Oleh : Umi Rizkyi Anggota Komunitas Setajam Pena
Marah, geram, sakit hati dan berbagai amarah telah nampak dari umat. Berbagai ungkapan dan pernyataan yang selalu menciderai dan menyakiti hati umat. Begitu seringnya, hingga tiada terhitung lagi berapa kali hal yang serupa dilakukan oleh penguasa di negeri ini.

Sesungguhnya apapun ungkapan dan pernyataan menjadi seorang penguasa haruslah memberi rasa aman, nyaman dan terjamin baik jiwa maupun raganya bagi setiap warga negaranya. Mampu memberikan dan menjamin keselamatan setiap individu.

Ungkapan dan pernyataan yang tak kalah mengejutkan dan menyakiti hati umat, ialah pernyataan seorang Menteri Agama ( Menag ), Fachrul Razi, ” Paham radikal masuk melalui orang-orang yang berpenampilan menarik / Good Looking dan memiliki kemampuan agama yang baik “.

Hendaknya Menag itu mendukung semua pihak yang menciptakan Islamisasi di kalangan generasi muda dan ghiroh umat Islam yang ingin menghafal Al-Qur’an. Tidak malah menyatakan bahwa orang-orang baik anak-anak, remaja atau dewasa yang berpenampilan menarik / Good Looking, hafal Al-Qur’an, memiliki ilmu agama yang luas adalah radikal.

Hal ini juga mendapat kecaman keras dari MUI ( Majelis Ulama Indonesia ) yang dilansir oleh detikNews. Jumat, (4/9/2020). Bahkan MUI menyatakan bahwa pernyataan Fachrul Razi itu sangat menyakitkan hati umat.

Wakil Ketua MUI ( Majelis Ulama Indonesia ) Muhiddin Junaidi kepada wartawan, Jumat (4/9/2020) menyatakan, ” MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan menciderai hati umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negeri ini dan megisi kemerdekaan dengan karya nyata. Jangan sampai Menag mendukung para pihak yang mempunyai agenda terselubung”.

Muhyiddin yang sekaligus Ketua Hubungan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah juga memaparkan bahwa, ” Pernyataan Menag itu justru menunjukkan ketidakpedulian dan data yang tidak akurat diterimanya. Seakan yang radikal itu umat Islam dan huffas Al-Qur’an. Seharusnya Menag yang berlatar belakang mikir lebih mengerti penting umat Islam di Indonesia dan menjadikannya rujukan untuk menciptakan stabilitas nasional persatuan dan kemajuan di tengah kebhinekaan “.

Seperti data yang dilansir oleh tribunnews.com ( 8/9/2020 ) pengamat terorisme Irfan Amole mengaku bahwa dirinya sama sekali belum menemukan korelasi atau fakta perihal dan artibut tertentu dengan aksi radikalisme. Justru pernyataan Menag akan melahirkan Stereotype dan adjusmen bagi orang-orang yang Good Looking.

Ungkapan Menag yang terbaru yaitu tentang strategi paham radikal masuk di lingkungan ASN dan masyarakat, ini disampaikan di acara Webiner dengan tema ” Strategi Menangkal Radikalisme Pada ASN ” disiarkan di YouTube Kemen PAN-RB, Rabu (2/9/2020).

Menurut Fachrul Razi, Kemen PAN-RB harus betul-betul menyeleksi betul ASN. Ada kemungkinan radikal itu masuk. Di antaranya ada dua cara yaitu melalui lembaga pendidikan dan rumah ibadah.

Selain melalui pendidikan, adapula paham radikal masuk melalui rumah ASN atau di lingkungan masyarakat. Berdasarkan ceritanya, bahwa Fachrul Razi pernah mendekteksi adanya paham radikal di lingkungan kementerian. Adapun caranya yaitu melalui orang-orang yang berpenampilan baik/Good Looking dan memiliki kemampuan agama yang bagus.

Dalam versi resim yang saat ini berkuasa di negara kita tercinta ini, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Menag menyatakan bahwa Khilafah tidak dilarang. Akan tetapi pelaku dan pendukung Khilafah tidak boleh menjadi ASN. Karena adanya doktrin bahwa pendukung syariah dan Khilafah adalah radikal.

Pada saat ini, rezim mengatakan bahwa dai / ulama harus bersertifikasi tentu jelas dengan dicekoki dengan Islam versi rezim. Sesungguhnya hal ini hanya menegaskan bahwa Kemenag makin ngawur. Buktinya, sebagai leading sector penggunaan radikalisme agama, Menag semakin nampak menyerang dan memojokkan pemeluk Islam yang taat syariat sebagai sasarannya.

Sebagai umat Islam kita pantas marah dan sakit hati atas tuduhan radikal yang ditujukan kepada kita. Jika kata radikal itu diartikan sebagai tindakkan yang melanggar hukum dan …

Tapi di sisi lain, kita harus bangga dan senang dengan sebutan radikal yang artinya orang-orang yang ramah, terdidik dan berakal. Karena sesungguhnya umat Islam itu penuh dengan suri tauladan yang baik nan mulia dari Rosullah Saw.

Jadi kita selaku umat Islam, hendaknya menjadi umat yang terdidik. Terdidik bukan berarti berpendidikan tinggi, harus S1, S2, S3 dan seterusnya. Tapi terdidik di sini senantiasa menuntut ilmu agama sampai ajalpun tiba. Serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan berakal, kita sebagai mahkluk Allah yang disempurnakan dengan dikaruniai adanya akal. Jadi kita harus memanfaatkan akal kita untuk berpikir. Berpikir secara mendalam dan cemerlang, atas segala sesuatu. Baik tentang ciptaan Allah, problematika yang dihadapi dan sebagainya. Allahuakbar