Oleh. Ir. H. Izzah Istiqamah ( Praktisi Pendidikan )

Banyaknya kasus narkoba, pesta minuman keras, pergaulan bebas, tawuran antar sekolah dan kerusakan remaja sangat memprihatinkan dunia pendidikan. Sangat miris melihat kondisi anak negri yang akan memimpin negara kedepan. Bagaimana dengan nasib bangsa ini di kemudian hari?. Ditengah kondisi yang sangat memprihatinkan ini, saat para penerus bangsa seolah kehilangan Role Model, muncul satu pernyataan dari Wakil Presidenn yang membuat kita terheran heran.

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin berharap tren Korean Pop atau K-Pop dapat mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia. Ia berharap anak muda lebih giat mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional ( tirto.id ). Pernyataan Ma’ruf Amin soal K-Pop dikritik oleh politikus Partai Gerindra Ahmad Dhani. “Jadi Pak Wapres kita memang tidak paham benar soal industri musik. Harusnya sebelum kasih statement, diskusi dulu sama saya sebagai orang yang sangat paham industri musik,” kata Ahmad Dhani kepada wartawan, Minggu (20/9/2020).(News.detik.com)

Layakkah Korean Wave menjadi panutan? Kpop Hasilkan banyak materi bagi para pelaku industrinya namun rentan kerusakan lifestyle salah satunya banyak kasus bunuh diri. Korean Wave hasilkan devisa besar bagi negara Korea tapi nyata mengekspor budaya kerusakan ke seluruh dunia.

Teladan Membangun Peradaban. Ada sebab kuat mengapa Allah SWT mengutus Rasulullah saw. Di antaranya adalah untuk memberikan keteladanan yang paripurna. Pribadi Nabi saw seluruhnya adalah kebaikan untuk semua bidang kehidupan. Akhlak, ibadah bahkan hingga pemerintahan yang beliau jalani penuh dengan keteladanan. Sepatutnya kaum Muslim menjadikan Nabi saw. sebagai satu-satunya contoh kebaikan dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi siapa saja yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Akhir dan dia banyak mengingat Allah (TQS al-Ahzab [33]: 21).

Rasulullah saw. adalah satu-satunya insan yang berhasil membangun peradaban manusia yang mulia. Di tengah-tengah kompetisi Kekaisaran Romawi dan Kerajaan Persia, Nabi Muhammad saw. berhasil mengangkat harkat-martabat bangsa Arab dan umat manusia menuju peradaban yang sama sekali baru.

Bangsa Arab dan umat manusia pada umumnya kala itu tenggelam dalam kubangan lumpur peradaban jahiliah. Di bidang keyakinan/akidah masyarakat tenggelam dalam takhayul, khurafat dan syirik. Bidang sosial dipenuhi oleh lautan syahwat yang merendahkan dan menindas kaum perempuan. Dalam bidang perekonomian, praktik tipu-menipu dan riba merajalela. Bidang politik dan pemerintahan didominasi oleh kelas borjuis atau tunduk pada penindasan imperium Romawi.

Nabi saw. berhasil mengubah mereka menjadi masyarakat yang bertauhid, berhukum hanya pada hukum Allah SWT, berakhlak luhur, menjalankan muamalah secara jujur dan amanah, serta memiliki sistem pemerintahan yang kokoh dan sukses menciptakan keadilan.

Peradaban itu lalu dilanjutkan oleh para khalifah setelah beliau, yakni Khulafaur Rasyidin dan para khalifah sesudahnya. Mereka sukses menyebarluaskan Islam hingga menguasai 2/3 dunia. Peradaban inilah yang dikagumi oleh bangsa Barat. Di antaranya oleh Raymound Leruge, seorang tokoh Katolik terkemuka. Dia mengagumi Muhammad saw. bukan sebagai nabi, tetapi sebagai seorang pemimpin yang berhasil melakukan perubahan total (revolusioner) dan membangun suatu negara yang berkeadilan. Sosok teladan binaan Nabi bagai bintang bintang yang keseluruhannya bersinar. Salah satu nama yang sahabat Nabi yang dapat kita jadikan teladan adalah sosok sahabat Mus’ab Bin Umair.

Mush’ab bin Umair radhiyallahu’anhu, salah satu sahabat Nabi yang memiliki kisah mengagumkan. Beliau rela meninggalkan kesenangan duniawi dan memilih hidup sengsara demi cintanya kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sepatutnya generasi muslim didorong meneladani nabi dan para sahabat untuk menguasai dan mempromosikan ajaran Islam, mengkampa

nyekannya menjadi sumber life style global. Ajaran islam terbukti mewujudkan rahmatan lil alamin.