Oleh: Indriyatul Munawaroh (Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial)

Tak hanya berdampak pada bidang kesehatan dan perekonomian, nyatanya pandemi pun dapat berdampak pada melonjaknya pernikahan dini. Meski tak termasuk pada kota besar, nyatanya pernikahan dini di Ponorogo pun turut naik. Pandemi Covid-19 yang memaksa para siswa belajar di rumah dinilai berdampak pada meningkatnya jumlah pernikahan dini di Ponorogo, Jawa Timur. Kebanyakan pernikahan itu terjadi karena pihak perempuan sudah hamil lebih dulu (Madiunpos.com,16/09/2020)

Pengadilan Agama (PA) Ponorogo mencatat, selama Januari hingga Agustus 2019 ada 78 pernikahan dini. Sedangkan tahun ini dalam periode yang sama sudah ada 165 pernikahan dini (detiknews.com, 16/9/2029). Kenaikan sebanyak dua kali lipat ini menurut Ishadi , Hakim Panitera PA Ponorogo, disinyalir karena sekolah saat ini memberlakukan belajar daring sehingga banyak anak-anak yang akhirnya kurang terkontrol sehingga ada yang memiliki hubungan dengan teman sekolahnya (merahputih.com, 16/9/2029).

Praktik pernikahan dini tetap marak di masyarakat meski telah ada regulasi pemerintah yang membatasi usia perkawinan minimal 19 tahun. Akan tetapi aturan juga menjelaskan jika terjadi penyimpangan batas usia minimal maka harus mengurus surat dispensasi nikah ke pengadilan. Namun kenyataannya dengan adanya regulasi ini belum mampu menahan laju tingginya pernikahan dini. Bahkan semakin meningkat pengajuan dispensasi nikah di Ponorogo di kala pandemi ini.

Maraknya Pergaulan Bebas

Masa remaja sering kali disebut sebagai masa pencarian jati diri. Remaja akan berusaha mengeksplorasi kehidupannya dan mencoba hal-hal menarik menurutnya, termasuk pergaulan bebas masa kini. Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak ada edukasi dan pelarangan tegas oleh negara terhadap pergaulan bebas seperti pacaran dan zina di luar nikah. Padahal fakta di masyarakat menunjukkan bahwa zina sering kali diawali oleh praktik pacaran.

Model pergaulan bebas ini juga tumbuh karena media yang sering mempertontonkan pornografi dan porno aksi. Sehingga menstimulus rangsangan seksual seseorang. Akibatnya, lahir generasi yang terlalu cepat baligh (dewasa biologis) namun lambat menjadi aqil (dewasa akal). Karenanya tidak mengherankan jika generasi masa depan akan suram karena dinodai pergaulan bebas, praktik aborsi, sampai terjangkiti virus HIV/AIDS.

Pembatasan Usia Menikah

Menurut pemerintah pembatasan usia menikah diharapkan dapat menekan angka pernikahan dini. Sehingga dianggap bisa mengatasi berbagai problem yang muncul akibat pernikahan dini seperti hak dasar anak untuk mengenyam pendidikan, kondisi organ reproduksi yang belum siap yang bisa menimbulkan penyakit dan faktor psikologis anak yang dinilai rentan untuk membina rumah tangga.
Akan tetapi ada sisi lain yang dilupakan oleh pemerintah. Persoalan yang dialami oleh pernikahan usia dewasa juga tak kalah menghebohkan. Seperti halnya gugat cerai, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan anak, ekonomi keluarga, dan lain-lain juga menunjukkan lonjakan angka di kala pandemi ini.

Persoalan Utama

Persoalan yang muncul seusai menikah bukan hanya disebabkan oleh persoalan usia. Akan tetapi akibat dari ide sekuler yang bercokol dalam kehidupan ini. Pandangan yang memisahkan agama dari kehidupan ini mengakibatkan manusia jauh dari nilai-nilai agama Islam. Sehingga umat merasa asing dengan ajaran Islam yang mengharamkan segala bentuk pergaulan bebas dan sarana pengantarnya.

Ditambah lagi sistem pendidikan yang juga bersumber pada ide sekularisme ini menjadikan pemikiran anak tidak berkembang menuju kematangan berpikir. Maka tak mengherankan perceraian kian marak di negeri ini karena ide sekuler menghasilkan generasi yang minim bekal menjalin hubungan harmonis keluarga.

Pernikahan dalam Pandangan Islam

Dalam islam pernikahan akan lebih menjaga pandangan mata dan kemaluan. Sehingga di luar pernikahan harus menjaga pandangan dan kemaluan. Terutama kepada lawan jenis tidak diperbolehkan mengumbar nafsu. Karena di dalam Islam melarang dengan tegas praktik zina dan apa-apa yang bisa mengantarkan pada zina seperti halnya pacaran.

Selain itu, kurikulum sekolah dalam pandangan Islam juga akan disesuaikan dengan tujuan pendidikan Islam yaitu membentuk kepribadian islami. Sehingga aqidah dan ajaran-ajaran Islam lain haruslah masuk dalam kurikulum.

Interaksi dalam masyarakat pun juga harus dijaga dengan adanya regulasi dari negara. Media dengan tayangan-tayangan yang bisa merusak generasi akan dilarang. Sehingga dengan upaya yang menyeluruh dan totalitas di seluruh lapisan ini dapat menjaga generasi dari pergaulan bebas.
Dalam Islam sendiri tidak ada batasan usia untuk menikah. Jika memang sudah siap bekal untuk membina rumah tangga yaitu kesiapan ilmu, kesiapan materi (kemampuan memberi nafkah), serta kesiapan fisik maka negara akan memberi kemudahan. Karena hal ini justru akan menghindarkan kaum muda dari praktik zina yang diharamkan oleh Islam.