Oleh : Vivin Nailufar

Publik dibuat terheran-heran munculnya kebijakan otoriter diambil oleh Dewan Rektorat salah satu Kampus di Tanah Air. Universitas Indonesia (UI) diharuskan menandatangani lembar Pakta Integritas diatas materai mulai tahun ini. Kepala Kantor Humas dan keterbukaan informasi publik UI, Amerita Lusia membenarkan bahwa berkas itu menjadi salah satu syarat wajib calon mahasiswa baru. Persyaratan ini baru dimulai pada tahun ajaran kali ini. Dalam lembar Pakta Integritas yang diterbitkan pihak rektor tersebut pelanggaran terhadap ketentuan berakibat sanksi maksimum pemberhentian sebagai mahasiswa UI (kompascom.com 9/9/2020)

Dokumen yang berjudul Pakta Integritas yang telah beredar dikalangan mahasiswa baru UI bukan merupakan dokumen resmi yang telah menjadi keputusan Pimpinan UI.

 Pakta integritas itu berisi 13 poin. Ada dua poin yang menjadi sorotan dan cukup kontroversial terklesan dipaksakan antara lain poin 10 yang berisikan ada larangan bagi mahasiswa untuk berpartisipasi yang tidak mengantpbgi izin resmi dari Pimpinan Falkuas dan poin ke 11 yang berisikan tidak melaksanakan atau mengikuti kegiatan yang bersifat kaderisasi, orientasi studi, latihan, pertemuan yang dilakukan sekelompok mahasiswa atau organisasi kemahasiswaan yang tidak mendapat izin resmi dari Pimpinan Falkuas atau Pimpinan Universitas.

Bukan kah sebagai mahasiswa sebuah organisasi diluar kampus adalah sebagai wadah dalam berpartisipasi menuangkan ide-ide atau gagasan para mahasiswa dalam rangka mengaplikasikan keilmuan ditengah masyarakat untuk memajukan bangsa. Inilah buah dari sistem kapitalis yang melumpuhkan intelektualitas para mahasiswa dalam mempraktekkan ilmunya di tengah-tengah masyarakat. Miris jika gerak mahasiswa dikekang dan dibatasi.

Berbeda dengan sistem pendidikan islam memiliki visi atau misi. Sebagai mahasiswa adalah agen perubahan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu diterapkan dan juga memiliki keterampilan yang tepat dan berguna. Sistem pendidikan dalam islam mampu melahirkan mahasiswa yang bertaqwa menjadi penerus para ilmuwan dan ulama yang keberadaan nya sangat penting dalam kehidupan negara.