Oleh: Maman El Hakiem

Teman-teman Regi, seperti Mita dan Tania memang masih gadis bau kencur. Usianya baru belasan tahun, baru naik kelas delapan sekolah lanjutan tingkat pertama. Tetapi, penampilan dan gayanya ketularan demam Korea. Meskipun ketiganya berkerudung, tapi aksesoris di badannya hallyu banget. Mulai dari gelang, pin, tas hingga gantungan kunci full “BTS, EXO”. Itu lho band Korea yang digilai anak gaul di negeri ini.


Sebenarnya kreatifitas itu hal yang baik. Kegigihan orang-orang yang menjadi “idol” saat ini, jika diraih berdasarkan kemampuan prestasi layak ditiru. Tetapi, meniru bukan berarti menjiplak secara utuh nilai kepribadiannya. Banyak anak muda yang tertipu dengan penampilan, melihat para idol sekedar fisik atau saat tampil di depan kamera. Sementara sisi lain kehidupannya, terlebih spritualitasnya sering dilupakan. Inilah sisi kelam kehancuran generasi di masa depan


“Tas gue baru banget nih…K-Pop Lover tulisan asli Korea.” Kata Mita sambil memperlihatkan tas barunya, mereka bertiga teman sekelas.
“Jiee..bener nih asli dibeli online?” Tanya Regi penasaran. “Iya lah masa gak percaya…semuanya ori.” Jawab Mita dengan bangganya.


“Wah hebat ya…harganya pasti mahal tuh?” Timpal Tania yang semula cuek bebek, biasanya mereka kalau sudah ngobrolin K-Pop gak ada matinya. Apalagi jika boy band yang diobrolkannya, bukan saja penampilan di panggung, tetapi semua info medsosnya dipreteli. Sering juga lagu-lagunya dihapal, apalagi kalau idolnya itu main di drakor, sudah pasti terbawa perasaan paling dalam. Regi sampai hanyut dalam lautan air mata dan termehek-mehek.


Begitu dahsyat pengaruh seni peran bintang-bintang Korea, dunia terhipnotis tak terkecuali sosok orang nomer dua di negeri ini sampai menyuruh anak mudanya meniru budaya mereka. “Ter-la-lu…” Kalau saja Bang Haji dimintai komentarnya.


“Menurutmu Tania, tas baruku ini kira-kira berapa harganya?” Tanya Mita. “Kalau sekedar nebak..seratus ribu dapatlah..hehe.” Jawab Tania sekenanya. “Wah payah nih tidak update merek, sudah pasti lebih dari itu…nambah dikit” Timpal Regi sambil mengedipkan matanya pada Mita. Mereka memang teman yang cukup kocak, sering bercanda setiap jalan bareng.


Tak terasa jika dibawa ngobrol, perjalanan ke sekolah terasa sekejap. Tiba-tiba ada yang menyapa Mita dari belakang, ternyata Bu Guru Yuna.
“Selamat pagi…Mita, Regi dan Tania. Senang sekali ibu melihat kalian kompak. Duh..Mita tas barunya sudah dipakai nih?” Tanya Bu Yuna, namun Mita tidak segera menjawabnya.

Wajahnya malah agak memerah padam seperti menyimpan rasa malu. “Iyyya….bu, selamat pagi…duh gawat Bu Yuna, kemarin ketemu di pasar.” Jawabnya pelan dan perasaan hatinya tidak menentu.


“Ibu juga kemarin ingin beli tas itu buat anak di rumah…tapi di pasar sudah habis stoknya.” Kata Bu Yuna membuat perasaan Mita serasa diblender, pede dan malu campur baur. “Ehm..ehmm…serius ori lho” Bisik Regi sambil berdehem. Sungguh kata-kata yang membuat dunia berhenti sejenak.***