Oleh: Maman El Hakiem

Buku-buku itu tampak berdebu. Meskipun tertata rapi di lemari,tetapi sampulnya banyak yang kusam. Mencoba menulis lagi di temaram malam.

Baru saja ada pemadaman aliran listrik. Beruntung, masih ada lilin yang bisa kunyalakan. Di luar rumah, suara jangkrik memecah kesunyian.

“Nak, kalau sudah selesai belajar,cepat tidur ya! Jangan sampai rezekimu dipatok ayam.” Begitu nasihat ayah setiap menjelang tidur. Kamar bilik bambu, beratap tanpa flapon yang jika hujan turun, rembesan hujan masih jatuh di atas meja belajar dari kayu mahoni.

Seragam putih abu-abu yang mengait di kastop, masih bau keringat. Dua hari sekali dicucinya, apalagi kaos kaki kadang seminggu sekali. Mencari ilmu harus dengan kesabaran dan pengorbanan. Pada zamannya, sekolah itu mahal, karenanya ilmu yang diterima harus berguna di kemudian hari,bukan hanya demi selembar ijazah.

“Cita-citamu mau jadi apa?” Pertanyaan itu yang selalu ditanyakan guru di sekolah. ” Aku mau jadi dokter.” Riko menjawab. ” Mau jadi guru.” Kata Dian tegas. “Lalu kamu, mau jadi apa?” Tanya guru kepadaku.

Aku selalu bingung, karena kalau mau jadi dokter, harus kuliah super mahal. Sedangkan jadi guru, teringat ucapan guruku sendiri, ” Jangan jadi guru seperti bapak ya, gajinya kecil.” Waktu itu menjadi guru gajinya jauh di bawah buruh pabrik, cuma ada tunjangan beras saja. Jadi, tiap bulan para guru dapurnya masih bisa ngebul meskipun di tanggal tua.

“Cita-citaku sangat tinggi Pak, ingin menyambut malaikat.” Jawabku memberanikan diri. Tentu, teman-teman menertawakan. Pak guru juga merenung, karena jawabanku terlalu mengada-ada, bahasa metafora. “Bisa kamu gambarkan, jalan meraih cita-citamu itu?” Tanyanya lagi.

Aku terdiam, karena ucapanku itu sekedar mengingat dongeng waktu kecil yang selalu diceritakan ayah. Tentang malaikat yang selalu turun ke bumi memberikan rezeki sebelum suara ayam berkokok. “Cepat tidur dan cepat bangun, agar rezekimu tidak dipatok ayam.” Begitiu nasihat ayah setiap usai bercerita.

Waktu terus melaju, hidup tak terasa di ambang senja usia. Cita-citaku yang ingin menyambut malaikat belum juga tergapai. Karena itu aku selalu terbangun sebelum ayam berkokok dan mencari malaikat yang turun ke bumi.

“Telah bertahun-tahun menunggu malaikat turun ke bumi, hingga tulisanku telah beranak pinak, menjelma menjadi ruh yang hidup dalam keluarga.” Itulah kalimat bersajak yang kini dibaca berjuta manusia.

Lewat tulisanku di sampul buku yang kusam itu, baru kutemukan ternyata malaikat mengaminkan doa hamba-Nya yang berserah diri penuh khusyu berdoa di sepertiga malam. Mereka yang mampu shalat dua rakaat sebelum subuh adalah lebih baik dari dunia seisinya. Ketika cita-cita bukan sekedar meraih harta, tetapi pahala dan nilai guna, itulah rezeki sesungguhnya yang tak mungkin dipatok ayam.***