Oleh: Ummu Syanum (Anggota Komunitas Setajam Pena)

“Dan janganlah kamu mengalihkan wajah dari manusia ( karena sombong ) dan janganlah berjalan di bumi denga angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang- orang yang sombong dan membanggakan diri”(QS Al- Luqman 18).

Gambaran dari ayat diatas nyata-nyata sesuai dengan gambaran yang terjadi di negeri ini. Keangkuhan Rezim yang dari awal terkesan plin-plan dan tidak serius dalam menangani wabah, membuat keadaan semakin runyam dan tak terkendali. Ekonomi semakin anjlok, hingga yang terbaru 59 negara me-lockdonwn negara kita tercinta.

Masih ingatkah kita saat para penguasa rezim melempar gimmick candaan yang terkesan meremehkan dan sombong. Seperti,
“Corona tidak akan datang karena Indonesia negara tropis.”
“Di Cina kan, persentasenya kecil, jadi enjoy aja”.
“Orang Indonesia biasa makan nasi kucing, jadi kebal dengan virus.”
“Virus Corona tidak masuk di Indonesia.”

Seperti gayung bersambut, tidak lama dari cuitan-cuitan itu, kasus pertama diumumkan dengan dua orang terinfeksi Covid -19 pada 2/3/2020. Seolah membuat pemerintah terdiam, negara binggung, karena sejak dari awal sudah menyepelekan. Disaat yang sama rakyat mendesak agar menyetop masukkan warga asing ke Indonesia, justru pemerintah mendatangkannya.

Kini, seperti dilansir tribunternate.com, update sebaran kasus virus Corona di indonesia per Rabu (9/9/2020). Berdasarkan laporan data pada akun Twitter @BNPB_Indonesia, Rabu (9/9/2020) sore, tercatat ada 3.307 kasus baru. Sehingga total kasus virus Corona di Indonesia menjadi 203.342 orang. Untuk jumlah pasien yang sembuh bertambah sebanyak 2.242 orang. Sedangkan 8.336 pasien positif Corona dilaporkan meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah 106 dari pengumuman dihari sebelumnya.

Penyebaran virus Corona di Indonesia ini tersebar dalam 34 provinsi di Indonesia. Per tanggal (9/9/2020), DKI Jakarta mencatat kasus baru terbanyak dengan jumlah penambahan 1.004, sehingga total ada 49.397 kasus.

Ditengah semakin banyak lonjakkan kasus Covid -19 yang belum ada penjelasan,kini Indonesia kembali menjadi sorotan dunia. Bukan karena prestasinya, melainkan karena sedikitnya 59 negara melarang warga negara Indonesia masuk ke negaranya. Hal ini tidak lain karena tingginya tingkat angka kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Menurut Rizal Ramli, kebijakan yang diambil oleh Malaysia yang melarang WNI masuk ke negaranya menjadi tamparan keras bagi pemerintah Indonesia. Sebab, pemerintah hingga kini tak melakukan lockdown atau setidaknya melarang warga negara asing masuk ke Indonesia demi menekan penyebaran virus Covid-19.

“Pemerintah tidak suka lockdown, tapi akhirnya Indonesia di yang di-locked down oleh negara-negara lain,” kata Rizal Ramli melalui akun Twitternya yang diakses pada Selasa (8/9/2020).

Sungguh ironi gambaran negeri ini, saat nyawa tidak ada harganya, utang yang menggunung, PHK massal, pengangguran yang terbuka, dan sederet masalah ekonomi yang ada. Namun, tetap angkuh dan menyepelekan wabah yang melanda. Ditambah akhir di-lockdown banyak negara pun tak membuat jera.

Mengelola negara tidak sama dengan mengelola suatu perusahaan. Negara bukan profit entity, namun supremacy state, dimana peran negara adalah mengurus dan pelayan rakyat. Melayani dan melindungi dengan segenap upaya dan sumber daya yang ada agar rakyat selamat dari wabah tanpa kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Problem apapun akan terselesaikan tatkala negara dikelola berdasarkan syariat Islam. Sebab kerugian ekonomi akibat wabah bisa di pulihkan, tetapi kehilangan sumber daya manusia tak tergantikan. Sebab, satu nyawa seorang manusia sangat berharga dalam Islam. Negaralah kunci utama dalam menangani wabah. Negara akan kuat dengan Islam tetapi sebaliknya negara akan lemah jika tetap bersama kapitalisme.
Wallahu a’lam bish-showab.