Oleh: Eti Lisnawati

Seperti kita ketahui, bahwa Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim terbanyak. Seperti dilansir dalam 10 Negara dengan Penduduk Muslim Terbesar Dunia (2010), berdasarkan data Globalreligiusfuture, penduduk Indonesia yang beragama Islam pada 2010 mencapai 209,12 juta jiwa atau sekitar 87% dari total populasi. Kemudian pada 2020, penduduk muslim Indonesia diperkirakan akan mencapai 229,62 juta jiwa. (Budy Kusnandar, 25/2019).

Namun meski begitu, tidak menjamin kesejahteraan dan ketenangan hidup serta ibadah bagi umat muslim di tanah air ini. Karena kerap kali terjadi kasus yang menimpa umat muslim di negeri ini, namun tidak mendapat keadilaan secara sepenuhnya. Seperti, penganiayaan terhadap ustadz pada beberapa tahun ke belakang, dimana si pelaku hanya divonis sebagai orang gila. Sedangkan jika ada peneroran atau pemberontak terhadap penguasa, begitu cepat si pelaku divonis sebagai teroris ataupun sebutan yang lainnya. Termasuk baru-baru ini terdapat isu bahwa mentri agama menuding radikalisme disebarkan melalui para pemuda/i /anak-anak hafidz. Sungguh hal itu sangatlah tidak adil, karena menyebarkan radikalisme dari sebelah mananya?
Hal ini menunjukkan bahwa keadilan di negara ini telah berpihak hanya pada kepentingan para penguasa saja beserta orang yang berkaitan dengannya, tidak untuk umat muslim.

Selama sistem kapitalis masih mencengkram di negeri ini, meskipun mayoritas adalah muslim, maka keadilan akan sukar didapatkan. Para penguasa yang telah dibutakan oleh kenikmatan dunia yang fana, lebih mementingkan keperluannya sendiri ketimbang umat. Hal ini akan terus terjadi selama kita sebagai umat muslim terus berdiam diri. Maka dari itu, sudah seharusnya kita bangkit dan bersatu untuk memperjuangkan tegaknya khilafah kembali. Karena dengan sistem khilafah yang sesuai dengan fitrah manusia, bukan hanya umat muslim, non muslim sekalipun akan dapat merasakan keadilan di negeri khilafah itu. Karena khilafah merupakan ajaran Islam, bukan milik suatu ormas tertentu.