Oleh: Yuyun Rumiwati

Emak-emak (ibu-ibu) adalah bagian dari komunitas para hawa yang punya potensi besar bagi kualitas generasi. Lebih dari itu komunitas emak-emak juga punya potensi untuk berperan sebagai pengawal arus perubahan dan control sosial kebijakan.

Namun, tak jarang pula para emak juga teruji dalam kungkungan “baperan”. Mudah tersulut emosi dan sensitif pada permasalahan yang sifatnya pribadi. Jadi tak heran jika di jagad medsos sering ditemukan luapan kebaperan ini.

Mungkin ada satu pernyataan apa benar kalangan hawa tercipta mudah baper, perasa , sensitif dari pada kaum Adam. Tentu hal ini tak lepas secara alami dari fungsi kaum hawa yang nantinya sebagai ibu. Yang dengan naluri kelembutannya siap menjadi tempat nyaman bagi si buah hati.

Namun, bukan berarti naluri ini berjalan semaunya. Karena sang pencipta manusia Allah. Telah memberikan aturan sempurna bagi manusia termasuk kaum hawa. Jika tidak dengan pedoman yang khos. Hanya berjalan menuruti nsluri tak heran jikamudah berganti. Dari rasa cinta berubah benci dan marah. Cukuplah kejadian pemukulan oleh seorang ibu kepada anaknya karena tidak sabar mengajari anaknya ketika daring menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, tentang arti pentingnya sebuah ilmu, pemahaman dan kekuatan iman agar tidak mudah terseret pada amarah.

Dengan berjalan sesuai aturan inilah kaum hawa bisa mengatur gejolak naluriahnya dengan pemikiran khas (pemahaman Islam).

Lalu apa kaitannya antara para emak Baperan dan Berperan. Baperan cenderung terjadi karena mengedepankan naluri (perasaan) entah perasaan eksistensi diri atau naluri kasih sayang. Namun, kurang diiringi dengan analisa fakta dengan menggunakan kerangka berfikir yang benar.

Dampaknya reaksi baperan cenderung redaksional, emosional, lebih banyak berpersepsi dari pada melihat hakikat fakta dan mencari solusi.

Tentu kondisi ini tidak hanya terjadi pada kaum hawa atau para emak dengan segudang amanah mulia. Mulai sebagai istri, ibu dan pendidik pertama bagi buah hati. Menejer rumah tangga. Belum lagi jika ada amanah wajib publik baik dakwah atau amanah kerja dan sebagainya. Pada kaum Adam pun sikap baper ini bisa jadi terjadi. Namun, kuantitas dan pola reaksinya berbeda dengan kaum hawa. Yang cenderung menangis dan curhat.

Lalu apakah naluri sensitif dan peka ini berpeluang negatif?Tentu tidak selama dimenejemen sesuai aturan yang benar (Islam). Maka disinilah dibutuhkan ilmu untuk meningkatkan kedewasaan berfikir. Dan kematangab mengelola perasaan (naluri), untuk mematangkan kedewasaan bersikap.

Kematangan aspek pemikiran dan sikap ini tentu bukan hal yang mudah butuh proses dan latihan terus menerus. Karenanya dengan mengenal potensi akal (berfikir), dengan potensi naluri dengan segala ciri khasnya. Termasuk kewajiban mengenal ilmu Islam untuk membuat kesimpulan secara pemikiran dan menjadi kesadaran untuk memimpin cara bersikap inilah yang memudahkan bagi kaum hawa fokus atas perannya.

Dengan mengenal dan atas perannnya, di ruang domestik (keluarga) maupun peran sosial kasyarakatan (dakwah) maka kaum hawa akan mencurahkan tiap potensinya untuk menyalurkan sesuai peran tersebut. Dengannya sikap baper yang cenderung sibuk dengan masalah pribadi yang tak.kunjung usai karena tidak fokus cari solusi. Akan tersalurkan pada aktivitas yang produktif dan berfaidah. Yaitu untuk terus belajar demi teroptimalkan amanah sesuai peran istimewa yang Allah anugerahkan di pundaknya. Salam terus berbenah dan belajar serta bersinergi untuk kebaik dunia dan akhirat.