Oleh: Teh Ini
Ibu Rumah Tangga

Keluarga adalah tempat pertama bagi setiap manusia memahami makna hidup.

keluarga juga yang menjadi tempat pembinaan generasi calon pemimpin umat dimasa depan.

Sayang, ancaman terhadap kerusakan institusi keluarga begitu nyata di depan mata.

Kerusakan keluarga itu sendiri sebenarnya dimulai dari tak berpungsinya setiap individu dalam menjalankan peran dan tugas dalam keluarga dengan baik.

Demikian juga dengan banyaknya anak yang bermasalah,tentu bukan karena semata-mata orang tuanya yang tidak menjaga dan melindungi anak-anaknya di rumah, datangnya berbagai problem adalah problem sistem sekuler yang diterapkan yakni agama dipisahkan dari kehidupan.

Untuk itu, salah satunya Islam dibutuhkan sebagai solusi yang sistemik agar perempuan&keluarga juga generasi bisa diselamatkan.

Adapun permasalan yang paling parah di musim pandemi yaitu tingkat perceraian yang semakin merajalela karena perekononian memburuk dampak dari covid19 dan berbagai kejadian lainnya yang menimpa seluruh anggota keluarga.

Terutama terkait masalah ekonomi pun menjadi penyebab berperannya seorang istri untuk bekerja diluar rumah ataupun cari penghasilan onlina diharapkan bisa menambah penghasilan keluarga.

Dan, akhirnya muncul permasalan baru peran gontaganti kepemimpin an dalam keluarga pindah pada perempuan.
Perempuan dituntut bisa menyelesaikan berbagai problematika kehidupan.

Menjadi pendidik di rumah dengan tugas daring anak- anaknya,
dll.

Akhir akhir ini juga… Permasalan yang paling parah dari generasi dua tahun kebelakang dan sampai saat ini, menjadi tahun darurat seks pada anak dan kekerasan pada anak.hal yang sangat penting tuk diselesaikan.
dengan cara terbaik.

mengatasi problem keluarga dan generasi untuk saat ini, tentu butuh dari akar yakni solusi Islam.

Karena, ruksaknya keluarga adalah efek dari ruksaknya sistem yang tidak berdasarkan pada islam/Sistem Sekuler.
Intinya: memuja kebebasan.

Sekulerisme: memisahkan agama dari kehidupan.

Mereka beranggapan, jika pria boleh poligami, kita juga (wanita) bisa poliandri. Penyerangan mereka terhadap syari’at Allah dianggap wajar, tanpa mereka sadari bahwasanya hal itu bisa mengantarkan kepada kebinasaan dunia dan akhirat.

Mereformasi pemikiran dan identitas Muslimah adalah target utama dalam rencana kolonial untuk menghancurkan dan mencegah pemerintah Islam, karena kekuatan-kekuatan Eropa mengakui bahwa di dalam masyarakat Islam, perempuan adalah pusat keluarga, jantung masyarakat, dan pendidik generasi masa depan. Oleh karena itu, menjerat hati dan pemikiran mereka menjadi penting dalam mengatur ulang mentalitas seluruh masyarakat Muslim.

Wajar jika kaum muslimah menjadi target utama penjajah, mengingat peran strategis mereka di dalam keluarga dan masyarakat. Tidaklah berlebihan jika Islam memandang bahwasanya wanita adalah tiang negara. Sebab wanitalah penentu kualitas generasi ke depannya.

Munculnya fenomena wanita ASN yang poliandri menjadi salah satu keberhasilan penjajah menjauhkan kaum perempuan akan syariat dan nilai-nilai Islam, mereka bangga bisa bersaing dengan pria. Mereka beranggapan, jika pria boleh poligami, kita juga (wanita) bisa poliandri. Penyerangan mereka terhadap syari’at Allah dianggap wajar, tanpa mereka sadari bahwasanya hal itu bisa mengantarkan kepada kebinasaan dunia dan akhirat.

Lihatlah ketika perempuan melawan kodratnya, problem menimpa perempuan dan anak makin masif terjadi. Variasi persoalannya makin beragam dan tingkat kompleksitas penyelesaiannya makin berat. Negara tidak berdaya karena berpijak pada hukum yang salah.

Kebijakan negara yang membebek barat menjadikannya tidak memiliki supremasi hukum yang jelas. Hukum Allah yang bisa dijadikan solusi malah dicampakkan, bahkan penyerunya dikriminalisasi. Jadi wajar jika musibah terjadi tanpa henti.

Nah, hanya Islam sebagai agama sempurna memiliki seperangkat aturan yang lengkap dan mampu menyelesaikan berbagai persoalan hidup baik yang bersifat individu, keluarga, masyarakat maupun negara. Islam dengan kepemimpinannya dalam naungan khilafah berhasil menjadi negara adidaya dunia dan mampu bertahan hingga 13 abad.

Andai kaum muslimin berislam secara kaffah dan tidak mencukupkan diri hanya sebatas ibadah, dan khatam bacaan Qur’an saja niscaya kebangkitan Islam akan mudah terealisasi, seluruh persoalan hidup teratasi dan keberkahan hidup memancar dari langit dan bumi. Tidakkah kita rindu?

Wallahu a’lam