Oleh: Maman El Hakiem

Gumpalan awan hitam. Berarak menutupi langit, yang semula cerah. Hujan seakan mencurahkan kekesalan dalam suasana yang masih mencekam. Rasa takut atas penikaman seorang ajengan di sebuah mushola. Menjadi buah bibir di kampung itu.

Seorang ajengan yang biasa tiap sore mengajari anak-anak mengaji, kini berbaring di rumah sakit. Tangannya terluka, tikaman itu hampir saja merengut nyawanya. Beruntung saja dapat ditangkis. Ajengan itu bukan orang sakti, tidak punya pengawal apalagi ilmu kebal. Tikaman iitu tidak sampaii menusuk jantungnya atas izin Allah SWT.

“Mulai sekarang kita harus hati-hati jika ada orang gila ya?” Mamo memulai obrolan di warung kopi.
“Orang gila kok bisa ikut di pengajian gitu.” Timpal temannya, Badrun sambil nyeruput kopi.

“Drun..sampeyan kan jago beladiri bukan?” Tanya Mamo.
“Jago sih gak, cuma lumayan pernah belajar karate, jadi tidak lagi pake jurus langkah seribu…hehe. Kenapa Mo? ” Tanya Badrun.

” Itu tadi…sampeyan, jika ingin berkah ilmunya harus dekat-dekat kyai, biar sekalian ngalap ilmu pesantren. Kalau kyai meninggal susah cari gantinya.” Imbuh Mamo.
” Yo wis…ntar kalau ajengan sudah sembuh, saya mengajukan jadi bodyguard nya.” Jawab Badrun.

Sementara mereka asyik ngobrol, di luar warung, terdengar anak-anak gaduh. Rupanya ada orang gila yang disoraki.
“Orang gila…orang gila…horee..” Teriak anak-anak seusia sekolah dasar.

Seorang laki laki berambut gimbal, pakaian kumal compang camping senyum-senyum sendiri sepanjang jalan. Dia mengambil apa saja yang ditemuinya. Jika ada kaleng bekas minuman, diambilnya dan dipukul-pukul. Berjoged dengan sorakan anak-anak.

“Drun…tuh ada orang gila, ayo keluarkan jurus karatemu!” Pinta Mamo.
“Lah wong edan…kalau saya hadapi orang gila kayak begitu, hilang akal warasku. Orang gila yang bener gila tidak akan mau masuk masjid…karena tahu dirinya gila tidak wajib shalat….haha” Jawab Badrun sambil menghabiskan air kopinya.***