Oleh: Darini
Aktivis Muslimah Karawang

Peristiwa yang terjadi pada Ahad (13/09/2020) penusukan syeikh Ali Jaber yang saat itu menjadi pengisi acara di Masjid Falahudin, Lampung, yang diduga dilakukan oleh orang yang memiliki gangguan jiwa menambah daftar hitam kasus kekerasan terhadap ulama Di Indonesia. Pasalnya, bukan kali pertama kasus penyerangan terhadap tokoh agama ini terjadi.

Dikutip dari laman Tempo.co. Pada pertengahan tahun 2018 sampai 2019 telah terjadi sederet penyerangan terhadap pemuka agama terjadi 21 kali di berbagai tempat, 15 kali (71%) di antaranya dilakukan oleh orang yang diduga mengalami gangguan jiwa.

Hal ini menimbulkan tanda Tanya besar dimasyarakat. Bagaimana tidak? Pelaku penyerangan yang divonis gila wujud dan tampilannya sangat kontras dengan orang gila yang sering ditemui di pasar maupun di jalan. Ketidaktegasan aparat kepolisian dalam menangani kasus ini, memunculkan berbagai spekulasi, apakah pelaku benar – benar gila atau hanya gila – gilaan istilahnya “NgePrank”?

Perspektif ‘Gila’
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada lima pengertian kata “gila”, yaitu:

  1. sakit ingatan (kurang beres ingatannya); sakit jiwa (sarafnya terganggu atau pikirannya tidak normal);
  2. tidak biasa; tidak sebagaimana mestinya; berbuat yang bukan-bukan (tidak masuk akal);
  3. terlalu; kurang ajar (dipakai sebagai kata seru, kata afektif); ungkapan kagum (hebat);
  4. tertanda perasaan sangat suka (gemar, asyik, cinta, kasih sayang);
  5. tidak masuk akal.

Menurut American Psychiatric Association atau APA mendefinisikan gangguan jiwa pola perilaku/ sindrom, psikologis secara klinik terjadi pada individu berkaitan dengan distres yang dialami, misalnya gejala menyakitkan, ketunadayaan dalam hambatan arah fungsi lebih penting dengan peningkatan resiko kematian, penderitaan, nyeri, kehilangan kebebasan yang penting dan ketunadayaan.

Pandangan Islam Tentang “Gila”

Imam Muslim meriwayatkan suatu Hadits “Pada suatu hari, Rasulullah SAW melewati sekelompok orang yang sedang berkumpul. Beliau bertanya, “Karena apa kalian berkumpul di sini?” Para sahabat menjawab, “Ya Rasulullah, ini ada orang gila sedang mengamuk. Karena itulah kami berkumpul di sini.” Rasulullah SAW bersabda, “Orang ini bukan gila. la sedang mendapat musibah. Tahukah kalian, siapakah orang gila yang benar-benar gila (Al-Majnun Haqq Al-Majnun)?
“Para sahabat menjawab, “Tidak, ya Rasulullah?” Rasulullah SAW menjelaskan, “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang dengan pandangan yang merendahkan, yang membusungkan dada, berharap akan surga Tuhan sambil berbuat maksiat kepadanya, yang kejelekannya membuat orang tidak aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya. Adapun orang ini, dia hanya sedang mendapat musibah (mubtala) saja.”

Dalam surat Al-Qalam ayat 8 -16: “Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Maka mereka menginginkan bahwa kamu berpendapat lunak lalu mereka mengatakan lunak ( pula kepadamu). Dan janganlah kamu ikuti orang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melebihi batas lagi banyak dosa, yang berlaku kasar setiap, selain itu, yang terkenal kejahatannya, Karena dia mempunyai banyak harta dan anak.

Apabila dibacakan kepadanya ayat Kami, ia berkata: ‘(ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.’ kelak akan Kami beri tanda dia di belalai (nya). “

Berdasarkan ayat tersebut kriteria ‘gila’ dalam pandangan Islam yaitu suka berkompromi dalam kejahatan, ingkar janji, suka mencela, senang memfitnah, senamg bermaksiat, berlaku kasar, dan suka menghasut.

Dalam Negara yang menganut sistem Demokrasi sekular. Sangat wajar jika kriteria ‘gila’ banyak kita temukan pada orang – orang sekitar kita. Karena sistem demokrasi – sekular akan membentuk dan memaksa individu bersifat materialistik yang mengakui eksistensi Allah SWT, namun mengingkari peraturan Al – Kholik Al – Mudabbir.

Sehingga tidak sedikit manusia yang akal dan jiwanya rusak. Akibatnya muncul manusia – manusia hedonis, pecinta dunia, dan menganggap kehidupan dibumi akan kekal.

Konsekuensinya, manusia akan menuruti nafsunya memburu kesenangan dunia, bersaing mencari kenikmatan sesaat, dan akhirnya menjadi tamak. Dari konsekuensi tersebut, ia akan dilanda kecemasan yang tinggi, takut didahului teman,tetangga,bahkan saudara sekalipun. Hal inilah yang mengakibatkan banyaknya ‘orang gila’ dalam sistem demokrasi – sekular.

Hanya dengan Islam. Islam adalah sistem hidup paripurna. Sistem hidup yang menjamin kemuliaan akal dengan Aturan-NYA, menjaga ketenangan jiwa pemeluknya. Tanpa syariah Islam, terbukti aturan manusia tak bisa mencegah dan tak bisa menjerakan manusia untuk berbuat aniaya terhadap orang lain; apakah bentuknya melukai, menyerang secara fisik, sampai membunuh jiwa. Wallahua’lam