*Kuliner! Boleh Saja, Asal….(Jangan Lupa Pesan Rasulullah)*

Oleh: Desi Wulan Sari

Masyarakat berbondong-bondong untuk melakukan traveling ke tempat-tempat wisata domestik bahkan internasional. Efek lanjut dari traveling adalah wisata kuliner. Hampir semua pengunjung, berminat dan antusias untuk mencicipi kuliner khas tempat-tempat wisata yang mereka kunjungi. Sayangnya, demi memenuhi kepuasan selera makan, kerap kali status kehalalan makanan diabaikan. Oleh sebab itu, agar berwisata kuliner tidak sekedar menuruti selera makan, dibutuhkan wawasan tentang aturan-aturan syariat Islam yang relevan. 

Rasulullah saw selalu mengingatkan umatnya untuk memperhatikan makanan yang masuk dalam perutnya. Makanan yang dimakan haruslah halal dan thoyib. karena kesehatan tubuh adalah syarat seorang muslim untuk melakukan ibadah yang baik, maka dengan makanan yang baik pulalah, dipersiapkan sebagai makanan pengisi nutrsisi tubuh dalam beraktifitas.

Inilah beberapa aturan syariat berkuliner berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadist yang perlu diperhatikan:

*Pertama*, makanan yang dikonsumsi merupakan hasil pekerjaan yang halal, seperti jual beli; bukan hasil pekerjaan yang haram, seperti riba.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan atas dasar suka sama-suka di antara kamu (Q.S. al-Nisa’ [4]: 29).

*Kedua*, menyebut asma Allah ketika makan.
Maka makanlah binatang-binatang (halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya (Q.S. al-An’am [6]: 118).

Jika dikaitkan dengan keterangan Hadis dan hasil ijtihad ulama, ayat di atas terkait aspek ibadah dalam kuliner. Wujudnya adalah: a) Niat makan agar memperoleh energi untuk beribadah kepada Allah SWT; b) Membaca Basmalah sebelum makan dan Hamdalah sesudah makan. Sebaiknya dibaca secara keras (jahr), agar mengingatkan orang lain yang sedang makan. Lebih utama lagi jika dilengkapi dengan membaca doa sebelum makan yang didasarkan pada Hadis dalam al-Muwaththa’ dan Musnad Ahmad:

Allahumma Barik Lana, fi-ma Razaqtana, wa-Qina ‘Adzaban-Nar.

Ya Allah, mohon anugerahkanlah kami keberkahan di dalam sesuatu yang telah Engkau rezekikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.

*Ketiga*, makanan berstatus halal dan thayyib.
Dan makanlah makanan yang halal lagi thayyib, dari apa yang telah Allah anugerahkan kepadamu (Q.S. al-Ma’idah [5]: 88).

Binatang terbagi menjadi dua kategori: a) Binatang laut. Misalnya, semua jenis ikan dihukumi halal; b) Binatang darat. Surat al-Ma’idah [6]: 3 menjelaskan contoh-contoh binatang darat yang diharamkan, yaitu bangkai; darah; babi; binatang yang disembelih bukan atas nama Allah SWT.

*Keempat*, makanan berstatus lezat (hani’a) dan berdampak positif (mari’a).
Maka makanlah pemberian itu (sebagai makanan) yang lezat lagi baik akibatnya (Q.S. al-Nisa’ [4]: 4).

Dalam Tafsir Ibn ‘Asyur disebutkan bahwa pengertian hani’a adalah terasa lezat; sedangkan mari’a berarti berdampak positif; baik ketika di dunia, lebih-lebih di akhirat. Dari sini dapat dipahami bahwa wisata kuliner tidak hanya sekedar mengejar kelezatan makanan, melainkan juga mempertimbangkan dampaknya di masa depan, baik di dunia maupun akhirat. Misalnya, banyak makanan yang lezat, namun mengandung kolestrol yang berbahaya bagi tubuh manusia. Ini adalah contoh makanan yang hani’a, namun tidak mari’a. Sebaliknya, mengonsumsi jamu yang pahit merupakan contoh makanan yang memenuhi kriteria mari’a, namun tidak memenuhi kriteria hani’a. 

*Kelima*, tidak mengonsumsi makanan secara berlebihan (israf).

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (Q.S. al-A’raf [7]: 31).

Salah satu makna israf menurut Tafsir al-Mawardi adalah mengonsumsi makanan hingga kekenyangan. Padahal Nabi SAW mengajarkan umat muslim agar menyedikitkan makanan dan menghindari kekenyangan. Sebuah slogan kuliner umat muslim yang populer adalah, “tidak makan sebelum merasa lapar dan berhenti makan sebelum kenyang”. Di antara hikmahnya adalah rasa lapar menyebabkan makanan terasa lebih lezat ketika dikonsumsi, sehingga menambah rasa syukur; sedangkan kekenyangan menyebabkan kerasnya hati dan berat untuk menjalani ibadah. Anjuran berpuasa merupakan contoh konkret ajaran Islam yang menekankan pentingnya rasa lapar, sekaligus larangan kekenyangan ketika berbuka puasa.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan umat muslim saat berkuliner. Maka tidak ada salahnya menikmati makanan yang dihalalkan dan baik bagi manusia tanpa berlebihan. Dengan mengingat apa yang Rasul sampaikan terkait hukum syariat makanan itu sendiri. Wallahu a’lam bishawab.