Oleh: Linda Khadeeja

Segala puji hanya milik Allah. Dan tiada sekutu bagi-Nya. Tuhan penguasa langit dan bumi. Pemilik nama-nama yang baik dan semua sifat-sifat kesempurnaan-Nya.

Sahabatku, siapa yang mengenal Allah maka ia akan mencintai-Nya. Jika ia mencintai-Nya maka ia akan mengagumi-Nya.

Karena setiap pandangan kita akan jatuh pada keindahan pada apa-apa yang telah ia ciptakan. Hati kita senantiasa lembut dan peka sehingga akan membuata kita tunduk dan berusaha taat pada apa-apa yang Allah perintahkan.

Kita akan berhati-hati dalam bersikap. Karena takut kepada Allah.

Sebagaimana Yahya Bin Mu’adz beliau pernah berkata:

“Ampunan-Nya mencakup (menggugurkan)seluruh dosa, lalu bagaimana lagi dengan ridho-Nya. Ridho-Nya begitu mendominasi seluruh cita-cita dan harapan, lantas bagaimana dengan kecintaan-Nya?Kecintaan-Nya begitu mengagumkan akal pikiran lalu bagaimana dengan kasih sayang-Nya? Kasih sayang-Nya begitu melupakan segala yang selain-Nya, lalu bagaimana dengan kelembutan-Nya?”

Maka, kecintaan kepada Allah harus mendominasi dalam ruang-ruang terdalam hati kita. Karena itu yang akan menjadi pendorong dan faktor penggerak dalam setiap aktivitas kita.
Sehingga kita mampu merasakan kedamaian dan kebahagiaan untuk tunduk pada_Nya.

“Orang-orang yang beriman sangat mendalam cinta-Nya kepada Allah” (Qs. Al Baqarah:165)

Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam-bersabda:

“Aku memohon kepada-Mu agar dapat mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang mendekatkan diriku untuk mencintai-Mu”

Ketika kecintaan kita penuh dan telah memuncak pada Allah maka akan membuat hati kita tunduk pada-Nya. Rasa cinta yang mendalam ini akan membuat jiwa dan ruh kita semakin tenang dalam tiap keadaan.

Senantiasa optimis dan ridho dalam menjalani goresan takdir-Nya. Baik suka maupun duka. Baik sedih maupun bahagia. Karena semua itu adalah rasa. Dan semuanya membuahkan pahala di sisi-Nya.

Ketika hati kita dipenuhi rasa cinta kepada Allah yang begitu dalam maka Allah pun akan menganugrahkan kelezatan dan manisnya iman. Yang itu merupakan keindahan dan kebahagiaan yang tak mampu terlukiskan.

“Sungguh, di dunia ada surga, siapa yang belum memasuki surga di dunia itu, ia tidak akan masuk surga di akhirat.”

Surga yang dimaksud tersebut adalah kelezatan iman yang berupa kecintaan pada Allah.

Dan manisnya iman dapat kita rasakan jika kita hati kita dipenuhi oleh Ridho Allah sebagai Tuhan. Islam sebagai agama. Serta Rasulullah Muhammad sebagai Nabi kita.

Semakin kuat dorongan cinta ini, maka ia akan memberikan energy untuk taat dan tunduk pada Allah. Beramal dan beribadah secara maksimal. Jika daya dorong cinta pada Allah lemah maka ia akan mudah jatuh pada kelalaian dan kemaksiatan.

Sebagaimana dalam Qs. Ali Imran ayat 31 Allah berfirman:

“Katakanlah, jika kalian benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan memaafkan dosa-dosa kalian dan Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”

Semoga Allah senantiasa menghiasi hati-hati kita dengan rasa cinta kepada-Nya. Dan kemudian rasa cinta itu membuat kita semakin tunduk, patuh , taat dan rela berkorban untuk-Nya. Aamiin.