Oleh: Ratih Yusdar

Mencari nafkah seyogiyanya adalah tugas dan tanggung jawab kewajiban seorang suami. Ada beberapa referensi tentang perkara boleh tidaknya seorang wanita bekerja di luar rumah kita dapat merujuk pada QS Al Ahzab ayat 33 yang menegaskan tentang perintah Allah SWT agar wanita muslimah lebih baik tinggal di rumah dan mengurus keluarga.  Dan dalam HR Bukhori Rasulullah SAW  pernah bersabda, “perempuan  itu mengatur dan bertanggung jawab atas urusan rumah suaminya.” Namun di lain hadist rasululullah SAW pernah berkata “sebaik baik canda seorang muslimah di rumahnya adalah bertenun”. Ini artinya bahwa perempuan juga diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang berarti.

Demikian juga belajar dari ummul mukminun  Siti Khadijah ra adalah seorang pedagang yang sukses. Dan menurut beberapa ulama bahwa  dalam Islam diperbolehkan juga perempuan bekerja di luar rumah namun harus sesuai dengan syarat dan ketentuan syar’i.  Karena untuk saat – saat tertentu tenaga wanita juga dibutuhkan seperti dalam bidang kedokteran, perawat guru dan juga sebagai peneliti serta lainnya.

Mirisnya dalam sistem kapitalis  tenaga wanita lebih banyak dipakai oleh banyak perusahan ketimbang tenaga pria.  Hal ini disebabkan karena upah tenaga wanita lebih murah dari tenaga pria.  Berdasarkan data yang diperoleh dari International Labour Organization (ILO) dan UN woman, perempuan memperoleh 77 sen dari setiap satu dolar yang diperoleh laki-laki untuk pekerjaan yang bernialai sama. Angka ini sudah dihitung dengan kesenjangan yang bahkan lebih besar bagi perempuan yang memiliki anak.  Kesenjangan ini memberi dampak negatif bagi perempuan dan keluarganya apalagi selama pandemi covid-19. Tapi kenapa wanita tetap harus bekerja? Hal ini disebabkan oleh faktor ekonomi yang mendesak yang mengharuskan wanita juga harus banting tulang dalam membantu suami mencai nafkah, juga disebabkan oleh bebeapa faktor lain.

Akankah ada kesetaraan gender dalam hal pemberian gaji atau upah terhadap tenaga kerja laki-laki dan perempuan?

Jangan pernah  berharap pada negara yang menganut kapitalis. Kapitalisme hanya mementingkan keuntungan bagi penguasa dan pengusaha. Karena sudah puluhan tahun sejak Indonesia merdeka dan hidup dalam demokrasi, tenaga wanita itu belum pernah dihargai sebagaimana layaknya memanusiakan perempuan. Mereka dibayar dengan upah yang lebih murah tanpa bisa membantah. Mereka terpaksa bekerja walau dengan gaji kecil karena kebutuhan ekonomi keluarga. Tenaga wanita juga sudah dianggap seperti robot pencetak uang tanpa mempertimbangkan kondisi ketahanan fisik mereka sehingga banyak yang harus bekerja shift siang sampai malam bahkan malam sampai pagi.

Kebutuhan kita akan tegaknya daulah Khilafah sangatlah dirindukan oleh para muslimah. Agar para muslimah baik yang bekerja di luar rumah  maupun yang  tinggal di rumah terjaga kehormatannya, keselamatannya, sehingga perempuan tidak dijadikan komoditi ekonomi yang hanya akan mengantarkan para perempuan-perempuan terutama muslimah dan generasi penerus jatuh ke dalam jurang kehancuran. Wallahu’alam Bisshowwab..