Oleh : Hervilorra Eldira

“Maraknya budaya K-pop diharapkan juga dapat menginspirasi munculnya kreativitas anak muda Indonesia dalam berkreasi dan mengenalkan keragaman budaya Indonesia ke luar negeri,” kata Ma’ruf Amin dalam keterangannya untuk peringatan 100 tahun kedatangan orang Korea di Indonesia, Ahad (Tirto.co, 20/9/2020).
Pernyataan beliau menuai banyak respon beragam dari berbagai kalangan. Mulai dari pecinta Korean Pop atau K-Pop yang sudah dipastikan sepakat atasnya sampai para pelaku industri hiburan tanah air. Seperti yang diutarakan oleh salah satu musisi senior Indonesia dan pentolan Band Dewa-19, Ahmad Dhani. Dhani menyebut musisi Indonesia jauh lebih berkualitas ketimbang artis K-Pop dan tentu lebih kreatif. Menurutnya, yang dibutuhkan musisi Indonesia saat ini ialah dukungan dari pemerintah.(Detik.co)

Menurut Kaori Nusantara, Indonesia menjadi negara nomor dua dengan gelombang korean wave terbesar di dunia. Indonesia hanya kalah dari Korea Selatan, negara asalnya. Korean Wave atau Hallyu ternyata bukan terjadi di Indonesia saja. Di bawah Indonesia ada Thailand, Vietnam, Amerika Serikat dan Jepang. Indonesia juga berhasil jadi pasar yang menggiurkan buat seniman Korea. Sampai Agustus 2019 saja, lebih dari 10 kali konser K-Pop di Indonesia. Belum ditambah TV Swasta yang juga menghadirkan bintang K-Pop di perayaan ulang tahunnya. Tak ketinggalan situs ecommerce Shopee dan perusahaan startup teknologi Ruangguru juga melakukan hal yang sama.
Korea Selatan memang telah berhasil meng’ekspansi’ hampir sebagian Negara-negara di dunia untuk menyukai kebudayaannya. Berbagai produk Korean Wave seperti musik (K-pop), drama (K-drama), film (K-film), fesyen (K-fashion), makanan (K-food) dan kecantikan (K-beauty) dari Negara Gingseng tersebut telah mendunia. Komunitas pecinta Korea inipun menjamur dan menjadi trend.

Hubungan Indonesia dan Korea Selatan juga mengalami peningkatan signifikan setelah ditandatanganinya Joint Declaration on Strategic Partnership oleh Presiden Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Korea Selatan ke-9, Roh Moo Hyun, pada tanggal 4 Desember 2006 di Jakarta (KBRI Seoul, 2014). Deklarasi ini bertujuan mempromosikan persahabatan dan kerjasama kedua negara pada abad 21 khususnya untuk tiga pilar kerjasama di bidang politik dan keamanan, ekonomi, sosial budaya. Dalam bidang sosial budaya. Kedua negara aktif menyelenggarakan berbagai promosi budaya seperti Korea Indonesia Festival (2014), Korea-Indonesia Film Festival (2014), Korea-Indonesia Week Festival (2014), Jakarta Seoul Festival (2015) dan Indonesia Preliminary K-pop World Festival (2016).
Namun, jika kita melihat lebih dalam tentang gaya hidup masyarakat Korea maka akan mendapatkan gambaran yang tak seindah dramanya. Fakta bahwa Korea menjadi salah satu Negara dengan angka bunuh diri tertinggi tidak berbanding lurus dengan kesuksesan ‘ekspansi’ budayanya.

Menurut WHO, angka bunuh diri di Korea Selatan termasuk ke dalam 10 besar terbesar di dunia. Beberapa diantara alasannya adalah karena kesenjangan status sosial ekonomi, tingkat persaingan yang tinggi, Cyberbullying dan ada juga yang berpendapat bahwa bunuh diri menjadi solusi masalah tercepat. Menurut laporan Kementrian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan, metode yang paling sering digunakan adalah racun karbon monoksida dan lompat dari jembatan tinggi. Jembatan Sapo di Seoul bahkan dijuluki sebagai Jembatan Maut karena banyaknya orang yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari sisi jembatan. Kini, angka rata-ratanya mencapai 26.9 kematian per 100.000 penduduk.

Kerapuhan cara pandang kehidupan yang melihat bunuh diri sebagai solusi atas permasalahan kehidupan memberikan bukti begitu rapuhnya kepemimpinan berfikir (kiyadah fikriyah) masyarakatnya. Ide kebebasan berakidah, berekonomi, bertingkah laku dan mengeluarkan pendapat sebagai manifestasi dari ideologi Kapitalisme yang dianut Korea menghasilnya standart kebahagian hanya bertumpu pada kepuasan materi (jasadiyah) semata. Sehingga kosong akan makna hidup sesungguhnya dan kehilangan kabahagiaan ketika materi yang dicita-citakan tidak bisa didapatkan.

Berbeda dengan Islam yang memiliki gambaran yang menyeluruh (shamil) dan sempurna (kamil) tentang bagaimana memandang kehidupan dunia dan apa arti kebahagiaan yang hakiki. Bahwa kehidupan dunia adalah bagian yang tak terpisahkan dari apa yang ada sebelum kehidupan dunia (penciptaan) dan apa yang ada sesudah kehidupan dunia (akherat). Dunia hanyalah sementara, namun perbuatan yang ada di dunia akan menentukan kehidupan setelahnya yaitu akherat. Maka seorang muslim yang cerdas tidak akan menyia-nyiakan kehidupan dunianya hanya untuk mencari kesenangan belaka. Dia akan sekuat tenaga berusaha agar kehidupannya berarti. Melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Rabbnya Sang Pemilik alam semesta. Dan sebisa mungkin menjauhi apa yang dilarang.
Seorang muslim melakukan perbuatan yang terikat pada SyariatNya atas landasan iman sehingga bernilai ibadah. Sedang Syari’atnya yang dibuat oleh Pencipta manusia, Allah SWT adalah aturan terbaik yang tak akan pernah disamai oleh aturan buatan manusia, sejenius apapun dia. Inilah yang akan membawa Rahmat bagi semesta alam karena dunia diatur oleh aturan Sang pembuatnya.

Hal ini pulalah yang akan membuat seorang muslim tidak gampang terguncang ketika ditimpa permasalahan hidup. Memandang bahwa permasalahan hidup hanyalah ujian agar ketaqwaannya semakin meningkat. Dunia hanyalah tempat beramal dan diuji, dan memahami bahwa kenikmatan hakiki adalah ketika kelak di surga.
Wallahu a’lam.