Oleh : Andri Septiningrum, S.Si
Ibu Pendidik Generasi

Ilmu adalah cahaya. Cahaya inilah yang akan menjadi penerang bagi kita dalam menjalankan kehidupan ini. Seringkali sulit menjalankan ujian kehidupan karena kurangnya ilmu dalam diri kita.

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu,
beliau berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama”
(Muttafaqun ‘alaihi).

Berharganya sebuah ilmu, semua ujian yang ada dalam kehidupan insyaaAllah akan bisa kita selesaikan dengan baik apabila kita tahu ilmunya. Maka benar apa yang dikatakan bahwa kebaikan baru akan didapatkan, jika seseorang memiliki ilmu. Paham terhadap agama.

Pentingnya ilmu juga bisa kita lihat dalam sebuah hadits bahwa para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan hanya mewariskan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

“Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudah jalannya ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi).

Ketika seorang ulama wafat, seolah-olah alam semesta juga mati. Karena para ulama wafat membawa ilmu bak cahaya yang menerangi hati manusia. Ilmu itulah yang pada akhirnya mampu membedakan manusia dengan makhluk lainnya. 

Aktivitas amar makruf nahi mungkar yang dilakukan oleh orang yang berilmu akan memberikan kebahagiaan. Tidak hanya dunia, tapi juga akhirat. Ketika manusia sebagai khalifah di muka bumi menjalankan perannya sesuai dengan aturan Allah, maka alam akan terjaga. Mereka tidak dengan seenaknya mengekploitasi alam, tapi mereka akan menjaganya.

Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu, dialah ulama. Begitu besarnya peran seorang ulama, maka dalam Islam ulama akan dijaga kehormatannya dan dimuliakan. Keberkahan seorang ulama senantiasa dicari.

Tersebutlah seorang ulama yang disegani bahkan oleh penguasa ketika itu. Ia adalah Fakhruddin al-Arsabandi. Dalam ketenarannya, ia mengungkap sebuah rahasia atas rahmat Allah yang luar biasa didapatkannya. “Aku mendapatkan kedudukan yang mulia ini karena berkhidmat (melayani) guruku,” ujar sang Imam.

Ia menuturkan, khidmat yang dia berikan kepada gurunya sungguh luar biasa. Gurunya Imam Abu Zaid ad-Dabbusi benar-benar dilayaninya bak seorang budak kepada majikan. Ia pernah memasakkan makanan untuk gurunya selama 30 tahun tanpa sedikit pun mencicipi makanan yang disajikannya.

Ali bin Abi Thalib juga pernah menuturkan bahwa “Siapa yang pernah mengajarkan kepadaku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya.” Bahkan Imam Syafi’i pernah mencium tangan dan memeluk laki-laki tua karena ia pernah mengajarkan bagaimana mengetahui seorang anjing telah mencapai usia baligh. Begitulah Islam sangat memuliakan guru.

Sangat jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Baru-baru ini kita mendengar seorang ulama, Syekh Ali Jaber ditusuk ketika sedang ceramah di Lampung (Ahad, 13/9/2020). Lengan sang ulama terluka serius sehingga harus dijahit.

Sebelumnya, pada Kamis (20/8/2020) Kyai Zainullah dan Abdulhalim dipersekusi di Pasuruan. Keduanya digeruduk sekelompok ormas karena mendakwahkan Khilafah yang merupakan ajaran Islam.

Tak hanya individu ulama, lembaga yang menaungi para ulama yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga tak luput dari tudingan. Dalam sebuah akun Twitter, pada Jumat (10/9/2020) menyebutkan, “MUI itu LSM, sama seperti LSM lainnya, gak ada bedanya. MUI itu cuma LSM urusan ulama, tapi pengurusnya belum tentu ulama.

Kebijakan sertifikasi ulama yang ada sekarang justru mendukung terjadinya persekusi terhadap ulama yang mendakwahkan Islam kaffah. Waketum MUI, K.H. Muhyiddin Junaidi, menyampaikan bahwa MUI menolak tegas rencana Kemenag tentang sertifikasi para dai/penceramah ini (Republika, 7/9). K.H. Muhyiddin memandang kebijakan sertifikasi ulama itu kontraproduktif. Ia khawatir, kebijakan tersebut berpeluang dimanfaatkan demi kepentingan Pemerintah guna meredam ulama yang tak sejalan.

Padahal yang kita pahami bahwa dakwah itu sebuah kewajiban bagi setiap muslim tanpa perlu sertifikasi. Allah SWT pun berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (TQS an-Nahl [16]: 125).

Rasulullah saw. pun bersabda,
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR al-Bukhari).

Maka, sudah seharusnya dukungan justru diberikan kepada orang-orang yang melakukan amar makruf nahi mungkar yang dengannya bisa keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.

Penjagaan para ulama hanya akan didapatkan ketika sistem Islam diterapkan. Hal ini bisa kita lihat bagaimana Khalifah (pemimpin Islam) sering mendatangi majelis ilmu para ulama di zamannya bukan meminta mereka mendatanginya. Al-Qadhi Iyadh berkata tentang Khalifah Harun al-Rasyid, “Ia (Harun al-Rasyid) berjalan bersama dua orang anaknya al-Amin dan al-Makmun, untuk mendengar kajian al-Muwaththa yang disampaikan Imam malik rahimahullah.” Masya Allah, sungguh penguasa yang memuliakan ilmu dan ulama. Mereka meminta nasihat dan menjalankan nasihat itu.

Sebagaimana yang juga disampaikam oleh Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, menyebutkan bahwa Sultan Muhammad Al Fatih memiliki sebuah kebiasaan di bulan Ramadan yang luar biasa. Beliau datang ke istananya setelah Shalat Dzuhur bersama rombongan ulama ahli tafsir Al-Quran.

Salah seorang dari mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran yang kemudian didiskusikan oleh semua ulama. Sultan ikut terlibat dalam diskusi itu dan mendorong para ulama dengan memberikan hadiah dan santunan uang yang cukup banyak.

Setiap kali ulama memberikan nasihat, penguasa Islam akan memperhatikannya. Di masa Khilafah Bani Umayah, ulama bernama Atha’ bin Abi Rabah menghadap khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Atha’ bin Abi Rabah didudukkan di sebelah singgasana sang Khalifah.

Penghormatan kepada ulama begitu besar. Islam tidak akan membiarkan sumber cahaya itu hilang begitu saja. Akan tetapi akan terus berusaha menjaganya, agar cahayanya senantiasa menjadi penerang bagi semua. Lentera itu tidak akan pernah padam dengan Islam. Cahaya ini yang menjadi sebab kemuliaan peradaban Islam. Waallahu a’lam bi-showwab.