Oleh: Maman El Hakiem

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam kitab ” Nashaihul Ibad”, makalah ke tujuh belas menuturkan, ketika Ahnaf bin Qais ditanya tentang apakah pemberian Allah SWT terhadap hamba-Nya yang paling baik, dia menjawab: “akal gharizi”.

Yang dimaksud “akal gharizi” adalah akal yang bersifat pembawaan, yang memberi petunjuk kepada kebenaran secara alami. Fungsi akal berdasarkan hadis nabi, memberikan petunjuk(hudan) kepada pemiliknya dan menolaknya dari keburukan/kebatilan.

Syaikh Taqiyuddin an Nabhani dalam kitab “Nidzamul Islam” merinci naluri manusia salah satunya adalah gharizatu taddayun, yaitu naluri manusia yang membutuhkan petunjuk agama. Pemenuhan naluri ini tidak lain dengan aktifitas pencarian ilmu yang terus menerus sepanjang hayat. Karena petunjuk agama itu hanya dapat diraih dengan membuka tabir ilmu. Semakin manusia memahami hakikat ilmu dan dikaitkan dengan hakikat keberadaan dirinya hidup di dunia, akal akan mampu menyimpulkan hakikat hidup dan kehidupan.

Agama(dien) sebagai aturan kehidupan adalah “hudan” yang menjadikan ketundukan makhluk kepada al Khaliq. Karena itu naluri alami kebutuhan akan agama tidak bisa ditutupi, sekalipun manusia menghindari. Selagi akal manusia masih normal, mereka tidak bisa menolak keberadaan Allah SWT dalam kehidupannya.

Tetapi, ranah pemikiran manusia adalah pilihan yang membuatnya tunduk pada hukum Allah SWT atau memilih.hukum buatan manusia. Secara fitrah alamiah,memang akal memilih ketundukan pada jalan Allah, namun jika ada “penutup” dalam hatinya maka pilihannya adalah jalan kesesatan. Pemikiran cemerlang jika dilandasi akidah yang benar akan membuatnya meraih petunjuk hidayah. Sedangkan, pemikiran yang dikuasai hawa nafsu akan menjerumuskannya pada kesesatan(dhalalah).

Menjaga fitrah akal dari kebodohan dan kesesatan merupakan salah satu fungsi keberadaan negara. Tidak boleh negara membiarkan rakyatnya dalam kebodohan dan kesesatan. Akal manusia harus terjaga, hal-hal yang merusak akal harus dicegah, karenanya segala pemicunya seperti minuman keras dan segala tontonan yang merusak akal sehat harus dilarang. Jika ada sistem hukum yang masih membiarkan akal sehat manusia terganggu, itulah sistem batil, seperti sosialisme dan kapitalisme yang hanya berdasar hawa nafsu manusia, sudah pasti menyalahi fitrah akal gharizi, jauh dari petunjuk Allah SWT.

Wallahu’alam bish Shawwab.***