyat. Menuduh ajaran Islam yang harusnya menjadi rahmat semesta alam, generasi muda terbaik yang taat agama harus diwaspadai, para da’i dan ulama aset umat sebagai rival politik rezim.

Dengan banyaknya kasus ini menjadi kesadaran bagi umat Islam bahwa isu radikalisme hanyalah sebagai alat pukul rezim terhadap geliat kebangkitan Islam yang mulai dirasakan. Bahkan sebagai upaya menutupi kelemahan rezim menghadapi koreksi dan kritik rakyat.

Sistem yang diterapkan negara saat ini paling bertanggung jawab. Yaitu sistem kapitalis, sekuler yang mengangungkan Demokrasi asas dari segala-galanya. Terbukti membuat kehidupan semakin kacau dan kebebasan yang kebablasan membuat yang berkuasa semakin kuasa menerapkan kebijakan, sekalipun hingga tindakan yang menzalimi.

Pupuslah sudah kepercayaan rakyat pada para penguasa. Saatnya umat Islam bersatu, bahu membahu untuk menangkal bidikan panah radikal ini. Tinggalkan segala perselisihan dan merapatkan barisan menghadapi penghalang kemenangan.

Umat siap dan siaga menjaga para pemuda dan ulama yang berada di garda terdepan membela agama. Menjaga nama baik mereka sebagai aset bangsa adalah sebuah kemuliaan. Serta menjaga kehormatan mereka dengan pembelaan dari segala fitnah dunia.

Bagi para dai dan ulama, tetap istiqamah dalam perjuangan. Meyakinkan diri jalan dakwah adalah jalan yang ditempuh para nabi, sahabat dan orang-orang mulia setelah mereka. Jalan orang-orang shalih. Bahkan sebagai pewaris para ambiya’, tetaplah Allah sebagai sandaran segalanya. Setiap ujian dan musibah yang menimpa di jalan Allah tetaplah baik bahkan mendapat pujian sekalipun ajal menjemput sebagai syuhada. Da’i dan ulama yang hanif tidak berdakwah menunggu sertifikat namun melakukan semua karena perintah langsung dari Allah SWT. Sekalipun orang-orang kafir, zalim dan munafik tidak menyukainya.

Akan datang masa dimana Allah akan menunaikan janji-Nya. Sejatinya para pembenci kebenaran dan penghalang jalan kebaikan akan menunggu waktu yang tepat. Hingga Allah mendatangkan keputusanNya. Cahaya kebenaran Islam tidak akan mampu mereka padamkan, sebagaimana firman Allah SWT :
“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai”. (QS. At-Taubah: 32)

Kemenangan sebagai bisyaroh dari Allah SWT adalah benar. Kembalinya kejayaan Islam Kaffah dalam naungan Khilafah ar-Rasyidah.