Oleh : Dien Kamilatunnisa

Tren Korean Pop (K-Pop) kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, ada harapan bahwa K-Pop mampu mendorong munculnya kreativitas anak muda Indonesia dan mempromosikan budaya bangsa ke dunia internasional ( tirto.id, 20/09/2020). Layakkah k-pop menjadi inspirasi bangsa agar go internasional?

Seiring berkembangnya zaman di era kebebasan, K-Pop menyuguhkan kehidupan glamor, modern dan memikat mata. Tentu saja hal ini karena budaya K-Pop didukung oleh pemerintahannya sehingga menghasilkan banyak devisa dan berkembang pesat pengaruhnya diberbagai negara.

Hanya saja dibalik hingga bingarnya industri K-Pop terdapat sisi kelam dalam kehidupan mereka. Pertama, girl band di Korea tidak hanya dituntut untuk menonjolkan kemampuan menyanyi dan menari. Tapi, ada juga dorongan untuk menampilkan konsep seksi baik dalam hal busana, lagu dan koreografi. Sisi seksualitas dapat dipastikan selalu laku dalam berbagai industri diera kebebasan.

Hal ini seringkali menjadi masalah dan mendatangkan kegelisahan pada personel band tersebut. Salah satunya grup band musik Stellar. Salah satu personel tersebut ketika usia 20 tahun dipaksa untuk melakukan adegan menumpahkan susu putih pada bagian dada yang kemudian ditonjolkan. Sampai sekarang, salah satu personel grup tersebut tidak bisa minum susu ( detik.com, 7/01/2020). Selain itu busana yang provokatif menjadi ciri khas dari girl band tersebut.

Kedua, tekanan mental dan kadang mengarah pada tindakan bunuh diri. Korea memang negara yang menduduki peringkat teratas pada kasus bunuh diri. Aksi bunuh diri di Korea bahkan menjadi penyumbang tertinggi ke-4 di Korea Selatan. Begitupun pada dunia K-Pop. Jika dilayar kaca mereka tampil ceria, romantis, dan wajah yang menawan. Namun tidak dapat dipungkiri ada sisi rapuh dalam jiwa mereka. Mereka akhirnya mengalami gangguan depresi dan pada beberapa kasus memilih jalan bunuh diri (detik.com, 3/04/2020).

Beberapa sisi kelam diatasi tentu menghadirkan pertanyaan, layakkah Korea menjadi inspirator negeri ini? Tentu saja tidak.

Indonesia adalah negara mayoritas muslim. Sementara, kebudayaan Korea banyak yang bertentangan dengan ajaran Islam. Budaya K-Pop menunjukkan adanya paham kebebasan sementara paham ini mengutamakan penghambaan pada materi dan popularitas dengan menghalalkan berbagai cara.

Oleh karena itu, alih-alih menjadikan budaya K-Pop sebagai inspirasi lebih baik negara memfokuskan pada penyelamatan aqidah generasi bangsa dari paham kebebasan. Karena paham kebebasan tidak akan menghasilkan peradaban mulia.

Sementara itu, aqidah Islam berasal dari sang Pencipta, Allah SWT. Bahkan, sudah terbukti bahwa hanya
menerapkan Islam kaffah saja umat Islam mampu membangun peradaban yang mulia dan tinggi. Peradaban Islam tidak akan menjadikan materi dan popularitas sebagai berhala yang membuat manusia menanggalkan fitrahnya. Tidakkah kita rindu akan peradaban Islam yang mulia, yang memanusiakan manusia?