Oleh: Maman El Hakiem

Desing peluru masih terdengar. Kepulan asap dari mesiu yang menghancurkan bangunan masih menghitam. Di balik reruntuhan rumah, terdengar isak tangis gadis kecil. Dia menatap sosok usia paruh baya yang terkulai di hadapannya. Tubuh ayah yang masih bersimbah darah. Siang itu peluru pasukan Yahudi membabi buta, menyasar perkampungan yang dianggap markas militan pejuang Palestina.


Seorang petugas medis menghampiri gadis kecil tersebut. “Nak, jangan takut, kami datang berniat menolongmu. Ulurkan tanganmu, biar bisa membawamu ke tempat yang aman.” Kata petugas medis membujuknya.
“Tidak, aku merasa aman hanya dengan ayah, tidak denganmu atau mereka yang telah menghancurkan rumah kami.” Gadis itu menjawab dengan menguatkan dekapan pada ayahnya.


“Ayahmu telah menjadi syuhada di bumi yang diberkahi Allah SWT ini.” Rayu petugas medis kembali. Para medis dari bulan sabit merah siang itu menyusuri warga sipil yang menjadi korban rentetan peluru yang dilepaskan pasukan Israel yang biadab.
“Sekali lagi, pergilah dari rumah kami ini yang telah menjadi puing-puing. Kami tidak butuh pertolongan siapapun, kecuali hanya pada Allah SWT. Lihatlah tiada seorang pun lelaki yang bisa menjaga ayah agar tidak tertembak.” Gadis gaza itu menunjukan luka di sekujur tubuh ayahnya.


Petugas medis hatinya tergores. Jauh di lubuk hatinya merasa terharu atas keberanian anak kecil dalam menjaga kehormatan negerinya. “Nak, kami berjanji akan membawamu ke tempat yang aman untuk masa depanmu.” Bujuknya kembali.
“Ini tanah kelahiranku, ayahku ini bertahan karena tak rela jika bumi al Quds dirampas oleh penjajah bengis Israel dan sekutunya. Di sini adalah masa depan, sekalipun dunia menelantarkan kami.” Ucapnya dengan nada lantang.


Palestina adalah negeri para syuhada, sekalipun rakyatnya teraniaya, namun bara perjuangan terus menggelora. Mereka sudah tidak percaya kepada para pemimpin dunia, mereka itu banci yang bersekongkol dengan Israel. Gaza tidak membutuhkan bantuan untuk mengganjal isi perut, tetapi butuh kekuatan, seperti ayah yang mampu melindungi anak-anaknya.


“Harap kalian tahu, dan sampaikan pada dunia, sekalipun ayah telah tiada, tetapi darahnya terus mengalir, membakar semangat perjuangan di dada anak-anaknya. Kami hanya punya doa dan kekuatan batu-batu untuk melempari kesombongan Israel. Suatu masa, negeri kami akan kembali seperti dulu saat ada seorang Khalifah yang berkata: “ Sejengkal tanah Palestina lebih berharga dari nyawa.”
Gadis gaza itu tersenyum, saat teringat ucapan ayahnya tersebut. Ia mencium pipi ayah untuk terakhir kalinya, “Yah, hidup jika bukan untuk kemuliaan, maka kematian adalah yang terbaik. Semoga kita bisa berkumpul bersama di surga-Nya.” Ucapnya lirih. ***