Oleh: Rindoe Arrayah

   

Berdakwah merupakan kewajiban seluruh kaum Muslimin untuk mengajak manusia meniti jalan Ilahi Robbi. Namun, tidak selamanya jalan dakwah yang dilalui selalu mulus tanpa aral dan rintangan. Berbagai cara dilakukan oleh beberapa pihak yang tidak menginginkan risalah Islam menemui kebangkitan.

Beberapa waktu lalu, Kementerian Agama memunculkan program sertifikasi (standardisasi) para dai/penceramah di tanah air. Peristiwa ini langsung mendapat respon dari masyarakat. Setelah mendapat protes dan penolakan dari berbagai pihak, termasuk MUI, Kementerian Agama (Kemenag) RI mengganti judul program “Sertifikasi Da’i/Penceramah” menjadi “Da’i/Penceramah Bersertifikat”. Belakangan, program tersebut berganti tajuk lagi menjadi “Bimbingan Teknis Penceramah Bersertifikat”. Untuk pertama kalinya, Program Bimtek Penceramah Bersertifikat ini di-launching pada Jumat, 18/9/2020, dan dibuka langsung oleh Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi (Merdeka.com, 18/09/2020).

Meski berganti judul, substansinya tetaplah sama. Persis seperti dilontarkan oleh Menteri Agama RI Fachrul Razi pada rencana awal program ini. Sama-sama dilandasi motif “deradikalisasi”. Saat itu Menag menyatakan bahwa program Penceramah Bersertifikat dimaksudkan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme (Cnnindonesia, 03/09/2020).

Dakwah bukanlah profesi yang bertabur bunga, sanjungan dan bukan panggung yang dikelilingi oleh para fan yang membuat suasana gegap-gempita. Namun, sebuah aktifitas yang butuh keikhlasan, keistiqomahan dan kesabaran tanpa kenal batas.

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya kalian pasti diuji pada harta dan diri kalian. Dan sungguh, kalian akan mendengar dari ahli kitab sebelum kalian dan dari orang-orang musyrik gangguan amat banyak yang menyakitkan hati. Dan bila kalian bersabar dan bertakwa maka demikian itu termasuk urusan paling patut diutamakan.” (QS. Ali-Imron: 186)

Benar, apa yang dikatakan Imam Ahmad ketika ditanya putranya, “Kapan kita istirahat dari cobaan dan fitnah.” Beliau menjawab, “Bila kaki kita sudah menginjak pelataran surga. Sehingga, tidak pernah tidur nyenyak mata para pengecut.”

Itulah dakwah Islam yang merupakan suatu proses panjang menyeru manusia ke jalan Allah SWT. Menyeru manusia untuk mengambil Islam sebagai jalan hidupnya, serta menyeru manusia untuk meninggalkan jalan hidup yang tidak berasal dari Sang Pencipta. Jalan ini sangatlah mulia namun cukup menguras tenaga, pikiran dan harta. Jalan ini amat dicintai Pemilik Jagat Raya, sebab jalan ini adalah jalan para Nabi dan Rasul serta orang-orang sholih. Jalan inilah yang akan memudahkan pengembannya kelak menapakkan kaki di surga-Nya nanti.

Untuk itu, jangan lelah berdakwah. Tugas pengemban dakwah hanyalah menyampaikan dan terus menyampaikan kebenaran. Sedangkan, hidayah dan kemenangan dakwah kita serahkan seluruhnya kepada Allah SWT yang Maha Memberi Kemudahan. Kemenangan Islam telah tercatat di lauhul mahfudz. Para pengemban dakwah hanya wajib berdoa dan menyempurnakan ikhtiar untuk sampai pada kemenangan tersebut. Adapun halangan dan rintangan yang setia menghadang adalah sunnatullah. Para Nabi dan Rasul pun dahulu saat mengemban risalah-Nya tak sepi dari halangan dan tantangan.

Allah SWT telah mempersiapkan rute kemenangan untuk perjuangan ini. Pengemban dakwah wajib siap menelusuri rute kemenangan tanpa terpalingkan sedetikpun oleh berbagai godaan dunia yang secara alami akan terus ada. Hanya mereka yang terpilihlah yang takkan tumbang menapaki jalan warisan para Nabi dan Rasul ini. Hanya mereka yang siap berjual beli dijalan Allah SWT yang akan mampu menyongsong kemenangan hingga kemenangan itu tiba atau Allah SWT memanggilnya pulang dengan membawa pahala jariyah yang akan terus mengalir sebagai balasan kebaikan atas perjuangan serta berbagi pengorbanan yang telah dilakukan.

Sebagaimana firman Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111)

Sebuah transaksi yang sangat menggiurkan telah Allah SWT tawarkan kepada umat-Nya. Tak perlu muncul kata ragu. Teruslah melaju menyampaikan kebenaran Islam hingga mencapai titik kejayaan.

Wallahu a’alam bishshowab.