Oleh: Sonia Padilah Riski

Daerah pertama di Kalimantan Barat yang diperkirakan menerima sentuhan agama Islam adalah Pontianak, Matan, dan Mempawah. Islam masuk ke daerah-daerah ini diperkirakan antara tahun 1741, 1743 dan 1750.

Pada abad ke 18 M, Kesultanan Turki Utsmani (Ottoman) merupakan kekaisaran yang disegani di dunia. Negara adidaya tersebut memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menyebarkan ajaran Islam ke seluruh pelosok dunia.

Islam masuk di Kalimantan Barat, dibawa oleh juru dakwah dari Negeri Arab. Beliau adalah Sayyid Habib Husein Al-Kadri, seorang keturunan Arab yang telah menjadi warga Matan. Sayyid Habib Husein Al-Kadri menjadi ulama terkenal di Kerajaan Matan hampir selama 20 tahun. Beliau pun membantu Opu Daeng Manambon (Raja Kerajaan Mempawah) dalam menyebarkan Islam di Mempawah, Kalimantan Barat.

Pada tahun 1778 M, Syarif Abdurrahman Al-Kadri (putra Habib Husein Al-Kadri) bersama para kader dakwah lainnya mendirikan Kesultanan Kadriyah di Pontianak yang juga bermaksud menyebarkan Islam di bumi melayu. Pada masanya, kerajaan-kerajaan di semenanjung tidak hanya ingin Sultan Syarif Abdurrahman menjadi figur atau ulama, tetapi juga mendorong agar ia menjadi sultan (pemimpin muslim) di negeri baru, yang akarnya adalah syariat Islam.

Penyebaran Islam di Nusantara tak luput dari peran Kekhilafahan islamiyah sebagai penjaga utama kaum muslim di seluruh dunia. Penyebaran Islam di Nusantara dilakukan sejak masa Kekhilafahan Abbasiyah. Semenjak Pusat Dinasti Abbasiyah pindah ke Mesir dan menjadi magnet kaum muslimin global, dakwah Islam kembali digencarkan dan mengencangkan aktivitasnya dengan mengirim juru dakwah ke seluruh penjuru alam.

Kerajaan Samudera Pasai yang menjadi kerajaan berkuasa di nusantara pada kala itu. Samudera Pasai mendaulat dirinya sebagai darul islam yang berbaiat pada khalifah. Samudera Pasai mengemban tugas untuk mengubah seluruh Asia Tenggara dari Darul Kufri menjadi Darul Islam.

Ada hubungan erat kala itu, dimana hal ini di ungkap oleh pemerhati sejarah kesultanan sekaligus sekretaris Sultan Pontianak IX, Muhammad Donny Iswara, mengungkapkan bahwa lambang bulan bintang yang terdapat pada pintu masuk Istana Kadriyah merupakan simbol adanya hubungan historis antara Kesultanan Utsmaniyah dengan Kesultanan Pontianak.

Di antara keduanya memiliki lambang serupa, yakni bulan dan bintang. Bahkan hubungan antara keduanya semakin erat dengan dikirimkannya ulama dari Turki yang bernama Syekh Mahmoud Syarwani ke wilayah kesultanan Pontianak untuk menyebarkan risalah Islam atau syari’at Islam.

Untuk itu, tidak bisa kita pungkiri tegaknya syariat Islam tidak lepas dari keberadaan penguasa kaum muslim yang menerapkan hukum Islam, menjaga akidah Islam, melindungi kepentingan umat Islam dan melakukan dakwah Islam. Penguasa muslim pada dasarnya menjaga kaum muslim dan membela mereka dari berbagai pihak yang mencoba mengganggu eksistensi serta memelihara kaum muslim sedunia.

Bahkan risalah Islam bisa tiba di Nusantara bahkan di seluruh penjuru dunia, karena adanya institusi yang mengemban dakwah Islam. Institusi itu bernama khilafah islamiyah. Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam.

Professor Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dalam Mu’jam Lughat al-Fuqaha’ menyebut sistem pemerintahan Islam adalah Al-Khilafah, yang diistilahkan pula sebagai Al-Imamah Al Kubra (Kepemimpinan Agung). Kepemimpinan ini bukan sembarang kepemimpinan tetapi pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama Islam dan mengatur urusan dunia dengan Islam. Ini antara lain ditegaskan oleh Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah, Imam Al-Haramain al-Juwaini dalam Ghiyats Al-Umam, Ibnu Khaldun dalam Al Muqaddimmah, Al-Imamah Al-Uzhma ‘inda ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah.

Sumber:

Agustin Pratiwi. Jejak Kekhilafahan di Bumi Melayu. berandaislam.com 20/09/20.

Perkembangan Islam di Kalimantan Barat. kalbariana.web.id. 09/02/11

Dr. Maman,Kh. Jejak Khilafah di Nusantara. Muslimahnews.com. 03/03/18