Oleh: Desti
(Ibu Peduli Generasi)

Menteri Agama belum lama ini kembali membuat pernyataan yang kontroversial. Fachrul mengungkapkan bahwa institusi pemerintahan memiliki banyak peluang untuk disusupi paham radikal. Caranya diawali dengan mengirimkan anak ‘good looking’ untuk mendapatkan simpati, seperti seorang anak yang menguasai bahasa Arab dan hafal Alquran atau hafidz.(Republika.co.id)

Pernyataan Menag di atas, tentu menuai kontroversi. Bagaima bisa, seseorang dikatakan radikal ketika memiliki tampang yang good looking, hafidz Alquran dan menguasai bahasa arab? Bukankah apa yang disebut radikal oleh beliau itu dambaan semua keluarga Muslim terhadap anak-anaknya? Ini pernyataan yang bisa memporak porandakan mimpi.

Sepanjang yang kita tahu, seorang hafidz Alquran, kegiatannya ya menghafal Alquran. Memutqinkan Alquran. Mana bisa di cap radikal? Dan good looking itu relatif. Bukan sebuah standar kepribadian seseorang. Kita tidak dapat menilai seseorang hanya dari penampakan luarnya saja. Ini hanya soal fisik. Good looking hanya bonus bukan dibentuk untuk kepentingan apapun, apalagi simpati. Jadi, ahli bahasa arab, hafidz Alquran yang good looking tidak ada hubungannya dengan radikal. Wallahu a’lam bishawab.