Oleh: Maman El Hakiem

Mengutip ucapan Rocky Gerung: “politik yang tidak mendistribusikan keadilan adalah politikus”. Menarik, kenapa tikus dijadikan binatang yang mewakili politik? Zoon politicon, artinya binatang yang berpolitik. Dalam bahasa sederhana, cuma hewan yang mendekati “genus” manusia, sedangkan tumbuhan tidak bisa “berpolitik”. Kenapa? Konsep keadilan hanya ada pada makhluk yang dikaruniai pikiran.

Hewan termasuk makhluk berpikir dengan instingnya, sedangkan manusia melalui akalnya. Apa yang dipikirkan hewan sifatnya “khasiat” yang bersifat statis, karena itu penggunannya bergantung kebiasaan. Hewan kucing misalnya jika di sodorkan ikan emas dan “emas batangan”, tentu akan memilih ikan, karena dalam pikirannya hanya ikan yang memiliki manfaat dan berharga baginya.

Manusia yang hanya menilai sesuatu dari manfaatnya, bukan halal dan haram,tidak lebih sama seperti hewan. Bagi hewan dalam otaknya hanyalah apa-apa yang bisa diambil manfaatnya. Karena itu jika ada binatang yang berpolitik, tentu tikus bisa mewakilinya. Tikus itu selain pandai bersembunyi juga rakus meranggas, dari padi sampai jaringan kabel listrik.

Manusia, seharusnya tidak seperti tikus karena memiliki derajat lebih tinggi. Namun, faktanya banyak yang lebih meranggas bukan hanya kabel bisa juga listrik dan hutan dimakannya. Terlebih aturan atau sistem yang diterapkannya adalah kapitalisme seperti saat ini. Standar perbuatannya adalah kemaslahatan semata, sedangkan ukuran kebahagiannya sekedar urusan materi dengan mengabaikan halal dan haram. Tidak mengherankan jika kapitalisme hanya melahirkan para politikus yang rakus.

Lalu, bagaimana politik dalam sistem Islam? Politik dipahami sebagai “pengaturan urusan umat”. Maka, politik Islam sejatinya adalah pengaturan segala urusan umat dengan aturan Islam. Hal ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mampu menyelesaikan segala permasalahan umat. Jika mencari konsep keadilan yang mampu terdistribusikan dengan baik, maka Islam telah sejak dulu memberikan contoh bagaimana kepemilikan harta diatur sedemikian rupa, sehingga sikap rakus dan monopoli dapat dihindari.

Politik adalah kebijakan negara,seorang khalifah, bukan sekedar masalah “riasah”(kepemimpinan) tetapi juga “riayah” pengurusan terhadap seluruh rakyatnya. Ketika aturan Islam diterapkan secara kaffah, maka konsep keadilan dapat terwujud dengan baik, karena aturan yang digunakannya adalah kaidah-kaidah keadilan yang bersumber dari Yang Maha Adil, Allah SWT.

Wallahu’alam bish Shawwab.***